Surabaya (Ansor Online): KURSI kayu dengan alas dan sandaran busa yang dibalut kulit imitasi cokelat tua tersebut terlihat berdebu. Itulah kursi empuk di ruang rapat Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DPRD Jatim yang kini mulai jarang diduduki Ketua Fraksi Masjkur Hasjim.
Ya, Masjkur belakangan memang sering tak terlihat di kompleks gedung dewan. Terutama setelah pemilu lalu dia gagal memperoleh suara signifikan.
Di kalangan para legislator di Indrapura, Masjkur yang 14 April lalu genap berusia 60 tahun tersebut merupakan politikus senior. Mantan ketua DPW PPP Jatim itu menduduki kursi dewan sejak 1987. Kala itu, ketua DPRD Jatim dijabat Asri Soebarjati Soenardi. Gubernurnya adalah Wahono.
Kini, Masjkur tengah mengakhiri periode kelimanya secara berturut-turut sebagai wakil rakyat. Dia menjadi anggota dewan pada 1987-1992, kemudian berlanjut pada 1992-1997, 1997-1999, 1999-2004, dan finis pada periode 2004-2009.
Memang, secara aturan, periodisasi anggota dewan berdurasi lima tahunan. Namun, saat terjadi reformasi 1997 dan perubahan ketentuan Undang-Undang Susunan dan Kedudukan (Susduk) MPR, DPR, DPRD Nomor 5/1974 menjadi UU Susduk 22/1999, masa jabatan untuk periode 1997-2002 terpangkas jadi hanya dua tahun. Karena itu, meski Masjkur mampu bertahan dalam lima periode, dia ”hanya” duduk selama 22 tahun.
Ayah enam anak dan enam cucu itu gagal menjadi anggota legislatif lagi untuk periode keenam mungkin karena tertantang untuk ”naik” ke tingkat DPR. Pria asal Pandaan, Pasuruan, tersebut maju dari daerah pemilihan Jatim IX (Bojonegoro-Tuban). Namun, dalam persaingan merebut enam kursi dari dapil itu, Masjkur gagal melangkah ke Senayan.
”Saya tahu diri. Namun, bila putusan Mahkamah Agung (MA) dilaksanakan, mungkin posisi saya bisa menggeser A.S. Hikam (caleg Hanura yang juga mantan menteri negara riset dan teknologi dalam Kabinet Persatuan Nasional, Red),” kata Masjkur ketika ditemui di DPRD Jatim, Kamis (13/8).
Peluang menjadi anggota DPR, bagi dia, tetap masih ada. Berdasar penghitungan, Masjkur menganggap suara yang dikantongi lebih banyak daripada Hikam bila seluruh tahap diakumulasi. ”Tinggal KPU memakai tafsir yang mana. Kursi di pusat jelas diperebutkan banyak pihak. Toh kalau tidak jadi, saya siap pensiun dan kembali ke masyarakat,” tuturnya.
Dia mengungkapkan, seabrek aktivitas sudah menanti dirinya setelah pensiun nanti. Dia bisa menjadi guru, dosen, maupun mubalig. Profesi-profesi itu sudah dia geluti sebelum maupun saat menjadi anggota dewan. Hanya, karena urusan di gedung dewan lebih prioritas, dia mengaku waktu untuk profesi ”sampingan” tersebut tidak bisa maksimal.
”Meski tidak bisa ke Senayan, saya masih bisa jadi DPR alias dinas pengajian rutin,” canda Masjkur.
Sebelum menjadi wakil rakyat, Masjkur adalah guru agama di kotanya. Profesi itu dijalani sejak masih kuliah di Universitas Hasyim Asy’ari (sekarang Institut Keislaman Hasyim Asy’ari) di kompleks Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang. Namun, lantaran impitan ekonomi keluarga, anak petani tersebut tidak sanggup melanjutkan kuliah yang baru berjalan dua semester.
Mengaku bondo nekat, Masjkur muda memberanikan diri merantau ke Surabaya. Di ibu kota Jatim itu, dia sempat mengajar di SD Musra Kupang Krajan, Jalan Petemon Timur, dan SD Maospati di Kompleks Pasar Turi. Meski bergaji kecil, dia mampu menabung untuk melanjutkan kuliah di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunan Ampel, Surabaya.
