<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gerakan Pemuda Ansor &#124; Official Website &#187; Hikmah</title>
	<atom:link href="http://gp-ansor.org/category/hikmah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gp-ansor.org</link>
	<description>Berpadu Membangun Negeri</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 02:09:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Mau Sukses Ibadah Puasa Ramadhan? Tulus Kuncinya</title>
		<link>http://gp-ansor.org/hikmah/19964-29072010.html</link>
		<comments>http://gp-ansor.org/hikmah/19964-29072010.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 04:59:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hernoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gp-ansor.org/?p=19964</guid>
		<description><![CDATA[Bogor (GP Ansor Online): &#8220;Ikhlas&#8221; atau ketulusan dalam melaksanakan berbagai perintah agama serta tabah dalam menjauhi semua yang dilarang merupakan kunci meraih sukses ibadah Ramadhan, kata Pengsauh Pondok Pesantren Lembah Arafah Bogor, KH Anwar Sanusi, Rabu. Pesantren Lembah Arafah terletak di jantung wisata Puncak, tepatnya di Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. &#8220;Kalau kita mau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bogor (GP Ansor Online): &#8220;Ikhlas&#8221; atau ketulusan dalam melaksanakan berbagai perintah agama serta tabah dalam menjauhi semua yang dilarang merupakan kunci meraih sukses ibadah Ramadhan, kata Pengsauh Pondok Pesantren Lembah Arafah Bogor, KH Anwar Sanusi, Rabu.</p>
<p>Pesantren Lembah Arafah terletak di jantung wisata Puncak, tepatnya di Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.</p>
<p>&#8220;Kalau kita mau meraih sukses menjalankan ibadah Ramadhan, kuncinya adalah ikhlas,&#8221; kata Anwar Sanusi saat memberikan &#8220;tausiah&#8221; di hadapan dosen dan karyawan Institut Pertanian Bogor (IPB) di kampus IPB Darmaga Bogor.</p>
<p>Agriantia atau perkumpulan isteri dosen dan karyawan (Dharma Wanita) IPB pada Selasa menggelar kegiatan &#8220;tarhib&#8221; yaitu penyambutan tibanya bulan Ramadhan. &#8220;Tarhib&#8221; Ramadhan tersebut diselenggarakan di gedung Andi Hakim Nasution kampus IPB Darmaga.</p>
<p>Acara yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kekeluargaan tersebut, dihadiri ratusan peserta yang berasal dari lingkup rektorat, berbagai fakultas serta unit kerja di lingkungan IPB.</p>
<p>&#8220;Tarhib&#8221; Ramadhan merupakan acara tahunan yang selalu diselenggarakan IPB. Kali ini kegiatan tersebut diisi dengan pengajian bersama dan ramah tamah antar sesama anggota Agrianita IPB.</p>
<p>Pengajian bersama menghadirkan KH Anwar Sanusi yang didaulat memberikan &#8220;tasiah&#8221; alias ceramah agama. Selain tercatat sebagai pengasuh Pesantren Lembah Arafah Puncak, Anwar Sanusi juga merupakan penceramah yang kerap mengisi acara di berbagai televisi dan wajahnya sering mengisai layar kaca.</p>
<p>Anwar Sanusi mengemukakan, &#8220;Ikhlas merupakan kunci meraih sukses, tidak hanya Ramadhan, namun juga sukses dunia dan akhirat.&#8221;</p>
<p>Dia lantas menyitir sebuah hadits Nabi, yang menyebutkan bahwa orang yang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan selama sebulan penuh, maka semua dosanya akan diampuni Allah SWT.</p>
<p>Menurut dia, ada tiga hal perkara yang menjadi syarat diampuni semua dosa yaitu keridhaan dan doa kedua orang tua, karena keridhaan Allah sangat bergantung pada keridhaan keduanya.</p>
<p>Selanjutnya, antar suami dan isteri harus saling memberikan maaf atas berbagai kesalahan yang pernah dilakukan. Terakhir, dengan tetangga atau kerabat harus akur.</p>
<p>&#8220;Bila tidak hari tigak bertegur sapa, bukan hanya akan berdosa, namun pengampunan terhadap dosa-dosa yang pernah dilakukan menjadi terhalang,&#8221; demikian kata Anwar Sanusi. </p>
<p>Sumber: antara</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gp-ansor.org/hikmah/19964-29072010.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musibah Sebagai Jembatan Kemuliaan</title>
