
Judul Buku: Entrepreneur Organik (Rahasia Sukses K.H Fuad Affandi Bersama Pesantren dan Tarekat ”Sayuriah”-nya)
Penulis: Faiz Manshur
Pengantar: Prof Dr Ahmad Syafii Maarif, Prof Dr Sri-Edi Swasono, Dr Bisri Effendy.
Penerbit: Nuansa Cendekia (Anggota IKAPI) Bandung, 2009
Tebal: 392 halaman
Harga: Rp.88.000
Peresensi: Makmun Yusuf, Alumni Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang Rembang.
Kiprah perjuangan seorang Kiai dalam buku ini menegaskan bahwa agama bukanlah penganjur radikalisme / terorisme ataupenganjur eskapisme (melarikan diri dari kenyataan hidup), melainkan ajaran amal kebajikan yang partisipatoris, progresif dan membebaskan.
Di tengah-tengah cengkeraman ekonomi pasar bebas era global saat ini, kaum tani menghadapi problematika yang sangat akut. Tetapi, melalui strategi perjuangan organiknya, Kiai Nahdliyin dari Kaki Gunung Patuha, tepatnya di kampung Ciburial, Kelurahan Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung tersebut memberi kesaksian bahwa kaum tani bisa berdaya menghadapi pasar bebas.
Perjuangan organik yang dimaksud dalam buku ini seperti yang digambarkan Cendekiawan Marxis asal Italia, Antonio Gramscy sebagai intelektual organik, yakni intelektual dari lapisan kelas atas di masyarakat yang berani melakukan bunuh diri kelas, berlumpur-lumpur dengan desah nasib rakyat jelata dan mengentaskan marginalisasi mereka. Karena Fuad Affandi bukan pejuang politik, Faiz Manshur tidak melabelinya sebagai intelektual organik, melainkan lebih tepat sebagai entrepreneur organik, yakni seorang wirausahawan yang berjuang sejak awal secara bersama-sama dengan rakyat dan meraih kesuksesan secara bersama-sama pula.
Wirausahawan jenis ini berbeda dengan wirausahawan murni (kapitalis), bahkan juga berbeda dengan jenis wirausahawan sosial yang baru mengabdi kepada sesama setelah meraih kesuksesan terlebih dulu. Fuad memang seorang wirausahawan, pelaku bisnis, ahli marketing dan motivator dalam usaha agribisnis. Dari desa itu, produk-produk pertanian khususnya dalam sektor sayur-mayur bermutu tinggi mampu mengepung kota sehingga ratusan kaum tani di sekelilingnya mampu keluar dari jeratan kemiskinan.
Kiai jebolan kelas IV Sekolah Rakjat (SR) yang kini berusia 62 tahun itu pada mulanya sangat prihatin dengan kenyataan alam sekelilingnya yang subur tetapi nasib kehidupan petaninya hancur. Berbekal keyakinan bahwa usaha pertanian adalah pilar ekonomi bangsa, ia terus mencoba, berinisiatif, berkreasi dan berjuang untuk mencari solusi memecahkan problematika kehidupan kaum tani. Saking seriusnya, Fuad tak hanya meraih kekayaan materi, melainkan juga mampu berkreasi dalam bidang ilmu pengetahuan. Penemuan pupuk organik dari air liur para santrinya kini sudah merambah Jepang sebagai pematang bakteri.
Sedangkan kreativitasnya menciptakan ramuan pengusir hama tanaman melalui bahan-bahan alami
tanpa merusak ekologi pernah mendapat penghargaan Kalpataru untuk kategori penyelamat Lingkungan Hidup (2003). Segudang penghargaan lain juga pernah diterima oleh Kiai Sunda yang anti poligami ini.
Tujuh alasan bertani
Kesadarannya berjuang untuk ilmu dan amal membuat Fuad begitu disegani oleh masyarakat di sekitarnya. Saking serius dan konsistennya berjuang untuk rakyat, Fuad tak pernah terbuai oleh godaan duniawi. Sekalipun kaya, ia tetap komitmen mengasuh lebih 350 anak-anak miskin yang ditampung di pesantrennya dan setiap saat mampu menjawab problematika kehidupan kaum tani di sekitarnya.
Mengapa Kiai Fuad Affandi sangat serius dalam usa ha bidang pertanian dan getol memperjuangkan nasib kaum tani?
Kiai Fuad secara argumentatif menyebutkan. Pertama, saya berprinsip bahwa sungguh suatu keberkahan yang paling besar itu ada pada usaha tani. Hasil berkahnyakalaupun sedikit bisa mencukupi. Manakala kita perlu sesuatu biasanya dengan hasil tani itu cukup untuk menopang hidup, sekalipun hanya kecukupan mendasar.
