
Judul buku : Taj Mahal
Penulis : John Shors
Penerjemah : Meithya Rose
Penerbit : Mizan
Tebal : 457 halaman
Cetakan : Pertama, oktober 2006
Peresensi : Muhammad Ghannoe, Penikmat Buku Sastra, Taman Baca Kutub Yogyakarta. Domisili : PPM. Hasyim Asy’arie Jl.Minggiran MJ II/1482-B Yogyakarta 55141
Tidak asing lagi, Taj Mahal adalah sebuah monument sejarah yang tercatat sebagai salah satu tujuh keajaiban dunia(the great wonderfull of monument ). Maka tidaklah heran bila kemudian di berbagai negara merasa takjub dengan monument tersebut. Hal ini bisa kita lihat dengan menggeliatnya buku-buku roman, novel, cerpen bahkan Ensiklopedia yang mengkaji fenomena sejarah dibalik berdirinya bangunan yang sarat eksotik itu.
John Shor dalam Roman terbarunya terjemahan Indonesia berjudul “Taj Mahal adalah kisah cerita yang mengungkap sisi lain misteri dibalik pendirian pembangunan Taj Mahal. Buku ini mengisahkan sebuah percintaan sejati yang tak mengenal batas ruang dan waktu. Seperti halnya kisah cinta dari pasangan Romeo And Juliet, Qays dan Layla (Layla-Majnun) dan kisah-kisah yang lain yang mampu menggetarkan jiwa khususnya bagi kawula muda.
Dalam karya yang tidak lebih dari 547 halaman ini, John mengambil tokoh utama yang bernama. Jahanara, seorang putri raja Shah Jhahan dikerajaan Agra. Walaupun putrid sang raja yang setiap harinya hanya berkewajiban berseng-senang dan mengomeli dayang tapi hatinya tidaklah menerima kewajibannya untuk bersenang-senang, ia memilih berduka lara dan terombang ambing berbagai permasalahan yang diharapkannya sendiri.
Pasalnya, Jahanara yang lebih mencintai kemerdekaan diri dan hatinya ini, dinikahkan oleh ayahnya secara paksa, dengan dasar kepentingan poitik yang semu. Ia sama sekali tidak mempunyai perasaan sayang apalagi cinta, terhadap lelaki yang dilegalkan menjadi suaminya. Hari demi hari ia menuai kebencian dan penyesalan menjadi wanita yang lemah dalam menentukan pilihan yang selama itu didominasi oleh Ayahandanya sendiri.
Kegundahan-kegundahan hati sang putri kedua dari raja Agra itu pun akhirnya agak sedikit luntur, setelah ayahandanya berniat mendirikan bangunan Taj Mahal yang dipersembahkan kepada mendiang istrinya dan menemani kuburannya. Yang sebagai ganti dirinya menemani dan membuktikan bahwa cintanya sehidup semati.
Pembangunan Bangunan diserahkan kepada arsitek yang bernama Isa, yang mana ia adalah lelaki yang tampan dan penuh perhatian. Mendengar dan melihat sosok Isa, hati Jahanara mulai terkesiama an mulai berani mengabaikan cinta suaminya. Seperti halanya manusia paa umumnya dalam mencintai lawan jenis. Jahanara mulai pendekatan dan berkenalan hingga terjalin keakraban, dan tanpa sepengetahuan orang jahanapun menambatkan hatinya kepada Isa, begiotu juga sebaliknya.
Hari pun bergulir cepat seakan hanya semalam bagi Jahanara dan Isa dalam mengarungi samudera cinta dibalik layar. Sehingga tidak terasa proyek bangunan dalam membuat Taj Mahal mulai berujung, hingga mengindikasikan bagi keduanya harus piasah dan tak tentu kapan akan dapat saling tertawa dan bercengkrama dengan sembunyi-sembunyi lagi.
Hati sang putri pun kembali bersedih tapi ia pandai dalam menyembunyikan kesedihannya terhadap suaminya. Belum sampai problemnya usai, kemelut mulai menimpa kerajaan, yang dimotori oleh kedua saudara Jahanara. Yakni Pangeran Dara Sikuh, seorang mistikus yang berjuang mempersaudarakan Muslim dan Hindu, melawan adiknya Aurangzeb yang anti Hindu dan gila tahta serta gemar memanipulasi agama untuk menumpas lawan-lawan politiknya. Dalam perang saudara itu dimenangkan oleh Aurangzeb. Jahanara menyaksikan sendiri bagaimana kakaknya Pangeran Dara Sikuh yang menjadi pewaris kerajaan dipenggal lehernya oleh algojo saudaranya sendiri di depan mata kepalanya dan seluruh rakyat kerajaan Agra atas tuduhan ahli bid’ah. Sedangkan Shah Jahan sendiri ketika itu ditahan di Musammam Burj oleh Aurangzeb setelah dia berhasil melakukan kudeta terhadap kekuasaan ayahnya.
Keselamatan Jahanara dan ayahnya mulai terusik. Dari ketrusikan keselamatanya ia tertimpa kebingungan dalam membela keselamatan ayah dan kekasih gelapnya beserta Arjumand anak hasil perselingkuhannya. Kebimbangan turut andil dalam mengabil dua pilihan yang dilematis itu. Antara ingin merawat ayahnya yang sedang sakit keras atau menyusul dan mencari Isa beserta Arjumand yang telah dulu meninggalkan Agra. Tetapi akhirnya ia mengambil keputusan melarikan diri dari Agra yang dibantu oleh Nizam sahabat dekatnya sejak kecil sebagai penunjuk jalan untuk mencari kekasihnya yang kabarnya berada pada tawanan kerajaan Deccan.
Setelah ia menemukan Isa dan Arjuman dan membebaskannya dari tangan kerajaan Deccan, ia kembali lagi ke Agra untuk merawat ayahnya yang sedang sakit keras yang tentunya sangat membutuhkan perawatannya. Dengan bantuan dua orang temannya yang berpura-pura melakukan konspirasi dengan Aurangzeb ia dapat keluar masuk benteng merah tanpa ada hambatan yang berarti dari para penjaga pintu kerajaan.
Selanjutnya ia dilarikan oleh selir-selir kerajaan kedaerah utara dari kerajaan Agra tepatnya didaerah Kalkuta, daerah yang subur yang berada dipinggir laut. Disanalah Jahanara dan orang-orang yang dicintainya menemukan kebebasan dan menghabiskan masa-masa tuanya yang jauh dari ancaman Aurangzeb. Begitu cerita akhir Jahanara kepada cucunya Gulbadan dan Rurayya.
Dalam menikmati roman asmara ini setidaknya kita ditunjukkan bahwasannya cinta itu merdeka, berdiri tanpa tekanan dan hilang tanpa ikatan dan suddah tidak zamannya lagi bahwasannya orang tua wajib mutlak dalam menentukan jodoh anak. Merdeka ! (IC)

Tahun 1924 dengan berlatar belakang pada berdirinya organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, ...
Gerakan Pemuda Ansor (disingkat GP Ansor) adalah sebuah organisasi kemasyaratan pemuda di Indonesia, yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi ini didirikan pada tanggal 24 April 1934. GP Ansor juga mengelola Barisan Ansor Serbaguna (Banser). GP Ansor merupakan salah satu organisasi terbesar dan memiliki jaringan terluas di Indonesia, dimana memiliki akar hingga tingkat desa.

