
Judul Buku : Binâ Al-Îmân Min Khilâl Al-Qurân
Penulis : Dr. Majdi Al-Hilali
Penerbit : Muassasah Iqra, Cairo; cet. I; th. 2001
Tebal : 167 halaman
Resensator : Jamaluddin
“Carilah manisnya buah keimanan dalam salat, dzikir, dan Alquranâ€Â
(Imam Hasan Al-Basri )
Iman merupakan kekuatan spiritual setiap muslim. Ia adalah motor penggerak setiap kebaikan, yang mampu memancarkan kejernihan akal, hati, dan pikiran. Ia adalah aset paling berharga yang senantiasa harus dijaga dan dipelihara, agar terus berada nyaman dan tenteram dalam hati.
Hati adalah sentral keimanan dan hawa nafsu. Keduanya mempunyai karakter yang bertentangan. Karenanya, iman dan hawa nafsu ini selalu mencari celah untuk bisa memasuki ruang hati. Ketika kekuatan iman yang menguasai ruang ini, maka kekuatan hawa nafsu melemah. Begitu pun sebaliknya. Pergulatan keduanyalah yang menyebabkan turun-naiknya keimanan.
Kenikmatan iman merupakan kenikmatan di atas kenikmatan. Orang yang Ketika kebanyakan orang menganggap harta, tahta, dan wanita merupakan surga dunia, maka surga dunia baginya adalah ketika ia mampu memenuhi panggilan Kekasihnya, Allah Swt. Orang ini bisa merasakan kenikmatan hidupnya ketika ia berhadapan dengan Kekasihnya tadi. Ketika keningnya tersungkur di atas sajadah, air matanya berlinang tatkala mendengar senandung ayat-ayat suci Alquran dan ketika ia melakukan muhasabah amal perbuatannya. Hatinya selalu hidup, peka dan respon atas segala musibah yang menimpa saudara-saudaranya seakidah.
Kekuatan iman ini tidaklah muncul dengan sendirinya, tapi perlu dibangun dan dibina. Ia memerlukan perhatian yang penuh dari pemiliknya. Ketika pemiliknya lalai, kekuatan iman bisa kalah oleh kekuatan hawa nafsu.
Di sini, perlu dicari solusi kongkret untuk memberikan ruang nyaman bagi iman dalam hati. Karena ibadah apapun yang dilakukan seseorang, bila yang mengendalikan hatinya adalah hawa nafsu, sia-sialah ibadah tersebut. Seperti jasad tanpa ruh, raga tanpa jiwa.
Sebagai bukti, mari kita perhatikan realitas. Bukankah kebanyakan umat Islam ini selalu salat lima waktu, berbondong-bondong melaksanakan ibadah haji dan umrah, berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan seperti membaca Alquran, zikir, dan sebagainya? Tapi hal itu ternyata belum mampu meminimalisasi kemaksiatan yang selalu diperbuat. Ia terus berjalan, bahkan semakin semarak dan menjadi hal yang lumrah di mana-mana. Dalam arti, ibadah-ibadah tadi tidak begitu berpengaruh dalam mengubah tingkah laku secara pribadi dan tataran masyarakat secara kolektif, hingga pada akhirnya terjadi jarak pemisah antara ilmu dan amal, perkataan dan perbuatan. Jadi, di manakah peran iman dalam hal ini? Bukankah amal tadi sia-sia? Apakah hakikat keimanan yang sebenarnya?
Bagaimanakah menambah ruh keimanan dengan ketaatan yang sebenarnya? Kemudian sejauh manakah peran Alquran dalam membina keimanan? Dr. Majdi Al-Hilali, dengan bukunya Binâ‘ Al-Îmân min Khilâl Al-Qurân, mencoba memberikan penyegaran dan jawaban atas semua pertanyaan di atas. Buku yang baru diluncurkan ini adalah rangkaian baru dari dua bukunya yang masyhur: Al-Îmân Awwalan dan Al-‘Audah ilâ Al-Qurân.
Bagi Anda yang pernah membaca dua buku ini, akan lebih mudah untuk memahami maksud tulisan dari buku barunya ini. Namun, tidak menyulitkan pula bagi yang hanya membaca buku ini langsung. Karena gaya bahasa yang mudah dan sistematika tulisan yang rapi, serta muatan isi yang mudah dicerna adalah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh tulisan-tulisan Dr. Majdi Al-Hilali.
Buku yang beliau tulis ini, lebih banyak menyinggung aktualisasi dan aplikasi dari rukun iman itu sendiri. Karenanya, pembaca akan menemukan contoh-contoh untuk merefleksikan rukun iman dalam kehidupannya sehari-hari.
Secara garis besar, buku ini terbagi ke dalam lima bab pembahasan: Pertama, hakikat keimanan. Dalam bab ini, beliau memaparkan konsep-konsep keimanan, urgensi serta buah dari keimanan, juga pergulatan antara keimanan dengan hawa nafsu. Beliau pun menekankan dalam bab ini tentang pentingnya tadzkîr sebelum taujîh. Adapun maksud dari kedua istilah ini, Anda bisa lihat di bukunya langsung.
Kedua, menambah keimanan dengan ketaatan. Standardisasi, interes keimanan adalah bahasan pokok dalam bab ini. Selain itu, ada munthalaq yang pertama kali harus dilakukan seorang muslim dalam menambah keimanan, yaitu membangkitkan keimanan terlebih dahulu.
Ketiga, Alquran dan perannya dalam mengokohkan dasar-dasar kaidah keiamanan, yang terdiri dari pembahasan berikut: Alquran dan ugensinya dalam menambah keimanan, kiat-kiat praktis dalam menempuh kekokohan akidah melalui Alquran, seperti memperbanyak bacaan Alquran dan memahami kandungan isinya, adanya kesiapan pikiran dan hati, serta tartil dalam membacanya.
ÂÂ
Keempat, pembahasan sentral, yaitu kiat-kiat praktis membangun keimanan dengan Alquran. Inti dari ulasan bab ini adalah, pentingnya kembali kepada Alquran untuk mempelajari lebih dalam pembinanan akidah yang menyatukan keyakinan ‘aqliyah dan keimanan qalbiyah, dengan mengaca pada perjalanan salafussaleh yang telah mengukir nilai-nilai akidah Islam dalam kalbunya.
Kelima, model-model pembangunan keimanan dengan Alquran. Di sini beliau gambarkan rukun-rukun iman yang hidup, rukun-rukun yang dibangun atas kelembutan Alquran, rukun iman yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dan bila contoh-contoh ini (sebagaimana pesan penulis) dilaksanakan, maka insya Allah akan memberian pengaruh yang sangat besar dalam perilaku orang tersebut dalam kehidupan dan tidak ada lagi jembatan pemisah antara ilmu dan amal, perkataan dan perbuatan. Wallâhu A‘lam bish-shawab.(Sinai Online, 20/04/06,IC)

Tahun 1924 dengan berlatar belakang pada berdirinya organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, ...
Gerakan Pemuda Ansor (disingkat GP Ansor) adalah sebuah organisasi kemasyaratan pemuda di Indonesia, yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi ini didirikan pada tanggal 24 April 1934. GP Ansor juga mengelola Barisan Ansor Serbaguna (Banser). GP Ansor merupakan salah satu organisasi terbesar dan memiliki jaringan terluas di Indonesia, dimana memiliki akar hingga tingkat desa.