		<link>http://gp-ansor.org/hikmah/19697-19072010.html</link>
		<comments>http://gp-ansor.org/hikmah/19697-19072010.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 09:38:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hernoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kemuliaan]]></category>
		<category><![CDATA[Musibah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gp-ansor.org/?p=19697</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Agus Syafii Ditengah kebahagiaan hadir. Tiba-tiba musibah datang memporakporandakan semua. Musibah menjadi terasa teramat berat karena kita sedang berbahagia. Biasanya ditengah kebahagiaan seperti itu kita lengah. Jika ada hal yang buruk kita benar-benar terhenyak dibuatnya. Sama sekali tidak kita sangka. Kebahagiaan mampu membuat diri kita mabuk kepayang. Kita tidak dalam keadaan sadar dan mawas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_19698" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-19698" href="http://gp-ansor.org/hikmah/19697-19072010.html/attachment/musibah"><img class="size-medium wp-image-19698" src="http://gp-ansor.org/files/2010/07/musibah-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi</p></div>
<p>Oleh: Agus Syafii</p>
<p>Ditengah kebahagiaan hadir. Tiba-tiba musibah datang memporakporandakan semua. Musibah menjadi terasa teramat berat karena kita sedang berbahagia. Biasanya ditengah kebahagiaan seperti itu kita lengah. Jika ada hal yang buruk kita benar-benar terhenyak dibuatnya. Sama sekali tidak kita sangka.</p>
<p>Kebahagiaan mampu membuat diri kita mabuk kepayang. Kita tidak dalam keadaan sadar dan mawas diri dengan keadaan sekeliling kita karena kita merasakan kenikmatan yang tiada tara sehingga begitu tertimpa kepedihan membuat tubuh kita seolah terguncang hebat. Tanpa kita sadari terucap oleh kita.</p>
<p>&#8216;Ya Allah, kenapa ini terjadi pada diri ku? Aku tidak lalai, tapi aku tidak siap. Aku tidak melupakan diriMu, tetapi aku sedang berbahagia.&#8217;</p>
<p>Sabar menerima musibah membuat tubuh kita menjadi ringan dari penderitaan bahkan mampu menghapus dosa-dosa kita. Setiap diri kita senantiasa memiliki potensi untuk datangnya musibah dan musibah yang datang akan disesuaikan dengan kadar kemampuan kita dalam menerimanya karena Allah sangatlah memahami seberapa kekuatan kita dalam menerima setiap musibah sehingga Allah tidak akan memberikan musibah diluar kesanggupan kita. Cuman seringkali kita tidak peka dan segera mencari akar musibah sehingga kita menyelesaikan musibah atas petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala.</p>
<p>Musibah hadir di dalam kehidupan kita sebagai proses menyucikan kita dari segala kotoran yang melekat dalam jiwa kita sehingga dosa dan segala kotoran jiwa kita dibersihkan dengan kekuatan daya pembersihannya. Bahkan sebagian kalangan ulama mereka terkadang memohon kepada Allah agar diberikan musibah dan penderitaan sebagai wujud pembersihan diri atau yang disebut dengan &#8216;Tazkiyatun Nafs&#8217;, sebab baginya musibah adalah jembatan menuju kemuliaan dalam hidup ini.</p>
<p>Bila kita memahami bahwa musibah sebagai jembatan menuju kemuliaan di dalam kehidupan kita maka sudah sepatutnya kita mampu menyambut disetiap musibah dengan lapang dada dan rasa optimis di dalam hidup ini bahwa Allah memuliaan hidup kita dengan berbagai cara yang indah, terkadang sekalipun kita merasakan hal itu menyakitkan dan membuat hati terasa pedih.</p>
<p>Dan Sesungguhnya akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengucapkan &#8216;inna lillaahi wa inna ilaihi raajiuun&#8217; (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya kami akan kembali). Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk. (al-Baqarah : 155 : 157).</p>
<p>* Tulisan ini materi on air pada acara &#8216;Power of Peace&#8217; di Radio Bahana 101.8 FM Jakarta, tanggal 20 Juni 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gp-ansor.org/hikmah/19697-19072010.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DENGKI DAN DENDAM</title>
