
Judul buku : Life Excellent
Penulis : Reza M. Syarief
Penerbit : Prestasi, Jakarta
Cetakan I : 2007
Tebal : xii+280 hlm
Peresensi : Fathor Rasyid, Alumni PP Lapang, Ambunten, Sumenep, Madura.
ÂÂ
Mencapai puncak kesuksesan tidak semudah membalikan telapak tangan. Melainkan sejauh mana kesungguhan dan kegigihan seseorang melakukan apa yang diinginkannya. Sukses di sini tidak hanya dalam arti pencapaian materi, tapi lebih-lebih pada kekokohan diri, hingga menjadi manusia unggul, menusia yang memiliki etos kerja dan mintalitas yang tinggi. Makanya tidak diherankan jika ada seseorang yang katanya dianggap suksek, dengan begitu mudahnya runtuh dan tercampakkan.
Dari itulah Reza M Syarief, dalam buku ini, menjembatani al-Qur’an sebagai jalan menuju manusia unggul atau mencapai puncak kesuksesan sejati. Sebab Syarief sadar, betapa umat Muslim saat ini menghadapi puncak kemunduran, karena pemahaman nihilisme yang selalu dijadikan dasar dalam berusaha mencapai sesuatu. Apalagi diera globalisasi ini, umat Muslim dihadapkan dengan bebagai tantangan besar, dimana persaiangan bebas menjadi salah satu ciri yang akan Membunuh siapa saja yang belum siap menghadapi tantangan global. Kiranya hal ini akan menambah suram nasib umat Muslim jika tidak ada niat dan kesungguhan dalam menghadapi tantangan global.
Kesalahan mendasar pada umat Muslim saat ini adalah, fatalistik konsep keâ€Âpasrahâ€Âan ang terlalu mendominasi, sehingga sikap menerima tampa usaha menjadi tradisi yang tak pernah pupus disepanjang sejarah kemunduran Islam. Padahal konsep “pasrah†sendiri adalah ketika kita telah melampaui proses ikhtiar (Usaha). Seperti dalam sebuah riwayat diceritakan, bagaimana ketika Rosulullah menegur seorang jamaah yang menaruh unta tetapi tidak diikatkan kesebuah tiang. Lalu ditegur oleh Rosulullah, “Bagaimana Anda bisa membiarkan unta anda tanpa diikat?†Orang itu menjawab, “Ya Rosulullah, saya tawakal. Kalau memang sudah takdirnya hilang ya hilang saja, silahkan. Tapi kalau masih rezeki saya, tentu unta itu ada.†Rosullah mebantah argumen orang itu, “bukan begitu yang dimaksud dengan tawakal. Anda ikat dengan kencang baru setelah itu anda tawakal.†(hlm, 1)
Pasrah pada sejatinya merupakan penguatan diri untuk selalu berusaha dengan gigih tanpa henti dalam meraih apa yang diinginkan. Sebab yang dikedepankan dalam sikap pasrah adalah optimisme dalam berusaha dan menerima dari hasil usahanya, baik itu memuaskan atau tidak.
ÂÂ
Jantung Islam
Kegamangan umat Muslim inilah yang memancing Syarif untuk menguak kembali jantung islam pada tataran sosial, seperti halnya saat-saat kejayaan islam, dimana pada waktu itu berbagai penemuan-penemuan telah banyak dilakukan oleh orang-orang islam sendiri.
Sebagai jantung islam, al-Qur’an sebenarnya telah banyak memberikan inspirasi bagi umat Muslim. Namun selama ini umat Islam mengalami kemandekan dalam segala hal, karena dominasi pemahaman nihilistik, dan ketidak mampuan umat Muslim menggali spirit al-Qur’an itu sendiri. Memang setiap usaha tidak selalu memberikan kepuasan tersendiri bagi setiap orang, namun tidak serta merta membuat sesorang berhenti berusaha. Sebab, masih banyak cara untuk mencapai sesuatu apa yang dinginkan. Mungkin karena caranya yang kurang tepat, sehingga seorang harus menerima kegagalan.
Dari itulah Syarif memetik tiga spirit al-Qur’an sebagai jalan menuju puncak kesuksesan. Pertama, harus memiliki penampilan yang terbaik. Seperti yang terdapat dalam kandunagan surah at-Tiin, dimana Tuhan telah menciptakan manusia dengan penampilan yang terbaik. Penampilan terbaik bisanya berkaitan erat dengan kesan pertemuan pertama seseorang. Jika kesan pertama menggambarkan kebaikan, untuk hubungan selanjutnya tidak akan meragukan. Penampilan terbaik ini bisanya berkenaan dengan posisi tubuh, cara berbicara, dan cara berpakaian.
Kedua, harus memiliki sifat yang terbaik. Sifat yang terbaik adalah sikap positif. Seperti dalam kandungan surah Fushshilat ayat 33. Sifat-sifat positif inilah yang akan akan melahirkam positif tingking (befikir positif), dan proaksi. Berfikir positif terhadap sebuah peristiwa apa saja saat ini adalah cara yang tepat dalam menghadapi tantangan global. Hingga dengan sikap proaksi, seseorang akan mampu memunculkan gagasan atau keputusan mencerahkan bagi dirinya ataupun orang lain.
Dan ketiga, seseorang Harus memiliki prestasi yang terbaik (The best achievement), terkandung dalam surah al-Mulk ayat 2, dimana Tuhan menjadikan hidup dan mati hanya untuk menguji hamba-Nya dalam mewudjudkan amal paling baik (ahsanu ‘amala). Jadi menciptakan pretasi terbaik ini tergantung dari amal seseorang. Sejauh mana keuletan dan kegihan sesorang dalam mencapai sesuatu, maka sejauh itu pula yang akan dicapainya.
Jadi, kesuksesan mustahil didapat melalui mimpi, jampi-jampi atau pula wangsit. Kesuksesan harus diraih dengan niat dan kerja keras, dengan cara-cara yang baik, agar kesuksesan tersebut tidak mudah runtuh oleh bujuk rayu yang akan membawa pada kehancuran. Sebab itulah Syarief dengan jalan al-Qur’an meyakinkan umat Muslim bahwa sejarah kemajuan islam yang tinggal puing kenangan akan dapat diraih kembali, selagi niat dan kesungguhan benar-benar tertancap dalam diri umat Muslim sendiri. (IC)      ÂÂ

Tahun 1924 dengan berlatar belakang pada berdirinya organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, ...
Gerakan Pemuda Ansor (disingkat GP Ansor) adalah sebuah organisasi kemasyaratan pemuda di Indonesia, yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi ini didirikan pada tanggal 24 April 1934. GP Ansor juga mengelola Barisan Ansor Serbaguna (Banser). GP Ansor merupakan salah satu organisasi terbesar dan memiliki jaringan terluas di Indonesia, dimana memiliki akar hingga tingkat desa.