Bekerja sambil kuliah dilakoni Masjkur sekitar sembilan tahun. Berkat ketekunan dalam mengajar, dia bahkan pernah dipercaya menjadi kepala SMP KH Gufron Faqih di Keputran Kejambon. Namun, lantaran asyik mencari nafkah, dia nyaris dikeluarkan (DO) dari Kampus IAIN.
”Tekad saya sebagai orang desa, cuma dengan bondo dengkul (bekal lutut), bagaimana caranya bisa mengadu nasib di kota,” kenangnya.
Kenekatan Masjkur lain adalah menikahi Aisyah, tetangga dekat tempatnya indekos di Jemur Wonosari Gang Lebar pada 1972. Padahal, ketika itu dia masih kuliah semester II.
”Ibarat trisno jalaran soko kulino (cinta datang dari kebiasaan), saya percaya diri saja melamar dia,” ujarnya mantap. Istri Masjkur adalah kakak kandung Khofifah Indar Parawansa, menteri negara pemberdayaan perempuan pada Kabinet Persatuan Nasional.
Kemampuan Masjkur sebagai organisatoris membuat dirinya kian mendapat tempat. Dibesarkan di lingkungan keluarga Nahdlatul Ulama (NU), sejak kuliah di IAIN, dia aktif di salah satu badan otonomi NU, Gerakan Pemuda (GP) Ansor Surabaya. Kemudian, ketika GP Ansor Jatim dipimpin Hasyim Muzadi (kini ketua umum PB NU, Red), Masjkur dipercaya menjadi wakil Hasyim. Bahkan sampai dua periode.
Jabatan strategis seperti wakil ketua Bidang Dakwah PW NU Jatim, komandan Banser Jatim, wakil ketua DPD KNPI Jatim, serta beberapa jabatan lain pernah dipegang Masjkur. Dia terjun ke kancah politik bersama Partai NU menjelang Pemilu 1971. Sejak partai keagamaan (Islam) bergabung menjadi PPP sebelum Pemilu 1977, mantan ketua Badan Kehormatan DPRD Jatim tersebut mengaktualisasikan diri sebagai juru kampanye partai berlambang Kakbah itu.
”Sejak itu, saya terjun total di politik. Sejak awal sampai sekarang tetap di PPP,” tegas Masjkur.
Sebagai pejabat teras partai tingkat provinsi, dia diuntungkan oleh sistem Pemilu 1987, 1992, 1997, 1999, dan 2004 yang mencoblos partai. Namanya selalu nangkring di nomor urut satu alias nomor jadi. Baru setelah diberlakukan pemilihan langsung mulai Pileg 2009, ketua tim pemenangan Khofifah-Mujiono dalam pemilihan gubernur Jatim itu tak lolos menjadi anggota DPR.
Hampir pasti tidak jadi wakil rakyat yang terhormat, Masjkur yakin tidak akan mengalami post power syndrome. Sebab, berbagai posisi siap menyambut dirinya. Salah satunya, Universitas Islam Taruna (kini Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Tarbiyah) Surabaya yang dia dirikan pada 1983.
”Setelah pensiun, saya malah bisa lebih fokus mengembangkan kampus dan ponpes mahasiswa. Selama ini saya hanya sempat ngajar seminggu sekali. Mungkin nanti bisa seminggu tiga kali,” jelasnya.
Di kampus di Jalan Kalirungkut Mejoyo, Surabaya, itu, Masjkur mengajar mata kuliah ilmu hadis dan administrasi publik. Dengan pengalaman segudang sebagai anggota legislatif, menurut dia, ilmu yang ditularkan kepada para mahasiswa bisa lebih aplikatif.
Selain kembali ke kampus, Masjkur berharap bisa mengembangkan ponpes mahasiswa Roudlotul Banin Wal Banat yang dibangun tak jauh dari tempat tinggalnya di Jemur Wonosari mulai 2003. ”Jadi, saya sudah siap segalanya kembali ke masyarakat,” tegasnya. (jp)