		<link>http://gp-ansor.org/hikmah/19551-15072010.html</link>
		<comments>http://gp-ansor.org/hikmah/19551-15072010.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 09:43:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hernoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Dendam]]></category>
		<category><![CDATA[Dengki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gp-ansor.org/?p=19551</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Abbas Shofwan Matla&#8217;il Fajr Dalam Al-Quran Allah berfirman yang artinya: &#8220;Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang di karuniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi seorang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_19552" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-19552" href="http://gp-ansor.org/hikmah/19551-15072010.html/attachment/marah"><img class="size-medium wp-image-19552" src="http://gp-ansor.org/files/2010/07/marah-300x284.jpg" alt="" width="300" height="284" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi</p></div>
<p>Oleh Abbas Shofwan Matla&#8217;il Fajr</p>
<p>Dalam Al-Quran Allah berfirman yang artinya: &#8220;Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang di karuniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi seorang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah yang maha mengetahui segala sesuatu. (An-Nisa: 32).</p>
<p>Dendam dalam bahasa Arab di sebut hiqid, ialah &#8220;Mengandung permusuhan didalam batin dan menanti-nanti waktu yang terbaik untuk melepaskan dendamnya, menunggu kesempatan yang tepat untuk membalas sakit hati dengan mencelakakan orang yang di dendami&#8221;.</p>
<p>Berbahagialah orang yang berlapang dada, berjiwa besar dan pema &#8216;af. Tidak ada sesuatu yang menyenangkan dan menyegarkan pandangan mata seseorang, kecuali hidup dengan hati yang bersih dan jiwa yang sehat, bebas dari rasa kebingungan dan bebas dari rasa dendam yang senantiasa menggoda manusia. Seseorang yang hatinya bersih dan jiwanya sehat, ialah mereka yang apabila melihat sesuatu nikmat yang diperoleh orang lain, ia merasa senang dan merasakan karunia itu ada pula pada dirinya. Dan apabila ia melihat musibah yang menimpa seseorang hamba Allah, ia merasakan sedihnya dan mengharapkan kepada Allah untuk meringankan penderitaan dan mengampuni dosanya.<br />
Demikianlah seorang muslim, hendaknya selalu hidup dengan hati yang bersih dan jiwa yang sehat, rela terhadap ketentuan Allah dan terhadap kehidupan. Jiwanya bebas dari perasaan dengki dan dendam. Karena perasaan dengki dan dendam itu merupakan penyakit hati, yang dapat merembeskan iman keluar dari hati, sebagaimana merembesnya zat cair dari wadah yang bocor.</p>
<p>Islam sangat memperhatikan kebersihan hati karena hati yang penuh dengan noda-noda kotoran itu, dapat merusak amal sholeh, bahkan menghancurkannya. Sedang hati yang bersih, jernih dan bersinar itu dapat menyuburkan amal dan dorongan semangat untuk meningkatkan amal ibadah, dan Allah memberkahi dan memberikan segala kebaikan kepada orang yang hatinya bersih.</p>
<p>Oleh karena itu, jamaah muslimin yang sebenarnya, hendaknya jamaah yang terdiri dari orang-orang yang bersih jiwanya dan sehat hatinya, yang terdiri di atas saling cinta mencintai, saling kasih mengasihi, sayang menyayangi, yang merata, di atas pergaulan yang baik dan kerjasama yang saling menguntungkan timbal balik, di dalamnya tidak ada seorang yang untung sendiri, bahkan golongan yang semacam ini, sebagaimana di gambarkan dalam Al-Qur&#8217;an yang artinya: &#8220;Yang orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa &#8216;Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang beriman, Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau maha penyantun lagi maha penyayang&#8221;. (Al-Hasyr: 10).</p>
