
Judul : La Tahzan for Parents
Penulis : KH. Dindin Solahudin
Penerbit : Mizania, Bandung
Tebal : 240 halaman
Cetakan : I, Desember 2008
Peresensi: Didi Junaedi
Ketika kita dititipi anak, maka pada hakekatnya Allah menganggap kita memiliki kapasitas yang memadai untuk memainkan peranan dan fungsi sebagai orang tua. Maka, nikmatilah kepercayaan dan kehormatan tersebut dan bertekadlah untuk melaksanakannya sepenuh hati. Jangan pernah merasa terbebani dengan kehadiran anak di tengah-tengah kita. Justru, dia merupakan ladang amal yang luar biasa bagi orang tua.
Inilah sekelumit pandangan yang dikemukakan oleh KH. Dindin Solahudin, Penulis buku berjudul La Tahzan for Parents ini. Dalam buku setebal 240 halaman ini, lebih lanjut ia menegaskan bahwa peran sebagai orang tua menuntut bekal ilmu yang memadai. Terlalu besar tugas menjadi orang tua itu untuk ditunaikan tanpa ilmu dan hanya sampingan. (hal. 19)
Dalam keterangannya, penulis menguraikan beberapa bekal ilmu yang perlu dipersiapkan orang tua dalam proses mendidik anaknya. Sehingga, kelak ketika mereka dewasa, sang anak akan melangkah mantap menghadapi hidup ini dengan penuh optimisme dan keyakinan dengan didasari akidah yang kokoh.
Adapun sejumlah bekal yang harus dimiliki orang tua dalam mendidik anaknya, menurut lulusan S2 dari The Australian National University ini anatara lain; Pertama, menjadikan anak mukhathab (communicant, lawan bicara, teman curhat). Dengan cara ini sang anak akan merasa nyaman ketika menyampaikan unek-unek serta segala keluh kesah dalam kesehariannya.
Kedua, menyikapi anak dengan penuh kesabaran. Tingkah laku anak yang seringkali menjengkelkan bisa dimaklumi karena mungkin mereka belum cukup dewasa untuk menjalani hidup. Dalam kondisi seperti ini, orang tua dituntut untuk bersabar dengan selalu memberikan nasihat yang menyejukkan.
Ketiga, jangan merasa terbebani amanah. Amanah berupa anak adalah sebuah kepercayaan yang diberikan Allah Swt kepada para orang tua. Menjaga amanah dengan baik merupakan bentuk ibadah yang bernilai tinggi. Maka, hendaknya para orang tua menjadikan amanah ini sebagai ladang amal, yang kelak akan dipanen hasilnya di akhirat.
Keempat, memberikan nafkah yang halalan thayyiban. Menafkahi keluarga, anak dan istri dengan nafkah yang halal dan baik. Hal ini penting, karena sedikit saja aliran darah anak tercampuri oleh makanan dan minuman yang tidak halal, atau yang diperoleh dari cara yang tidak halal, maka jangan harap kelak anak menjadi anak yang baik (shalih). Karena makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuhnya akan membentuk karakter serta kepribadiannya ketika dewasa nanti. Lebih dari itu, nafkah yang tidak halal tidak akan membwa keberkahan dalam hidup.
Kelima, menginstall sistem akidah. Pondasi utama yang harus ditanamkan sedini mungkin kepada anak adalah akidah. Keteguhan memegang akidah, lebih-lebih di era modern sekarang ini akan menjadi dinding yang kokoh dalam menghadapi berbagai cobaan, rintangan serta godaan hidup.
Keenam, menanamkan shalat kepada anak. Salah satu Hadis Nabi menyebutkan, “(Mulailah) mendorong anak-anakmu untuk melakukan shalat pada usia tujuh tahun dan pukullah mereka (jika) pada usia sepuluh tahun (masih belum juga taat menunaikan shalat).”
Perintah shalat dalam hadis ini hendaknya dimaknai para orang tua sebagai sarana pembelajaran kepada anak untuk patuh kepada Sang Khalik. Dalam prakteknya, orang tua hendaknya menjadi contoh serta teladan bagi anak-anaknya. Sikap persuasif akan lebih dihargai anak daripada tindakan represif dengan cara memaksa anak untuk shalat. Lebih-lebih jika orang tua hanya menyuruh tanpa memberi contoh. Pendidikan semacam ini tidak akan pernah berhasil.
Inilah sekilas beberapa bekal yang diungkapkan penulis bagi para orang tua dalam proses pendidikan anak. Dan masih banyak lagi bekal lain yang diuraikan dengan panjang lebar dalam buku ini.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Bandung ini mempunyai pandangan yang agak berbeda dengan pandangan kebanyakan orang tua dalam hal mendidik anak.
Menurutnya, Kewajiban orang tua adalah mendidik anak dengan sepenuh hati (sungguh-sungguh dan ikhlas). Terutama fokus pada proses bukan hasil (cetak miring dari peresensi). Dengan demikian, kewajiban orang tua adalah mendidik, sebagai proses, bukan kewajiban mencetak anak soleh, sebagai hasil. Baik buruk ada di tangan Allah, kita tidak berkewajiban mencetak anak saleh. Jika kita sudah bekerja keras mendidik anak, bertawakallah kepada Allah. Hasil akhir kita serahkan kepada-Nya. (hal. 75)
Pandangan penulis ini didasarkan pada salah satu firman Allah Swt dalam Q.S. Al-Ghasyiyah (88): 22, “Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka”.
Buku ini menjadi sangat menarik karena disertai contoh-contoh kasus serta kisah-kisah yang menggugah dikemas dengan bahasa sederhana dan mengalir. Jika anda ingin panduan proses mendidik anak ala Islam dan juga ingin mewujudkan keluarga sakinah, maka buku ini merupakan pilihan yang tepat.***

Tahun 1924 dengan berlatar belakang pada berdirinya organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, ...
Gerakan Pemuda Ansor (disingkat GP Ansor) adalah sebuah organisasi kemasyaratan pemuda di Indonesia, yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi ini didirikan pada tanggal 24 April 1934. GP Ansor juga mengelola Barisan Ansor Serbaguna (Banser). GP Ansor merupakan salah satu organisasi terbesar dan memiliki jaringan terluas di Indonesia, dimana memiliki akar hingga tingkat desa.