Kedua, tidak ada satu pun pekerjaan yang paling mudah kecuali menjadi petani. Tak perlu gelar, tak perlu status, tak perlu ditanya berat badan tinggi badan, golongan dan asal muasal. Ketiga, kata orang negara ini adalah agraris, yang berarti penghasil pertanian. Kalau saya mengambil sektor ini jelas sangat tepat. Keempat, semua kehidupan umat manusia sangat bergantung pada petani. Sebesar apapun bangsa itu mengembangkan usaha teknologi, sehebat apapun manusia mengalami kemajuan ujung-ujungnya akan makan hasil pertanian. Tak pernah ada cerita akibat krisis moneter maka orang-orang eksekutif itu lalu beralih makan besi baja.
Kelima, Siapa saja bisa jadi petani. Tak ada larangan jadi petani. Pejabat, artis, kyai dan siapapun boleh
bertani. Keenam, pertanian itu paling aman. Tak akan gulung tikar hanya karena alasan krisis moneter. Tak ada petani yang jeblok. Mereka yang jeblok bukan petani, tapi buruh tani. Ketujuh, kalau dilihat di KTP itu adalah petani, bisa diterka agamanya Islam.
Lebih jauh dari itu, KH Fuad mengatakan, dirinya adalah penganut tarekat sayuriah, artinya gera kan budidaya tanam sayurmayur,”ujarnya sambil terkekeh-kekeh. Istilah ini bukan hanya unik, melainkan memiliki nilai kritis. Katanya, dirinya memilih berjuang ke belantika kehidupan dunia dan menghindari dunia eskapisme (melarikan diri dari kenyataan ala sufi) karena di situlah ia memiliki tanggungjawab besar terhadap masyarakat. Dengan berjuang terjun ke masyarakat ia mampu membuktikan sebuah masyarakat yang kurang beradab menjadi lebih beradab.
Komunitarianisme
Peranan Kiai Murid KH Maksum (Mbah Maksum) Lasem yang menyatukan potensi pesantren dengan masyarakat petani melalui slogan “kerjasama” (Al-Ittifaq) mampu mengubah masyarakat komunalisme yang jumud ke arah masyarakat komunitarianisme yang dinamis dan kemudian menorehkan modal sosial bagi kaum tani.
Pesantren Al-Ittiffaq yang nota-bene adalah representasi lembaga pendidikan golongan masyarakat bawah yang memiliki ciri-ciri komunalisme ala masyarakat pedalaman di Pasundan kini telah mewujud dalam bingkai komunitarianisme. Gerakan sosial dengan spirit gotong royong ini oleh penulis buku ini dinilai sebagai gerakan transformasi sosial dari basis primordialisme komunalisme menuju komunitarianisme.
Al-Ittifaq dengan caranya sendiri telah mampu menjadi basis penguatan masyarakat sipil melalui Koperasi Pondok Pesantren yang digunakan sebagai kegiatan simpan pinjam serta pemasaran produk-produk pertanian. Inilah salahsatu keberhasilan kewirausahaan berbasis gerakan bersama, yang tidak hanya melahirkan modal uang untuk peningkatan ekonomi, melainkan juga modal sosial bagi peru bahan masyarakat di berbagai bidang. Setiap tahun warga desa di sekitar pesantren itu mengadakan gerakan sosial seperti pernikahan massal, sunnatan massal, bakti sosial dan pembangunan bersama sarana pedesaan. Uniknya, derma sosial dalam pernikahan massal itu juga dilanjutkan dengan bantuan insentif modal kerja rumah tangga sehingga setelah menikah orang desa bisa berproduksi.
Modal sosial yang terjadi di kawasan Alam Endah tersebut mirip seperti yang dikatakan Robert Putman, “menjadikan masyarakat memiliki nilai kolektif dari semua jaringan sosial dan kecenderungan untuk melakukan sesuatu bagi sesama. Sebagai ide abstrak, modal sosial tersebut bisa diwujudkan dalam bentuk organisasi yang secara praksis berupa paguyuban untuk kegiatan sosial, koperasi untuk kegiatan ekonomi/bisnis, lembaga swadaya untuk penguatan SDM dan institusi pendidikan.(hlm 82).
Karakter kepemimpinan KH Fuad Affandi yang berhasil ditransformasikan menjadi karakter sosial itu pada akhirnya membuat banyak pihak menaruh kepercayaan yang tinggi terhadap kemampuan pesantren beserta programnya. Kepercayaan itu bukan hanya di masyarakat sekitar, melainkan sampai ke berbagai daerah.