<p>Apabila rasa permusuhan telah tumbuh dengan suburnya, sampai berakar, dapat mengakibatkan hilangnya rasa kasih sayang dan hilangnya kasih sayang dapat mengakibatkan rusaknya perdamaian. Dan jika sudah sampai demikian, maka dapat menghilangkan keseimbangan yang pada mulanya menjurus kearah perbuatan dosa-dosa kecil, dan akhirnya dapat mengarah kepada dosa-dosa besar yang mengakibatkan turunnya kutukan Allah. Perasaan iri hati karena orang lain memperoleh nikmat kadangkala dapat menimbulkan khayalan yang bukan-bukan sampai membuat-buat kedustaan.</p>
<p>Islam membenci perbuatan demikian dan memperingatkan jangan sampai terjerumus kedalamnya. Mencegah adanya ketegangan dan permusuhan, menurut Islam merupakan ibadah yang besar, sebagaimana sabda Nabi saw yang artinya: &#8220;Maukah aku beritahukan kepadamu perkara yang lebih utama dari puasa, shalat dan shadaqoh?, Jawab sahabat: &#8220;Tentu mau&#8221;. Sabda Nabi saw: &#8220;yaitu mendamaikan di antara kamu, karena rusaknya perdamaian di antara kamu adalah menjadi pencukur yakni perusak agama&#8221;. (HR. Abu Daud dan Turmudzi).</p>
<p>Syaitan kadangkala tidak mampu menggoda orang-orang pandai untuk menyembah berhala, tetapi syaitan sering juga mampu menggoda dan menyesatkan manusia, melalui celah-celah pergaulan dengan cara merusak perdamaian diantara mereka itu sendiri, sehingga dengan hawa nafsunya yang tidak terkendalikan, mereka tersesat dan tidak mengetahui hak-hak Tuhannya, bagaikan menyembah berhala. Di sinilah syaitan mulai menyalakan api permusuhan di hati manusia dan jika api permusuhan itu telah menyala, ia senang melihat api itu membakar manusia dari zaman ke zaman, sehingga turut terbakarnya hubungan dan segi-segi keutamaan manusia. Kita harus mengetahui bahwa manusia itu berbeda-beda tabiat dan wataknya, berbeda-beda kecerdasan akal dan daya tangkapnya.</p>
<p>Karena itu dalam pergaulan dan pertemuan di lapangan kehidupan, kadangkala mereka membuat kesempatan yang mengakibatkan perselisihan dan permusuhan. Maka Islam telah memberikan cara penanggulangan mensyari&#8217;atkan penepatan akhlak yang baik, yang membuat hati mereka luluh dan sarat berpegang kepada kasih sayang. Dan Islam melarang memutuskan hubungan dan berbantah-bantahan.</p>
<p>Memang kita sering merasakan seolah-olah kejelekan itu dilemparkan kepada kita, sehingga kita sering tidak mampu mengendalikan perasaan dan kejengkelan kita, yang apabila fikiran kita sempit, maka timbullah niat untuk memutuskan hubungan dengan si pemeluknya. Tetapi Allah tidak rela perbuatan yang demikian. Memutuskan hubungan sesama muslim dilarang, sebagaimana sabda nabi saw yang artinya: &#8220;Janganlah kamu putus hubungan, belakang membelakangi, benci membenci, hasut menghasut. Hendaknya kamu menjadi hamba Allah yang bersaudara satu sama yang lain (yang muslim) dan tidaklah halal bagi (setiap) muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari&#8221;. (HR. Bukhori dan Muslim).</p>
<p>Dalam hadits ini dinyatakan batas tiga hari, karena pada waktu tiga hari kemarahan sudah bisa reda, setelah itu wajib bagi seorang muslim, untuk menyambung kembali hubungan tali persaudaraannya dengan saudara-saudaranya sesama muslim, dan membiasakan perilaku yang utama ini. Karena putusnya tali persaudaraan ini tak ubahnya seperti awan hitam atau mendung apabila telah di hembus angin, maka hilanglah mendungnya dan cuacapun menjadi bersih dan terang kembali.<br />
Ringkasnya, hendaknya orang-orang yang mempunyai penyakit hati, seperti rasa dendam, iri hati, dan dengki selalu ingat bahwa kekuasaan Allah mengatasi segala kekuasaan. Dan hendaklah ia ingat, bahwa harta benda dan kedudukan yang bersifat duniawi itu selamanya tidak kekal. Paling jauh dan lama, sepanjang hidupnya saja, bahkan mungkin sebelum itu. Dalam Al-Quran Allah berfirman yang artinya: &#8220;Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang di karuniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi seorang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah yang maha mengetahui segala sesuatu. (An-Nisa: 32).</p>
<p>Sumber: http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/buletin-jumat/958-dengki-dan-dendam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gp-ansor.org/hikmah/19551-15072010.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kedahsyatan Efek Berbaik Sangka</title>
