
Judul Buku : NU Studies, Pergolakan pemikiran antara Fundamentalisme Islam dan fundamentalismeNeo-Liberal
Penulis : Ahmad Baso
Penerbit :Erlangga, Jakarta
Cetakan :I, 2006
Tebal :510 Halaman
Harga :Rp. 90.000
Peresensi : Najanuddin Muhammad, Alumnus PP. Annuqayah Sumenep Madura.
Mulai NU berdiri, tahun 1926 dengan sosok KH. Hasyim Asyarie sebagai Founding Futher-nya, NU seakan menjadi magnet yang menarik minat banyak kalangan untuk diteliti , tidak hanya dari kalangan internal kalangan NU, melainkan para pakar diluar NU pun banyak yang tertarik untuk meneliti dan memetakaan NU dalam poros kebangsaan. Apalagi Pasca-Muktamar NU Cipasung 1994, yang menandai perlawanan hebat kalangan muktamarin terhadap intervensi pemerintah dalam bursa percalonan ketua umum, NU pun kian banyak ditulis dengan corak yang berwawasan kebangsan. Seperti, ” NU vis-a-vis State”, ” Nu dan Civil Soceity”, ” Nu dan Demokrasi” dan buku kompilasi terkahir dari pakar NU luar tentang NU, Greg Bruton dengan judul Nahdatul Ulama, tradisional Islam dan Modernity in indonesia (1996).
ÂÂ
Sumbangsih NU pada saat itu seakan sanagat di tantang untuk menyelesaikan problematika kebangsaan yang kian dibelit musibah. Sehingga ketertarikan para pakar untuk meneliti sepak terjang NU dalam mengemas dan merealisasikan konsepsinya kelapangan menjadi satu hal yang lazim.
ÂÂ
Tapi berbeda arus kemudian pasca tragedi 11 September 2001, wacana yang mencolok kepermukaan bukan lagi perihal pemberdayaan masyarakat atau pembentukan Civil Soceity, reformasi kebangsaan dan wilayah-wilayah kultural yang banyak bersangkut paut dengan situasi dan kondisi masyarakat secara rill. Melainkan profesi NU telah banyak bergeser pada wacana” fundamentalisme” v “liberalisme”, “Jihad” dan “radikalisme Islam” sedangkan sisa-sisa tentang reformasi dan demokrasi secara lambat laun telah terlarut dalam tidur lelapnya. Peran dan sumbangsih NU dalam kontek sosial kemasyarakatan seakan mulai surut diganti dengan dialektika baru yang jauh dari pemberdayaan masyarakat secara rill
ÂÂ
Dalam kontek ini, buku NU Studies, Pergolakan pemikiran antara Fuindamentalisme Islam dan fundamentalisme Neo-Liberal hadir sebagai penggugah wawasan baru ditengah menelisik dan menjamurnya wacana perihal fundamenatlisme dan liberalisme. Buku ini mengajak kita keluar dari kungkungan “dogma” dikotomi-Manichean yang dipaksakan oleh imperial “Benturan Peradaban” dari Washington serta mengajak kita untuk keluar dari kungkunagan gerakan wahabisme yang berakar dari timur tengah. NU Studies lebih berakar pada situasi dan kondisi keberagamaan masyarakat Indonesia.
ÂÂ
Untuk itu, NU Studies yang diusung oleh Ahmat Baso ini memberi rambu-rambu merah agar NU tidak hanya menjadi obyek kajian belaka. NU yang ditulis dan NU yang menulis adalah dua hal yang berbeda. Ketika NU ditulis (NU sebagai obyek) seperti yang disarankan oleh Ben Anderson pada tahun 1970-an, maka yang akan muncul kepermukaan NU akan cendrung larut dalam isu-isu aktual yang justru akan banyak mereduksi identitas ke NU-annya itu sendiri.
ÂÂ
Karena dalam sepanjang perjalanannya NU hanya banyak dijadikan obyek ketimbang menjadi subyek. Sehingga konsistensi basis-basis atau nilai-nilai lihur ke NU-an sedikit banyak telah terseret dan tereduksi oleh sumber atau berita aktual. Seperti dalam sejarah gerakan modern islam yang ditulis oleh Daliar Noer dengan judul Gerakan Islam Modern, NU hanya dijadikan kelompok yang reaksioner terhadap gerakan kemodern islam, kemudian ketika NU menjadi partai politik pada tahun 1950-an ia dibaca sebagai pengingkaran atas idealisme politik islam yang diusung Masyumi. Dan ketika dekat dengan orde baru, ia dibaca bermental kawulu, seperti yang dibaca kuntowijoyo dalam Paradigma Islam.( Hal: ![]()
ÂÂ
Mungkin dalam kontek sekarang NU akan lebih diidentikkan dengan antek liberalisme yang berakar dari subyek barat dan NU sebagai obyeknya. Munculnya beberapa generasi muda dari kalangan NU yang metode dan paradigme berfikirnya barat centris adalah wujud kongkrit bahwa NU selama ini masih belum bener-bener menjadi obyek. Artinya metodologi dan konsep yang dijadikan sebagai pisau analisis dan landasan kajian keagamaan kebanyakan mengekor pada Barat.
