Judul buku : Jogja, 5.9 Skala Richter
Penulis : Afrizal Malna dkk
Penerbit : Bentang Yogyakarta
Cetakan : 1, September 2006
Tebal : xxii + 157 halaman
Peresensi : A. Musthafa, Pustakawan The Independent Institute Semarang.
Sejatinya, kesedihan sulit sekali diwakili oleh kata dan sederet aksara. Tetapi pelukisan itu bukan berarti harus kita hindari. Sebagai keprihatinan paling sederhana, kata dan sederet aksara tetap memberikan setetes makna. Kata memang tidak memberikan materi yang berharga , tetapi paling tidak menjadi refleksi dan renungan bersama. Bahkan refleksi suatu saat akan sangat berharga untuk mengenang dan menggugah sadar diri manusia. Walaupun kata dan deretan aksara kerap kali terlambat, akan tetap lebih baik dari pada sama sekali.
Kesadaran itulah yang tercermin dalam antologi puisi “Jogja, 5.9 Skala Richter”. Inilah buku ala kadarnya yang dapat diberikan para penyair terhadap Jogja. Sungguh, mereka hampir tak percaya. Jogja, sebuah kota yang tenang dan santun, tiba-tiba diguncang gempa berkekuatan 5.9 dalam skala richter. Saat itu subuh baru saja berlalu. Fajar semburat muda. Namun Sabtu, 27 Mei 2006 itu, bencana telah mengubah paras anggun Jogja dalam 57 detik saja. Segalayang tertib mendadak poranda. Suasan tenang tercabik jerit ketakutan, rasa ngeri yang tak terperi. Kecemasan berminggu-minggu terhadap ancaman lava Gunung Merapi membuat banyak orang salah sangka. Justru lempeng sepasang benua nun didasar lautan yang menggeliat, bergerak saling menyesuaikan diri, menjadi episentrum yang menyebabkan sekian ribu rumah runtuh serentak. Dibawah bangunan yang terserak, penghuninya nyaris tak sempat menyelamatkan diri. Bebeerap hari kemudian tercatat lebih enam ribu orang tewas sebagai korban.
Dukalara inilah yang menggelitik Komunitas Sastra Indonesia (KSI) dan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) dengan kerjasama Penerbit Bentang Pustaka untuk menggelar sumbangan berupa puisi yang honor royaltinyanya nanti diberikan kepada korban gempa. Para penyair Nusantarpun sangat antusias. Yang terkumpul dalam antologi ini tidak hanya dari Jogja, tetapi juga Surabaya, Malang, Bandung, Jakarta, Semarang, bahkan smapai liar Jawa, seperti Lampung, Padang, Mataram, Medan, Denpasar, bahkan juga ada yang dari Jeddah, Arab Saudi.
Empasti para penyair Nusantara tersebut mengindikasikan bahwa Jogja adalah milik bersama. Mereka menjadi saksi bahwa Jogja memang daerah istimewa. Budaya bangsa masih terjaga dan dilestarikan. Dan di Jogja inilah para penyair, sastrawan, pemikir, politisi, dan tokoh bangsa lahir. Sebuah nilai kesejarahan yang akan terus tertancap dalam sanubari kemanusiaan.
Semua penyair bersepakat bahwa luka lara itu adalah luka bersama. Sajak Donny Anggoro memberikan spirit tentang itu. Sementara Eka Budianta dalam sajak Kalau Bukan Penyair, lalu Siapa? menyiratkan bahwa penyair, dengan deret kata yang bersahaja, adalah yang akan mewariskan peristiwa tersebut kepada generasi mendatang. Goresan kata-kata dalam antologi ini akan menjadi kenangan dan refleksi paling mendalam anak bangsa, bahkan oleh para penyir sendiri yang kelak mungkin akan lupa. Lebih gagah lagi Afrizal Malna dalam sajaknya Surat dari Jogja melihat bahwa Jogja akan menjadi sejarah paling mengharukan bangsa. Dia menulis ” Kotamu nanti bakal menjelma plaza raksasa”. Spirit sajak Afrizal menginginkan agar Jogja cepat bangkit menggapai plaza raksasa.
Dengan bencana, Jogja mungkin akan menjadi kota pertama di Jawa yang paling siap untuk berubah. “Banyak yang terasa musnah, atau barangkali kita saja yang gagap untuk berubah, seakan hidup miskin adalah berkah” begitu Afrizal melanjutkan.
Spirit Jogja bangkit yang tertancap juga ditunjukkan Sindu Putra (Mataram). Penyair ini ini ingin membaca kembali peradaban Indonesia lewat lorong Jogja. Karena Jogjalah yang paling siap menyongsong peradaban modern diera globalisasi sekarang. Dia menulis “aku ke Djogdjakarta, untuk membaca lagi burung-burung, meski tanpa sebutir warna disayapnya, mendirikan gunung abu, dengan kubah lava matahari”. Walaupun artefak dan peninggalan banyak yang porak-poranda, tetapi justru itulah spirit untuk merapatkan barisan menggapai kemerdekaan dan kehormatan sebagaimana sajaknya Sitor Situmorang.
Dalam sajak Ke Yogya, Saut menilai gempa sebagai gendrang untuk memukulkan spirit solidaritas kebangsaan. “Hentakkan kaki barisan berderap, juga piatu nanti akan mendekap, yang hilang ruah akan punya kemerdekaan, yang hilang semua akan punya kehormatan”, begitu spirit Saut.
Semua penyair dalam antologi ini hadir sebagai sebagai saudara sejati. Saudara sejati akan terus mendekap saudara dalam keadaan apapun juga. Tak akan lepas oleh gelombang waktu dan masa. Solidaritas inilah yang akan terus dibutuhkan bangsa di masa depan. Solidaritas saling menjaga, mengasihi, mendekap, dan merangkul dalam setia suka dan duka. (IC)

Tahun 1924 dengan berlatar belakang pada berdirinya organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, ...
Gerakan Pemuda Ansor (disingkat GP Ansor) adalah sebuah organisasi kemasyaratan pemuda di Indonesia, yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi ini didirikan pada tanggal 24 April 1934. GP Ansor juga mengelola Barisan Ansor Serbaguna (Banser). GP Ansor merupakan salah satu organisasi terbesar dan memiliki jaringan terluas di Indonesia, dimana memiliki akar hingga tingkat desa.