		<link>http://gp-ansor.org/hikmah/19351-06072010.html</link>
		<comments>http://gp-ansor.org/hikmah/19351-06072010.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jul 2010 06:32:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hernoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Husnuzhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gp-ansor.org/hikmah/19351-06072010.html</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham Selain doa dan ikhtiar, ada amalan lain yang juga bisa mengantarkan proses &#8216;perubahan takdir&#8217;. Amalan itu adalah amalan hati, yaitu selalu berbaik sangka (husnuzhan) dengan semua keputusan Allah SWT. Berbaik sangka merupakan produk dari olahan kekuatan iman. Tidak mungkin seseorang memiliki kemuliaan akhlak berupa husnuzhan, jika tidak yakin dengan segala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham</p>
<p>Selain doa dan ikhtiar, ada amalan lain yang juga bisa mengantarkan proses &#8216;perubahan takdir&#8217;. Amalan itu adalah amalan hati, yaitu selalu berbaik sangka (husnuzhan) dengan semua keputusan Allah SWT. Berbaik sangka merupakan produk dari olahan kekuatan iman. Tidak mungkin seseorang memiliki kemuliaan akhlak berupa husnuzhan, jika tidak yakin dengan segala sesuatu yang sudah diputuskan Allah.</p>
<p>Seseorang yang mengaku beriman sadar benar bahwa dari setiap peristiwa maka Allah telah mentransformasikan mutiara hikmah untuk manusia. Yakni, sesuatu yang berharga yang hilang milik orang beriman (al-Hikmatu zhalatul mu&#8217;minin). Artinya, kejadian yang menimpa kita, pasti ada kadar atau nilai berharga yang sudah dipersiapkan untuk kita. Namun, sementara ini belum ditemukan. Karena itulah, kata Imam Ali karramallahu wajhah, &#8221;Jika kita menemukannya, segeralah diambil; fain wajadaha akhadzaha.&#8221;</p>
<p>Pertanyaannya, bagaimana bisa mengambil barang berharga itu, sementara kita sulit untuk mendeteksinya. Di sinilah peranan amalan hati, yaitu husnuzhan. Jika kita mempersangkakan bahwa ada banyak kebaikan yang telah Allah sediakan untuk kita dari takdir-Nya itu, akan benarlah persangkaan kita.</p>
<p>Karena itu, bagaimana rupa takdir kita ke depan, turut ditentukan dari persangkaan kita terhadap-Nya. Simak Hadis Qudsy berikut, Anaa &#8216;inda zhanni &#8216;abdi bih, wa Ana ma&#8217;aka idza da&#8217;awtani, &#8220;Aku mengikuti persangkaan hamba-Ku tentang Aku. Dan aku bersamamu jika memohon kepada-Ku.&#8221;</p>
<p>Dengan demikian, husnuzhan bisa mengantarkan seseorang meraih apa yang diharapkan. Kalaulah saat ini kita sedang berduka karena kegagalan, bersegeralah husnuzhan bahwa akan ada kebaikan setelah kegagalan itu. Yakinlah bahwa takdir kita ke depan pasti dipenuhi dengan takdir kesuksesan. Tetaplah optimis. Selama hari masih menjelang, kesempatan meninggalkan kegelapan malam masih selalu terbuka. Dan, kita akan berada di jalur siang yang terang benderang.</p>
<p>Keberuntungan orang yang husnuzhan, tak hanya didapatkan di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak. Rasul menyebut orang yang husnuzhan sebagai pemegang kunci surga. Dalam sebuah taklim di hadapan para sahabatnya, Rasul mengatakan bahwa sebentar lagi akan masuk seorang yang kelak akan memegang kunci surga. Semua sahabat terpana. Sampai seorang Umar bin Khattab &#8216;iri&#8217; dengan penyematan istilah tersebut. Tidak lama kemudian masuklah orang yang dimaksud.</p>
<p>Orang ini penampilannya biasa-biasa saja. Tidak ada ciri khusus. Karena penasaran, Umar meminta izin untuk menginap di rumah orang tersebut. Tiga hari Umar RA menginap di rumah orang ini. Namun, dia tidak menemukan amalan khusus orang tersebut.</p>
<p>Ketika Umar bertanya, apa rahasianya. Orang itu menjawab, &#8220;Ibadah dan amalanku sebenarnya biasa saja, wahai Umar. Hanya selama hidupku, aku diajari oleh ibuku untuk tidak punya perasaan buruk sangka terhadap apa pun dan siapa pun. Barangkali itulah amalan yang dimaksud Rasulullah SAW.&#8221;</p>
