.bmp)
Judul buku : Education Games
Penulis       : Andang Ismail
Penerbit    : Pilar Media Yogyakarta
Cetakan    : pertama, 2006
Tebal       : 348 halaman
Peresensi   : Achmad Hasan MS, adalah Pemerhati anak-anak, Tinggal di Krapyak Jogjakarta.
Siapapun orang tua pasti merasa senang dan bangga apabila memiliki anak yang cerdas, tangkas dan trengginas. Namun, memiliki anak seperti kriteria tersebut tidaklah mudah seperti membalikkan kedua telapak tangan. Karena itu, diperlukan banyak tips tertentu agar tercapai apa yang kita harapkan.
Bukuâ€ÂEducation Games†yang ditulis oleh Andang Ismail ini adalah kiat-kiat mewujudkan anak agar cerdas dan ceria. Dalam buku ini penulis mengungkap “keajaiban†seorang anak. Bahwasanya anak memiliki potensi dasar (fitrah) yang akan bisa berkembang manakala diasah dan diasuh oleh orang tua dengan baik. Anak adalah laksana cermin bening yang tidak kotor sedikitpun, yang dapat memantulkan cahaya dengan terang dan jelas.
Pada dasarnya anak memiliki fithrah yaitu cenderung suka permainan. Atau istilah populernya adalah dunia anak adalah dunia bermain. Dr. Asma Hasan Fahmi dalam penelitiannya menegaskan bahwasanya permainan merupakan satu hal yang penting bagi perkembangan intelegensi dan fisik motorik (jasmaniah) anak. Dengan bermain, anak memperoleh pelajaran yang mengandung aspek perkembangan kognitif, sosial, emosi, dan perkembangan fisik. Melalui kegiatan bermain dengan berbagai permainan, anak dirangsang untuk berkembang secara umum, baik perkembangan berfikir, emosi maupun sosial.
Begitu pentingnya bermain bagi seorang anak, imam Ghazali memberikan komentar-bermain-main bagi seorang anak sesuatu yang sangat penting, sebab melarangnya dari bermain-main seraya memaksanya untuk belajar terus menerus dapat mematikan hatinya, mengganggu kecerdasanya, dan merusak irama hidupnya.(hal.3)
Bahkan lebih luas lagi, Dr. Zakiah Darajat mengklasifikasikan mengenai pentingnya bermain bagi seorang anak yang memiliki fungsi berikut. Pertama, sebagai alat pendidikan. Dengan bermain secara alamiah ia akan menemukan dan mengenali lingkungannya, orang lain dan dirinnya sendiri. Kedua, sebagai alat perawatan. Permainan merupakan salah satu alat untuk merawat anak-anak yang mengalami gangguan kejiwaan, hal ini karena permainan lebih mendekati dimensi kejiwaan anak-anak.dalam bermain tersebut, mereka dapat mengungkapkan pertentangan bathin, kecemasan, dan ketakutannya. Sebagaimana dalam mazhab psikoanalisis yang menyatakan bahwasanya-permainan merupakan alat penyingkap “alam bawah sadarâ€Â(uncounsciousness), pelega emosi, dan penafsir kelakuan anak-anak. Bermain merupakan sarana belajar yang menyangkut unsur afeksi, kognisi dan psikomotorik.
Dalam proses bermain ini, seorang anak memiliki tahap-tahap perkembangan sesuai dengan usia mereka. Sebagai sekadar contoh, Elizabeth B. Hurloch-dalam buku ini-mengemukakan tahapan-tahapan perkembangan bermain dari anak-anak. Pertama, tahap penjelajahan. Ciri utama dari tahap ini adalah anak mulai berusaha menjangkau atau meraih benda yang ada disekelilingnya, lalu mengamatinya. Hal ini dimulai bayi sejak berumur tiga bulan. Kedua, tahap mainan. Dimulai pada usia 5-6 tahun, pada masa ini anak mengeksplorasikan mainannya. Ia belajar bergerak, berbicara, dan merasakan benda-benda yang ada disekelilingnya.
Ketiga, tahap bermain Dimulai dari usia masuk sekolah(6 tahun), pada masa ini anak mulai berinteraksi dengan teman dalam berolahraga, hobi dan bentuk permainan semacamnya .keempat, tahap melamun, semakin mendekati masa puber, seorang anak mulai kehilangan minat dalam permainan. Dan inilah yang disebut dengan memasuki usia remaja.
Hemat penulis, sesungguhnya bermain adalah dunia anak-anak yang begitu penting dalam poses perkembangan kepribadian mereka. Melalui bermain -lanjut penulis-anak-anak belajar tentang kehidupannya, melatih keberanian, menumbuhkan rasa percaya diri dan mempersiapkan masa depan mereka. Karena itu, sebuah kesadaran penting bagi orang tua maupun guru agar mendidik anak-anak secara tepat sejak usia dini.
Namun mendidik anak bagi penulis-hendaknya diarahkan pada permainan edukatif yang memuat unsur moral-agama, etika, fisik motorik, kognisi, bahasa dan seni. Permainan edukatif ini -lanjut penulis- bisa berbentuk permainan tradisional sebagimana yang terjadi di pedesaan umumnya seperti ciluk ba, petak umpat, bermain kelereng, pasaran, lompat tali dan beberapa permainan sejenisnya. Atau bisa juga berbentuk permainan modern seperti mobil-mobilan, robot, puzzle, play station dan sejenisnya.
Maka dari itu, sesungguhnya apapun bentuk dan jenis permainan memiliki muatan pendidikan bagi anak. Selain mendapatkan hiburan, kesenangan, namun juga bermanfaat bagi kemampuan fisik-motorik, sosial-emosional dan kecerdasan secara universal. (IC)

Tahun 1924 dengan berlatar belakang pada berdirinya organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, ...
Gerakan Pemuda Ansor (disingkat GP Ansor) adalah sebuah organisasi kemasyaratan pemuda di Indonesia, yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi ini didirikan pada tanggal 24 April 1934. GP Ansor juga mengelola Barisan Ansor Serbaguna (Banser). GP Ansor merupakan salah satu organisasi terbesar dan memiliki jaringan terluas di Indonesia, dimana memiliki akar hingga tingkat desa.