ÂÂ
Sehingga pada saat ini pula konsepsi tentang pemberdayaan masyarakat dan reformasi kebangsaan akan tereduksi seiring dengan menjamurnya konflik internal di wilayah NU. Perbedaan pendapat antara kalangan Kiai yang masih lengket dengan paradigma tradisionalnya dengan kalangan anak muda NU yang pada tataran realitasnya lebih diidetikkan dengan cara berfikir liberal menjadi adonan NU yang bergejolak di wilayah internal.
ÂÂ
Fenomena tersebut menurut Ahmad Baso berangkat dari posisi NU sebagai obyek, yang dibaca dan bukan sebagai subyek yang membaca dirinya. Artinya, bagaimana seandainya NU menulis sendiri sejarahnya, yang menyatakan diri suaranya. Tentu ada perubahan bukan hanya persepektif yang sifatnya epistimologis, tetapi juga perubahan pola relasi kuasa.(Hal: 9)
ÂÂ
Maka dari itu, Ahmad Baso melalui buku ini mengajak kita untuk keluar dari kungkungan NU sebagai obyek yang selalu disetir oleh kalangan-kalangan luar untuk beringsut atau menggeser posisi NU sebagai subyek. Posisi NU sebagai subyek bukan berarti NU menolak secara telak teori-teori yang bersumber dari barat, melainkan NU dalam hal ini berposisi sebagai pengelola yang bisa meracik berbagai macam teori yang datang dari berbagai sumber untuk kemudian dikontektualisasikan dengan prinsip Aswaja serta situasi dan kondisi kemasyarakatan di Indonesia.
ÂÂ
Memposisikan NU sebagai subyek, menarik apa yang dijadikan tamsil dan contoh Ahmad Baso di dalam buku ini. Tokoh sekaliber Edward W. Said yang berasal dari Palestine dikenal dengan pejuang gigih hak-kah rakyat Palestina yang independen dan merdeka dari bentuk imperealisme, kolonialisme, dan zionisme. Tulisanya banyak mengkritik pandangan dan kebijakan AS tentang islam, Timur tengah dan Palestina, padahal kalau dirunut dari silsilah pendidikanya dan khazanah keilmuannya yang dikuasai sepenuhnya berangkat dari barat. Tapi karena Edward W. Said tidak ingin menjadi obyek, melainkan menunjukkan adanya upaya ” changing the subject”.
ÂÂ
Begitu juga dengan NU Studies yang diusung Ahmad Baso ini, ia menghendaki adanya konstruksi tentang subyektifitas sebagai peneliti, yakni NU sebagai subyek pengetahuan yang bersumber dari subaltern ilmu pengetahuan internal. Yaitu sumber ilmu pengetahuan yang berangkat dari pemahaman internal tubuh NU atau suatu karangka metodolegis yang lahir dari pergumulan pengalaman ke NU-an, Seperti yang pernah nampak pada Kiai Ahmad Shidik, Kiai Shahal, dan Abdurrahman Wahid yang kemudian ditransformasikan pada ranah kehidupan realitas sosial. Maka melalui buku NU Studies ini kita akan diperkenalakan dengan karangka metedologis yang mengkostruk NU sebagai subyek dalam menerobos berbagai aneka ragam persoalan kebangsaan dengan berpijak pada tradisi Aswaja, praksis kebangsaan, dan keindonesiaan. (IC)

Tahun 1924 dengan berlatar belakang pada berdirinya organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, ...
Gerakan Pemuda Ansor (disingkat GP Ansor) adalah sebuah organisasi kemasyaratan pemuda di Indonesia, yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi ini didirikan pada tanggal 24 April 1934. GP Ansor juga mengelola Barisan Ansor Serbaguna (Banser). GP Ansor merupakan salah satu organisasi terbesar dan memiliki jaringan terluas di Indonesia, dimana memiliki akar hingga tingkat desa.