<p>Sumber: republika.co.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gp-ansor.org/hikmah/19351-06072010.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran Hidup dari Sang Lebah</title>
		<link>http://gp-ansor.org/hikmah/19305-01072010.html</link>
		<comments>http://gp-ansor.org/hikmah/19305-01072010.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 03:54:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hernoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gp-ansor.org/?p=19305</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Wahyudin Wahid Lebah adalah binatang kecil yang terukir indah dalam Alquran. Allah mengabadikan namanya pada salah satu surah dalam Alquran, yakni Annahl. Tentu, ada keistimewaan yang dimiliki hewan ini hingga namanya termaktub dalam kitab yang suci dan mulia. Lihat surah Annahl [16] ayat 68-69. Lebah diciptakan Allah SWT dengan banyak memberi manfaat bagi manusia. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_19306" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-19306" href="http://gp-ansor.org/hikmah/19305-01072010.html/attachment/lebah"><img class="size-medium wp-image-19306" title="lebah" src="http://gp-ansor.org/files/2010/07/lebah-300x233.jpg" alt="" width="300" height="233" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi</p></div>
<p>Oleh Wahyudin Wahid</p>
<p>Lebah adalah binatang kecil yang terukir indah dalam Alquran. Allah mengabadikan namanya pada salah satu surah dalam Alquran, yakni Annahl. Tentu, ada keistimewaan yang dimiliki hewan ini hingga namanya termaktub dalam kitab yang suci dan mulia. Lihat surah Annahl [16] ayat 68-69.</p>
<p>Lebah diciptakan Allah SWT dengan banyak memberi manfaat bagi manusia. Di antara manfaatnya adalah madu. Tak hanya itu, perilaku hewan kecil ini harusnya menjadi cerminan akhlak bagi Muslim sejati.</p>
<p>Perhatikanlah kehidupannya. Ada banyak manfaat yang bisa diambil hikmahnya dari lebah. Pertama, lebah hanya menghisap saripati bunga. Ia hanya mengambil yang inti dan membiarkan yang lain. Lebah tahu, yang menjadi kebutuhannya hanyalah saripati, bukan yang lainnya. Ini mengajarkan bahwa setiap Muslim harus mengambil sesuatu yang baik dan halal. Sebab, mengambil hak yang lain hukumnya adalah haram.</p>
<p>Kedua, lebah menghasilkan madu. Ia memberi manfaat bagi manusia. Ini pelajaran bagi umat Islam. Madu berasal dari saripati bunga dan baik, maka keluarnya pun baik. Sesuatu yang halal, keluarnya halal pula. Dan, ia banyak memberi manfaat bagi orang lain.</p>
<p>Ketiga, lebah tidak merusak. Di mana pun dia hinggap, tak ada tangkai daun ataupun ranting pohon yang patah. Betapa santunnya hewan kecil ini hingga dalam bergaul dia tidak menyakiti siapa pun dan senantiasa menjaga kedamaian dalam setiap suasana. Lebah senantiasa memegang prinsip iffah (ketenteraman) dalam pergaulan.</p>
<p>Keempat, lebah punya harga diri. Ia tidak akan pernah mengganggu orang lain selama kehormatan dan harga dirinya dihormati. Namun, bila harga dirinya dizalimi, ia akan siap &#8216;menyengat&#8217; pengganggunya. Karena itu, setiap Muslim harus mampu menjaga kehormatan dirinya.</p>
<p>Sudah sepatutnya kita belajar ilmu dari lebah. Bukan karena fisik dan pesonanya yang kurang menarik, tapi karena komitmennya dalam bersikap dan berbuat. Manusia memiliki kemuliaan dari makhluk lain. Namun, tingkah laku dan kehormatan manusia bisa lebih hina dari binatang.</p>
<p>Allah memberikan pelajaran bagi manusia untuk mengambil hikmah dari lebah. Ia makhluk kecil yang memberikan manfaat sangat besar bagi manusia. Tentunya, tak hanya dari lebah, setiap hamparan yang ada di alam semesta ini diciptakan oleh Allah SWT untuk kebutuhan manusia. Maka, bisakah kita mengambil pelajaran? Wallahu A&#8217;lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gp-ansor.org/hikmah/19305-01072010.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jujur: Tips Manjur Menuju Hidup &#8216;Makmur&#8217;</title>
		<link>http://gp-ansor.org/hikmah/19162-25062010.html</link>
