Judul : NU Studies; Pergolakan Pemikiran antara Fundamentalisme Islam dan Fundamentalisme Liberal
Penulis : Ahmad Baso
Penerbit : Erlangga,2006.
Tebal : xxii + 510 hal
Peresensi: Abdul Malik, Koordinator Halaqoh Umbruch Cercle (Forum Kajian Keagamaan Sosial dan Budaya) dan Pemred Majalah SiGMA dan Pengurus PMII IAIN Banten.
Mengaji Nahdlatul Ulama, tidak pernah lepas dari wacana kebenaran Aswaja, Ushul Fiqh, dan hubungan agama dengan negara. mengaji NU juga selalu bersentuhan dengan dinamika pemikiran para alumnus pesantren, yang kemudian menjadi tokoh, atau ditokohkan oleh kaum muda yang pernah ‘bersarung’.
Kenapa yang pernah bersarung? Karena, diakui atau tidak kaum muda yang identik, dekat dan memperjuangkan organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia itu, berasal dari kultur yang sama ‘pesantren’. Mereka pindah ke kota, bergelut dengan wacana- wacana kontemporer, lantas mengaitkan wacana-wacana baru –yang biasanya dari barat, Amerika khususnya- tersebut dengan pemikiran yang ditelurkan para tokoh NU.
Banyak tokoh NU yang menjadi ‘korban’ kenakalan generasi mudanya, sebut saja misalnya K.H Wahid Hasyim, putra pendiri NU ini sering dijadikan legitimasi untuk menekan hegemoni Islam dalam bernegara, “Ulama NU yang sejak dulu menerima Pancasila, sama artinya dengan tidak berkenan dengan Syariat Islam sebagai dasar negara†demikian biasanya seloroh dari penolak legalisasi syariat Islam. Kiai Ali Maksum, Kiai As’ad dan baru-baru ini kiai Sahal Mahfudz, juga tak jarang dianggap mengamini liberalisme sebagai salahsatu landasan berfikir Islam, wacana Fiqih Sosial dan keengganan melabelkan julukan ‘sesat dan menyesatkan’ terhadap komunitas Ahmadiyyah, diklaim sebagai sikap liberal.
Di lain sisi, Fatwa NU tentang sesatnya Islam Liberal (Munas NU, Desember 2004,) menguatkan asumsi, bahwa NU masih konservatif, anti kapitalisme global dan neoliberalisme. Beberapa tokoh muda NU kemudian mengusung postradisionalisme sebagai wacana tandingan terhadap Neolibelarisme.
Dan sampai sekarang, telah banyak buku yang membahas NU, dari beragam sisi, tapi tidaklah lengkap jika kita tidak melirik buku karya Ahmad Baso, NU Studies Pergolakan Pemikiran antara Fundamentalisme Islam dan Fundamentalisme Liberal (Erlangga, 2006). Keuletan Baso ji ulang pemikiran para tokoh NU, serta buku-buku yang berkaitan dengan NU melahirkan buku setebal 510 halaman tersebut.
Buku yang diklaim oleh penulisnya sendiri (dalam hal.16), melampaui Islamic Studiesnya John, L. Esposito ini menghimpun 13 Bab judul tulisan dalam tiga kategori bahasan, agar terkesan sistematis –mungkin-.
Baso termasuk kaum muda NU yang gelisah akan kegamangan sikap sekelompok NU yang cenderung mau dijadikan objek tulisan, penelitian dan permainan wacana pesanan barat. “Nu ditulis dan NU menulis adalah dua hal berbeda, Nu ditulis, artinya ia sebagai obyek, NU menulis, berarti ia berposisi sebagai Subyek… “ (hlm. 3) bagi Baso, menuliskan obyek adalah salah satu bentuk imperialisme, ia mencontohkan buku berjudul NU, Traditional and modernity in Indonesia (1996) sebagai bukti asumsi penempatan NU sebagai batu nisan, atau prasasti.
Dengan gagahnya –mungkin- Baso mengaku diri sebagai subyek yang berhak menuliskan NU, hanya karena pernah aktif di Lakpesdam NU dan kemudian juga aktif membantu LTN PBNU?
Pada bagian lain dalam buku ini juga dibahas, bagaimana pentingnya nilai-nilai Ahlu Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) sebagai doktrin pergerakan. Baso membahas Aswaja dari segi histories dan menjustifikasi Aswaja sebagai inspirator perlawanan terhadap kedzaliman penguasa.ia mengisahkan sejarah kebenaran Aswaja, sejak kelahirannya di era kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, hingga rekonstekstualisasi Fiqih dan Ushul fiqh ala Gusdur.
Tak cuman Gusdur yang jadi obyek bahasan buku ini, Prof. Dr. Nurcholis Madjid pun dikritik habis oleh Baso. Terutama karena inkonsistensi Cakn Nur dalam proyek pembaharuan Islam, yang awalnya puritan, beralih menjadi liberal. Tapi Cak Nur, kata Baso, masih setia terhadap Ibnu Taimiyah (hlm 187-264).
“Sejak awal Nurcholis Madjid memahami islam bukan hanya sebagai sebuah ajaran dan doktrin, tetapi sekaligus akidah (kepercayaan), syariat( ajaran hidup) dan nizham (sistem)… pengertian tentang Islam ini tampaknya bertentangan dengan tulisan-tulisan Nurcholis Madjid di tahun-tahun berikutnya yang menegaskan esensi Islam sebagai nilai, dan bukan sebagai sebuah sistem politik†(hlm 190).
Pada Bab terakhir, Baso mengangkat masalah HAM kultural. Tentang hegemoni Islam terhadap negara. aktivis PMII yang tidak sempat menyelesaikan kuliahnya di LIPIA dan STF Driyarkara ini, berharap, Islam –semestinya- menjadi komponen utama penegakan Ham di Indonesia, tampil sebagai motor penggerak dari perjuangan menegakkan pluralisme dan melawan diskriminasi berdasar atribut-atribut agama, trdisi, adapt maupun kepercayaan (hlm. 453).
Ternyata, mambahas NU dari tangan Baso, menjadi njlimet, tapi menarik! Tak sekedar membahas tradisi tahlil, ataupun perebutan massa antara mereka yang beratribut pembaharu Islam dengan kaum sarungan yang kini berubah menjadi super moderat. NU Studies, boleh jadi merupakan buku yang cukup komprehensif membhas ke NU an, dari sisi doktrin hingga tataran praksisnya. (IC)

Tahun 1924 dengan berlatar belakang pada berdirinya organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, ...
Gerakan Pemuda Ansor (disingkat GP Ansor) adalah sebuah organisasi kemasyaratan pemuda di Indonesia, yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi ini didirikan pada tanggal 24 April 1934. GP Ansor juga mengelola Barisan Ansor Serbaguna (Banser). GP Ansor merupakan salah satu organisasi terbesar dan memiliki jaringan terluas di Indonesia, dimana memiliki akar hingga tingkat desa.

