
Judul Buku: Membangun Kepribadian dan Watak Bangsa Indonesia yang Harmonis dan Integral
Penulis: Ki Fudyartanta
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan: I (Pertama), Desember 2010
Tebal: 440 halaman
Harga: Rp 65. 000,-
Peresensi : Humaidiy AS*)
Dunia pendidikan kita sebenarnya pantas berduka, diakui atau tidak, dunia pendidikan di Tanah Air terus menimbun berbagai masalah. Meski telah berganti aparat birokrat dan orde pemerintahan, dunia pendidikan tak kunjung lepas dari sejumlah permasalahan klasik, baik menyangkut kualitas, daya jangkau masyarakat terhadap pendidikan, minimnya anggaran pendidikan yang disediakan pemerintah hingga minat belajar para siswa dan budi pekerti para siswa. Belum lagi produk pendidikan dari berbagai lembaga pendidikan belum menampakkan hasil nyata Semuanya masih sangat memilukan dan memprihatinkan.
Bagi bangsa Indonesia, faktor pemuda merupakan wujud kekuatan potensial yang selalu menunjukkan kehadirannya dalam setiap peristiwa bersejarah perjuangan bangsa. Kualitas pemuda adalah jaminan investasi utama bagi bangsa ini untuk memenuhi tuntutan kemajuan zaman yang semakin mengglobal dan universal ini. Ironisnya, para pemuda justru kehilangan jati dirinya dan terjebak dalam segenap prilaku negatif yang meresahkan. Deretan kisah tentang tawuran pelajar, freesex, narkoba dan kenakalan remaja lainnya menunjukkan bahwa pendidikan yang dihasilkan belum berhasil menamkan karakter yang kuat kepada peserta didiknya. Itulah sebabnya, Pendidikan yang dianut di Indonesia dianggap carut-marut dan tidak memiliki akar yang jelas.
Ki Fudyartanta, melalui buku berjudul “Membangun Kepribadian dan Watak Bangsa Indonesia yang Harmonis dan Integral” ini menegaskan bahwa sudah semestinya pendidikan nasional Indoneisia dapat menjadi sarana untuk membangun kerpibadian dan watak bangsa indonesia yang harmonis dan integral, yaitu bangsa indonesia yang sehat jasmani-rohaninya, cedas dan terampil kerja, tetapi juga memiliki budi pekerti yang luhur.
Buku ini secara cukup terperinci menjelaskan aspek-aspek pendidikan yang integral, mulai dari tinjauan historis tentang pendidikan, dasar dan sistem tri pusat pendidikan hingga pemahaman cara pandang mengenai pendidikan karakter budi pekerti. Menurut penulisnya, pendidikan karakter hanya kan menjadi sekedar wacana jika tidak difahami secara lebih utuh dan menyeluruh dalam konteks pendidikan nasional kita. Bahkan, pendidikan karakter yang difahami secara parsial dan tidak tepat sasaran justru malah bersifat kontadiktif bagi pembentukan karakter anak didik sebagaimana selama ini. Bagaimana tidak, selama ini gerak laju dunia pendidikan seringkali terjebak dalam data statistik dan mindset dalam bingkai laku-tidaknya di dunia industri (hlm. 279).
Realitas kekinian menunjukkan bahwa Indonesia telah kehilangan karakter dan orientasi. Dalam kacamata yang lebih luas, demokrasi digerogoti oleh pragmatisme politik elite, partai politik lahir untuk meeruntuhkan kepercayaan rakyat, para dewan menjadi penjilat dan pemeras rakyat, pendidikan menjadi milik kalangan the have dan proyek komersialisasi pendidikan. Kesejahteraan dan kemakmuran hanyalah menjadi pepesan kosong dan mimpi belaka.
Pendekatan yang parsial yang tidak disertai pendekatan pedagogi dalam pandangan penulis buku ini, alih-alih menanamkan nilai-nilai keutamaan dalam diri anak, malah menjurumuskan mereka pada prilaku kurang bermoral. Pendidikan karakter semestinya terarah pada pengembangan kultur edukatif yang dengan sendirinya mengarahkan anak didik menjadi pribadi yang integral. Untuk mencapai pendidikan yang berkualitas, diperlukan penanganan yang sistematis serta melibatkan peran dari semua pihak, tidak hanya lembaga pendidikan dan pemerintah, tetapi juga masyarakat itu sendiri. Pengelolaan pendidikan yang bertumpu pada kekuatan masyarakat semakin menjadi tuntutan pada dunia pendidikan. Semakin baik kualitas pendidikan, semakin baik pula kualitas sumber daya manusianya yang terlahir.