Bahkan pernah suatu ketika beberapa pesantren yang ingin mendapatkan dana bantuan wirausaha dari Belanda, lembaga donornya mensyaratkan agar pihak penerima dana harus belajar magang ke Al-Ittifaq terlebih dahulu. Dengan kepercayaan yang baik inilah pesantren Al-Ittifaq telah menyakinkan kepada kita bahwa sukses berekonomi bisa diwujudkan dengan modal kepercayaan. Kepercayaan tumbuh karena sikap manusia yang memegang amanah.
Kiai Amal
Fuad Affandi adalah seorang kiai sejati yang tergolong langka di jaman sekarang ini; seorang kiai yang tak hanya mengajar mengaji melainkan bertani. Dari keteguhan ini, kita bisa membedakan hasilnya antara masyarakat didikan kiai ahli ceramah dengan kiai ahli amal. Mereka yang biasa berguru pada ahli ceramah alih-alih mendapatkan pendidikan produksi, yang sering ditemui, justru para jamaah itu menjadi semakin konsumeris berbelanja produk yang dijajakan para mubalignya. Sedangkan masyarakat di bawah didikan kiai amal Fuad Affandi mahir berproduksi dan mandiri.
Buku ini hadir kepada kita sebagai pemenuhan pencerahan tentang bacaan yang segar, ilmiah, mengajak maju. Sebuah buku yang menolak pemikiran Islam eskapis, cengeng danmengawang-awang. Fuad Affandi memberikan kesaksian kepada kita tentang pentingnya kepemimpinan religius yang realistis, ilmiah dan membasis pada akar massa rakyat sehingga muncul banyak manusia-manusia berdaya.***
K.H Fuad Affandi
Tempat Tanggal Lahir:
Bandung 20 Juni 1948
Pendidikan:Sekolah Rakjat sampai kelas 4. Lalu nyantri di Sukasari Bandung, Sumedang, Banjarpatroman
Ciamis, Al-Hidayah Lasem (sering ngaji di Pesantren Sarang Rembang juga), kemudian ke Pesantren Sunan Drajat Lamongan, dan beberapa pondok-pesantren di Jawa Timur lainnya sebagai Santri Kelana antara tahun 1957-1966.
Jabatan:
1. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ittifaq, dan Penasehat Koperasi Pertanian Al-Ittifaq, Kampung Ciburial , Desa Ala mendah, Kecamatan Ranbacabali Kabupaten Bandung .
2. Penasehat Asosiasi Program Lembaga Mandiri Masyarakat yang Mengakar (LM3) 2008 – 2011.
Beberapa penghargaan yang pernah diterima Fuad Affandi:
1. Tanda Kehormatan Satya Lancana Wirakarya, sebagai penghargaan atas Darma Bakti kepada Bangsa dan Negara oleh Presiden RI Bachrudin Jusuf Habibie (1998).
2. Penghargaan Parama Bhoga Nugraha Hari Pangan Sedunia XIX dan Hari Wanita Pedesaan Sedunia IV
Menteri Negara Pangan dan Hortikultura Prof. Dr F.A Moloek (1999).
3. Kalpataru untuk Kategori penyelamat Lingkungan dari Presiden Megawati Sukarno Putri oleh Kantor
Kementerian Lingkungan Hidup (2003).
4. Penghargaan Bakti Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Republik Indonesia oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil-Menengah Ali Marwan Hanan (2003).
5. penghargaan Organisasi Sosial Berprestasi (Juara I) tingkat Propinsi Jawa Barat tahun dari Gubernur
Jawa Barat Danni Setiawan ( 2005)
6. Penghargaan sebagai pelaku usaha yang menerapkan pedoman budidaya yang baik –good agricultural
practices (GAP), dalam rangka bulan mutu nasional sektor pertanian, Menteri Pertanian Ir Anton Apriyantono MS (2006)
7. Penghargaan dari Bank Danamon (Danamon Award) Kategori penghargaan Nirlaba (2007)
8. Penghargaan “Polisi Masyarakat” Kepolisian Resort Kabupaten Bandung oleh Kapolres Imran Yunus (2009)
9. Dan lain-lain sebagainya.

Tahun 1924 dengan berlatar belakang pada berdirinya organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, ...
Gerakan Pemuda Ansor (disingkat GP Ansor) adalah sebuah organisasi kemasyaratan pemuda di Indonesia, yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi ini didirikan pada tanggal 24 April 1934. GP Ansor juga mengelola Barisan Ansor Serbaguna (Banser). GP Ansor merupakan salah satu organisasi terbesar dan memiliki jaringan terluas di Indonesia, dimana memiliki akar hingga tingkat desa.

