Pak Ud Sang “Jenderal Sejati”

Selasa, 16 Januari 2007 9:22

OYusuf Hasyim.jpegleh: SHOLIHIN HIDAYAT

DIA lahir ketika bangsa ini sedang dalam proses pencarian jati dirinya pada 1930, atau empat tahun setelah kelahiran Nahdlatul Ulama (NU), jamiyah yang didirikan ayahandanya, Hadratussyekh KH Hasyim Asyari. Seperti umumnya putra seorang pemimpin dan kiai besar, dia tumbuh seiring dengan endapan gejolak spiritual para pemimpin bangsa saat itu, yang penuh keprihatinan atas nasib bangsanya yang telah sekian lama berada dalam kungkungan penjajahan.

KH Yusuf Hasyim -yang lebih akrab dipanggil Pak Ud-, Minggu lalu dipanggil menghadap Yang Mahakuasa dalam usia 77 tahun. Sejak kecil, Pak Ud dikenal sebagai sosok pemberani dan pandai bergaul dengan siapa saja dan komunitas mana saja. Saking senangnya kumpul-kumpul dengan banyak orang, hari-hari di masa kecil hingga remaja lebih banyak dihabiskan di luar rumah, bergabung dengan berbagai kegiatan, mulai sepak bola, main musik, dan kepanduan. Oleh teman-teman sebayanya, Pak Ud dikenal sebagai sosok yang sangat terampil memimpin, sangat pemberani dalam menghadapi berbagai tantangan fisik maupun tantangan perdebatan konseptual.

Di kalangan keluarga, sosok Pak Ud punya kebiasaan berbeda dengan saudara-saudaranya. Dia sejak kecil sangat tertarik mempelajari perkembangan masyarakat. Karena itu, di kamar pribadinya lebih banyak terlihat tumpukan surat kabar dan kliping-kliping berita daripada kitab-kitab kuning yang umumnya menjadi bacaan favorit keluarga kiai.

Saat bangsa ini menghadapi agresi militer Belanda setelah memproklamasikan kemerdekaan, Yusuf Hasyim yang seorang gus itu lebih tertarik masuk pergerakan. Dia kemudian bergabung dengan tentara Hizbullah dan sangat aktif mengoordinasikan kalangan santri untuk terjun langsung di medan pertempuran melawan agresi militer Belanda.

Menurut riwayat, ketika Panglima Soedirman pada 1947 berkunjung ke kediaman KH Hasyim Asyari, sosok pemuda Yusuf Hasyim langsung menjemputnya di pintu gerbang dan menyampaikan keinginannya untuk menjadi bagian dari pasukan di bawah komando Pak Dirman. Saat keinginan sang Gus disampaikan pada Hadratussyekh, Kiai Hasyim hanya tersenyum seraya berucap, “Beribu-ribu santri siap mati syahid demi mempertahankan kemerdekaan negaranya.”

Mendengar ucapan Hadratussyekh, Pak Dirman seketika itu mengubah duduknya menjadi lebih tegap seakan terinjeksi oleh energi berkekuatan tinggi, sehingga dia yang dalam keadaan sakit menjadi sehat seketika. Namun, Hadratussyekh tak mengizinkan pemuda Yusuf Hasyim bergabung langsung dengan tentara di bawah pimpinan Pak Dirman.

Di kemudian hari, saat tentara tidak mungkin lagi berperang sendirian mempertahankan kemerdekaan negara tercinta ini, Hadratussyekh mengizinkan para kiai membentuk pasukan pejuang kemerdekaan yang diberi nama Hizbullah (tentara Allah) dengan pemuda Yusuf Hasyim sebagai salah satu pimpinannya. Keberadaan Yusuf Hasyim yang berkarakter pemberani dalam pasukan Hizbullah menjadikan faksi tentara

pejuang ini dalam waktu singkat sangat harum namanya di kalangan umat Islam. Maka, beramai-ramailah rakyat, khususnya kalangan santri di seluruh Indonesia, bergabung dengan pasukan Hizbullah dengan semangat mati syahid demi bangsa dan negara.

Setelah agresi militer Belanda berakhir dan beberapa faksi pejuang digabung dalam satu wadah ketentaraan nasional, Pak Ud pun diminta langsung oleh Sukarno -sang proklamator- agar masuk dan bergabung dengan tentara nasional. Tawaran yang penuh penghargaan dari presiden pertama RI itu

ditolak secara halus oleh Yusuf Hasyim dengan alasan lebih ingin berkhidmat lebih banyak di bidang kemasyarakatan dan keagamaan. Maka, alasan itu dapat diterima oleh Soekarno dan atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan itu Pak Ud diberi pangkat istimewa, (konon) mayor jenderal.

Meski tak lagi aktif sebagai tentara pejuang, jiwa pejuangnya terus menggelora dalam menapaki hari-hari mengisi kemerdekaan sebagai pemimpin masyarakat yang penuh dedikasi dan komitmen “berani mati” demi menjaga keutuhan bangsa dan keberlangsungan kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

Begitu besarnya komitmen perjuangan kebangsaan yang terus tumbuh berkembang dalam dirinya, langkah-langkah Pak Ud dalam perjuangan di bidang sosial politik sering mencerminkan karakter sosok pimpinan tentara dalam mempertahankan idealismenya. Itulah sebabnya, orang-orang sekelilingnya terkadang memanggilnya dengan sebutan “sang jenderal”. Pak Ud adalah sosok “jenderal sejati” bagi kita yang memimpikan kebesaran harga diri bangsa dan negara tercinta ini. Dia

tak kenal lelah menembus medan perjuangan walau tulang-tulangnya telah renta dimakan usia. Tak peduli risiko apa pun yang bakal dihadapi, demi cita-cita kemaslahatan bangsa dan negara, jiwa dan raga dipertaruhkan sebagai persembahannya. Maka, sang jenderal sejati, terlihat tak pernah gentar menghadapi siapa pun di negeri ini, demi keyakinan yang diembannya.

Di era Orde Baru, di bawah pemerintahan rezim Soeharto, nama Pak Ud masuk dalam daftar politisi papan atas setara dengan nama-nama KH Idham Kholid, Amir Murtono, Ali Murtopo, Amir Mahmud, dan sebagainya. Bedanya, Pak Ud ternyata pada puncak karir politiknya lebih memilih

menjadi sosok kontroversial yang bersuara lantang dalam mengkritisi berbagai langkah politik pemerintah Soeharto yang dianggapnya tidak sejalan dengan semangat dan nilai-nilai kebangsaan.

Nyata-nyata putra Hadratusyekh ini telah mewarisi darah pejuang ayahandanya yang tak pernah mau kompromi dengan hal-hal yang dapat merendahkan martabat bangsa. Selamat jalan Pak Ud!
SHOLIHIN HIDAYAT,
pemerhati masalah NU, mantan pemimpin redaksi Jawa Pos.