
Judul : Manejemen Kepemimpinan Muhammad, Mencontoh Teladan Kepemimpinan Rasul untuk Kesempurnaan Manajemen Modern
Penulis : Ismail Noor
Penerbit : Mizan
Cetakan : I, Juni 2011
Tebal : 222 halaman
Pemimpin adalah ilustrasi kedahsyatan sebuah kalimat yang mengimajinasikan harapan sekaligus menakutkan. Secara signifikan, pemimpin mempengaruhi hitam putihnya masa depan kehidupan bangsa. Sangatlah sederhana idealisme yang kita pertaruhkan untuk menasbihkan lahirnya seorang pemimpin dalam bingkai pradigma rabbani ditengah carut marur problematika bangsa.
Negara dan bangsa ini jelas membutuhkan pemimpin yang berprototype kepemimpinan qur’aniyah. Orang-orang dengan tingkat moralitas pribadi yang tinggi yang bukan opurtunis yang hanya tahu mengeksploitasi politik kepentingan diri sendiri saja, patut untuk dijadikan pemimpin. Nah, buku ini pantas dijadikan standar dasar dalam memilah dan memilih pemimpin. Buku ini menyajikan manajemen kepemimpinan rabbani Rasulullah SAW.
Prototype yang digambarkan Rasulullah menjalankan roda kepemimpinan adalah prototype populis, sensitif terhadap civil society, progresif dan mengayomi dengan sikap kasih sayang. Semua itu tergambar dalam sebuah ayat Al-qur’an Surat “laqad ja akum rasulun min anfusikum azizun alaihima anittum harisun alaikum bil mu’minina raufun rahim” (QS. Taubah: 128).
Pertama : min anfusikum: populis-merakyat. Pemimpin masa kini seharusnya mengikuti jejak kepemimpinan Rasul. Meski sebagai pemimpin, walapun memegang dan menyandang predikat “orang nomor satu” beliau tidak ingin dirinya terkesan khusus dari sesamanya. Beliau selalu berusaha populis, merakyat. Juga, sebagai pemimpin beliau tidak hanya sebagai pemegang komando, “tukang perintah”, tetapi beliau turut serta bekerja, berbaur bersama rakyatnya.
Kedua : azizun alaihima anidztum, sensitive terhadap civil society. Apa yang terjadi pada masyarakat, seakan menjadi keharusan bagi Rasul untuk melihat langsung. Ada sebuah panggilan jiwa kepemimpinan yang melekat pada diri Rasulullah. Kepedulian terhadap problema aktual yang ada di tengah-tengah relalitas kehidupan masyarakat sangat nampak pada sang revolusioner umat itu.
Ketiga : haritsun : progresif. Rasulullah mempunya komitmen mengawal aspirasi masyarakat. Komitmen untuk memajukan dan bahkan mengorbankan jiwa dan raga, begitu terpatri pada sosok sang revolusioner tersebut. Future orientation disini dimaksudkan bahwa tidak ada kepentingan pribadi, yang ada adalah sikap universal, bukan tentatif dan temporal. Keempat : bil mu’minina raufun rahim: penuh kasih sayang. Dalam roda kepemimpinanya, Rasulullah selalu mengedepankan rasa kasih dan peduli. Tidak memendang bulu dan predikat. Penilaiannya begitu obyektif.
Semua frame prototipe kepemimpinan Rasulullah dalam mengayomi rakyatnya, diulas dalam buku ini. Satu hal yang perlu kita teliti bersama adalah manejeman pemimpin. Mengapa? Karena kini kita telah digiring oleh sebuah proses demokrasi pencarian seorang pemimpin oleh rakyat secara umum. Demokrasi demikian seharusnya bisa menyadarkan para punggawa dan para penguasa (elit politik) memahami konsep qu’rani dalam kepemimpinannya. Bahwa mereka adalah khodimul ummah (pelayan umat), yang mempunyai wibawa dan integritas tinggi, serta lahir dari manajeman kepemimpinan rabbani : yaitu dari proses interaksi hablum min annas.
Pradigma rabbani seorang pemimpin dalam buku ini dicontohkan dengan sikap build in dengan kultur religi. Orang-orang yang bukan opurtunis dan hanya tahu mengeksploitasi politik kepentingan diri sendiri, kelompok, sangat tidak patuh untuk menjadi pemimpin.
Pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu memainkan manajemen dan menjalankan etos agama, kemudian menegakkan keadilan sosial dan menciptakan suatu masyarakat yang eligatarian. Buku ini layak disimak karena memberikan refrensi lengkap mengenai seorang pemimpin paling hebat didunia. Bagi para pemimpin, selayaknya menikmati buku ini agar mampu menjalankan amanah dalam mewujudkan tatanan yang baldatun thayyibatun warabbun ghafur.
Wildani Hefni, Pengelola Rumah Baca PesMa Darun Najah IAIN Walisongo Semarang

Tahun 1924 dengan berlatar belakang pada berdirinya organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, ...
Gerakan Pemuda Ansor (disingkat GP Ansor) adalah sebuah organisasi kemasyaratan pemuda di Indonesia, yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi ini didirikan pada tanggal 24 April 1934. GP Ansor juga mengelola Barisan Ansor Serbaguna (Banser). GP Ansor merupakan salah satu organisasi terbesar dan memiliki jaringan terluas di Indonesia, dimana memiliki akar hingga tingkat desa.