Dalam salah satu bagian buku ini, penulis juga mengajak pembaca untuk kembali mempertimbangkan sistem pendidikan nasional sebagaimana diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara dengan “sistem among”-nya. Sistem Among dimulai ketika pada 3 Juli 1922 Raden Mas Suwardi Suryaningrat yang kemudian berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara ini, bersama teman-temannya mendirikan national Onderwijs Institut Taman Siswa (Institut Perguruan Nasional Taman Siswa). Diantara asas tersebut adalah: asas kemerdekaan diri, asas pendidikan among yakni pendidikan yang merdeka lahir-batin, asas kebudayaan bangsa atau kebudayaan nasional, asas pendidikan nasional; yakni pemerataan pendidikan dan demokrasi pendidikan menuju pendidikan utnuk seluruh rakyat Indonesia, dan asas pengaabdian (hlm. 374).
Mendidik masyarakat merupakan gerakan bersama, bukan sekadar mengajarkan wawasan dan keterampilan, tetapi juga memberikan kepercayaan kepada masyarakat untuk membangun pilar-pilar pembelajaran dalam diri manusia pada masyarakat. Dan hal itu menjadi bukti bahwa masyarakat mempunyai potensi yang besar dalam membangun dan memperbaiki kehidupannya dengan cara-cara yang dimilikinya.
Pendidikan yang integral jika ingin efektif dan utuh dalam hemat penulis harus menyertakan tiga basis desain. Pertama, desain pendidikan karakter kelas. Desain ini berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan siswa sebagai pembelajar di dalam kelas. Relasi guru-pembelajar bukan monolog, melainkan dialog dengan banyak arah yang memancing kreativitas dan inovasi anak. Kedua dan ketiga yakni desain pendidikan berbasis kultur sekolah dan masyarakat. Desain ini mencoba membangun kultur sekolah dan masyarakat yang mampu membangun karakter anak diidik. Nilai keutamaan semisal kejujuran ditanamkan di sekolah dan diperkuat oleh komunitas masyarakat Masyarakat di luar sekolah seperti keluarga, tetangga, masyarakat umum bahkan negara juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam konteks kehidupan mereka.
Walhasil, pokok dari pada pendidikan adalah proses kesadaran hubungan yang ditujukan pada pengembangan masyarakat dengan memperhatikan kondisi beberapa aspek seperti pendidikan, sosial, politik, lingkungan, ekonomi, dan lain sebagainya. Selain itu, pendidikan yang integral dalam pelaksanaannya mewajibkan agar tidak terlampau jauh dari realitas yang dialami masyarakat, sehingga program pendidikan disusun berdasarkan kondisi dan kebutuhan riil dalam masyarakat, mulai dari perencanaan pendidikan hingga tahap evaluasinya. Pendidikan karakter yang integral dan utuh hanya akan berjalan jika ketiga karakter di atas bisa dilaksanakan secara simultan dan sinergis. Tanpanya, pendidikan kita dengan segala sistemnya hanya akan bersifat parsial, inkonsisten dan tidak efektif, sebagaimana terjadi selama ini.
*) Peresensi adalah Staf Pendidik pada MTs Ali Maksum PP. Krapyak dan Peneliti pada Lembaga Kajian Agama dan Swadaya Umat (LeKAS) Yogyakarta.

Tahun 1924 dengan berlatar belakang pada berdirinya organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, ...
Gerakan Pemuda Ansor (disingkat GP Ansor) adalah sebuah organisasi kemasyaratan pemuda di Indonesia, yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi ini didirikan pada tanggal 24 April 1934. GP Ansor juga mengelola Barisan Ansor Serbaguna (Banser). GP Ansor merupakan salah satu organisasi terbesar dan memiliki jaringan terluas di Indonesia, dimana memiliki akar hingga tingkat desa.

