
Judul buku : Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera
Penulis : Gusti Asnam
Penerbit : Ombak, Yogyakarta
Cetakan : Juli, 2007
Tebal : xv+405 Halaman
Peresensi : Miftahul A’la, Peresensi adalah Pustakawan Pesantren Mahasiswa Hasyim As’yarie Yogyakarta.
Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai tanah (pulau-pulau) dan air (lautan). Bagi bangsa Indonesia antara pulau dengan lautan, keduanya merupakan pilar penopang bangsa yang terpenting dan sulit untuk dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Sebab antara pulau dan laut seperti apa diakui oleh berbagai kalangan, merupakan satu kesatuan yang bisa membuat bangsa ini ada. Antara pulau-pulau dan lautan itu saling menyambung, dan dari proses saling keterikatan itulah, maka lahir dan ada bangsa Indonesia.
Laut bagi Indonesia bukan hanya sebagai alat pemersatu bangsa saja, akan tetapi juga memainkan peranan yang sangat urgen dan besar dalam sejarah pertumbuhan masyarakat serta bangsa Indonesia. Lewat lautlah nenek moyang orang Indonesia yang dikatakan berasal dari Hindia belakang bisa mencapai negeri ini. Lewat laut pulalah bergabai macam peradaban serta kebudayaan dari berbagai belahan dunia seperti India, Cina, Arab dan kemudian negara-negara Eropa bisa masuk di negara Indonesia. Dan yang terpenting, laut merupakan ladang serta mata pencaharian yang paling efektif bagi sebagian masyarakat Indonesia untuk memenuhi segala kehidupannya sehari-hari.
Dari perspektif ilmu sosial, khususnya sejarah laut merupakan dunia yang memiliki hubungan erat dengan alam manusia. Hubungan itu melahirkan sebuah dinamika kelautan yang melahirkan sejumlah aspek.. Menurut A.B. Lapian, ia mengatakan ada tujuh aspek maritim yang berlaku dalam masyarakat di berbagai pelosok belahan dunia, yaitu perdagangan, pelayaran, perkapalan, tradisi bahari, mitodologi laut, perompakan dan perikanan (A.B Lapian 1991:1) hlm. 7
Namun sayangnya, untuk dekade sekarang ini, pada realitasnya terjadi adanya suatu kesenjangan yang sangat kentara sekali terkait dengan penghargaan dan pemanfaatan yang di berikan oleh masyarakat dan bangsa Indonesia antara daratan dengan lautan. Bahkan untuk kurun yang cukup lama dunia maritim hampir tidak pernah diperhatikan lagi secara seksama. Penghargaan akan arti serta sumbangan laut dimasa lalu bagi bangsa Indonesia serta pemanfaatan segala potensi yang ada di dalamnya pun hampir tidak pernah direnungkan kembali. Kecuali hanya dengnan didengungkan lewat lagu-lagu seperti “Nenek Moyangku Orang Pelaut” dan Kita Keturunan Para Pelaut”, hampir tidak pernah dikenal lagi penghargaan yang diberikan masyarakat Indonesia terhadap diri mereka sendiru dan masa lalu mereka sebagai bangsa bahari. Padahal kita tahu, laut mempunyai peranan terpenting dalam kemajuan Indonesia dan begitu banyak kakayaan akan sumber alam yang dapat kita gali dan dimanfaatkan oleh masyarakatnya.
Harus diakui bahwa perhatian pemerintah serta penanam modal (kapitalis), bahkan masyarakat Indonesia sendiri lebih tercurah untuk daratan. Berbagai penelitian di dayagunakan untuk melestarikan serta mengkaji tentang daratan. Berbagai keputusan manuver militer dilakukan demi mempertahankan sejengkal tanah darat.
Pemerintahan terkesan cuek dalam menangani masalah yang terjadi di dunia maritim Indonesia. Contoh “kecuekan” pemerintah dalam dunia maritim Indonesia dapat kita lihat dari berbagai kasus yang sering terjadi akhir-akhir ini. Mulai dari kurang tegasnya pemerintahan dalam menyelesaiakan persoalan sengketa antara penduduk nelayan dengan kaum pemodal (kapital), hingga kasus kelancangan penduduk atau negara industri yang mempergunakan daerah bahari kita sebagai tempat pembuangan limbah pabrik yang mencemarkan, serta minimnya anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk berbagai kegiatan yang berkaitan dengan dunia laut.
Sebaliknya, apresiasi dan upaya masyarakat untuk memanfaatkan potensi yang ada di laut hampir tidak pernah dilaksanakan. Pencurian kekayaan laut, seperti pencurian ikan oleh negara-negara asing hingga pelanggaran wilayah air oleh armada perang luar tidak pernah digubris sama sekali oleh pemerintahan. Seolah-olah pemerintahan kita tuli, atau bahkan segaja merasa tuli dan buta, sehingga tidak pernah merespon keadaan yang semaacam itu dengan seksama.
Lebih ironisnya lagi para ilmuan sosial pun juga terkesan tidak terlalu ambil pusing dan sangat minim perhatian dan kajian mereka terhadap dunia maritim bangsa Indonesia yang dikatakan sebagai bangsa pelaut. Dibandingkan dengan kajian terhadap berbagai aspek sosial, politik, budaya, dan ekonomi di daratan kajian tentang dunia maritim sangat minim sekali. Dan akibatnya, hal tersebut berdampak pada minimnya juga kajian tentang dunia maritim yang ada di negara indonesia, bahkan terkesan dimarjinalkan oleh para ilmuan Indonesia.
Berawal dari realitas yang terjadi dalam dunia maritim semacam itulah, buku karangan Gusti Asnan yang berjudul “Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera” ini di hadirkan. Berangkat dari kegelisahan penulis yang menggebu-gubu, Gusti Asnan akan berusaha mengkaji berbagai lembaran suram yang dialami oleh dunia maritim kita selama dekade sekarang.
Dengan kehadiran karya Gusti Asnan, tentunya secara langsung akan menambah wahana pengetahuan masyarakat Indonesia tentang seluk beluk dunia maritim secara lebih detail dan lebih luas. Buku karangan Gusti Asnan ini, akan sangat membantu bagi bangsa indonesia dalam rangka memperbaharui, menjaga serta memanfaatkan dunia maritim yang ada di negara Indonesia, yang memang selama ini sering luput serta terabaikan oleh pandangan kita.
Kehadiran buku ini patut untuk kita apresiasikan dengan antusias.. Sebab di dalamnya penulis akan berusaha mengkaji lebih mendalam terkait dengan peranan dunia maritim bagi bangsa Indonesia. Sebab kita tahu dunia maritim bukan hanya sebatas alat untuk pemersatu bangsa saja, melainkan juga tempat untuk mengadu nasib dan mengais risqi bagi sebagian besar masyarakat Indoensia.(ic)

Tahun 1924 dengan berlatar belakang pada berdirinya organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, ...
Gerakan Pemuda Ansor (disingkat GP Ansor) adalah sebuah organisasi kemasyaratan pemuda di Indonesia, yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi ini didirikan pada tanggal 24 April 1934. GP Ansor juga mengelola Barisan Ansor Serbaguna (Banser). GP Ansor merupakan salah satu organisasi terbesar dan memiliki jaringan terluas di Indonesia, dimana memiliki akar hingga tingkat desa.