		<comments>http://gp-ansor.org/hikmah/19162-25062010.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 06:19:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hernoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gp-ansor.org/?p=19162</guid>
		<description><![CDATA[Konsep hidup jujur, sepertinya telah sukar –meskipun masih ada- untuk kita temui di tengah kehidupan yang serba pragmatis lagi materialistis seperti saat ini. Tak jarang, orang yang berusaha untuk menjaga prinsip ini, justru dianggap pahlawan kesiangan, ataupun manusia sok suci. Hasilnya, hinaan, cacian, amarah, silih berganti menimpa dirinya, bahkan nyawa pun terkadang menjadi taruhan. Mungkin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-19163" href="http://gp-ansor.org/hikmah/19162-25062010.html/attachment/jujur_disayang_allah_b"><img class="alignleft size-full wp-image-19163" title="jujur_disayang_allah_b" src="http://gp-ansor.org/files/2010/06/jujur_disayang_allah_b.jpg" alt="" width="283" height="238" /></a>Konsep hidup jujur, sepertinya telah sukar –meskipun masih ada- untuk kita temui di tengah kehidupan yang serba pragmatis lagi materialistis seperti saat ini. Tak jarang, orang yang berusaha untuk menjaga prinsip ini, justru dianggap pahlawan kesiangan, ataupun manusia sok suci. Hasilnya, hinaan, cacian, amarah, silih berganti menimpa dirinya, bahkan nyawa pun terkadang menjadi taruhan.</p>
<p>Mungkin telah nyata sabda Rasulullah bahwa akan tiba satu masa, di mana orang yang berpegang teguh pada Islam, bak memegang bara api, membahayakan diri sendiri. Adapun mereka yang melepaskannya, maka mereka akan lebih celaka.</p>
<p>Ada cerita nyata di salah satu kantin sekolah. Saat itu, terdapatlah dua anak kelas tiga SMP, yang baru saja menerima pengumuman bahwa diri mereka lulus. Dari sekian banyak peserta ujian di sekolah tersebut, hanya satu anak yang tidak lulus. Usut punya usut ternyata anak tersebut berusaha untuk tidak mengkhianati dirinya dengan cara tidak menyontek. Dalam kata lain, dia telah berperilaku jujur dalam menjawab soal-soal ujian.</p>
<p>Terhadap hal ini, dua anak yang sedang mengobrol di kantin tersebut, mencemooh apa yang telah dilakukan oleh anak yang tidak lulus. “Sok suci sih, gak mau nyontek. Ya, rasain sendiri akibatnya, dia sendiri yang tidak lulus,” demikianlah komentar salah satu di antara mereka.</p>
<p>Kasus di atas, setidaknya menunjukkan satu potret nyata, betapa sebagian dari masyarakat kita telah menghilangkan ataupun tidak mengindahkan konsep jujur dalam berperilaku. Nahasnya, hampir seluruh aspek kehidupan negeri ini, telah tercemari olehnya. Tak terkecuali masalah penetapan hukum yang seharus berdasarkan kepada kejujuran, dengan mengatakan yang salah itu salah, dan yang benar itu benar.</p>
<p>Sebaliknya, konsep hidup khianat, bohong, dusta, sepertinya telah menjadi suatu yang tak terpisahkan lagi dari setiap gerak-gerik kita. Seorang penjual, dengan culasnya membohongi para pembeli. Para hakim dengan mudahnya untuk disuap, sehingga keputusan mereka timpang sebelah. Begitu pula terhadap kasus-kasus yang lain.</p>
<p>Di dalam kehidupan kita, beredar motto hidup yang salah-kaprah, ucapan seperti &#8220;jujur hancur&#8221;, atau istilah-istilah lain, yang sesungguhnya adalah tabiat korupsi. &#8220;Obyek sana obyek sini&#8221;. &#8220;Kalau gak begini mas, hanya ngandalkan gaji kantor, gak cukup,&#8221; begitu istilahnya. Tabiat seperti itu, nampaknya telah terpatri dan mendarah daging di sebagian masyarakat kita. Padahal, tindakan itu adalah korupsi alias mencuri.</p>
<p>Tindakan korupsi dan tidak jujur ini ada di mana-mana. Di kantor, para pegawai yang ditugaskan belanja barang sering meminta slip bukti pembelian dua. Slip pembelian yang pertama asli. Slip kedua kosong. Nah, yang terakhir ini akan ditambahi sendiri sesuai keinginan dia. Para supir, sering juga melakukan tindakan korupsi. Ia sering memindahkan isi tanki bensin yang telah penuh ke botol-botol yang sudah disediakan. &#8220;Satu dua liter kan lumayan, setiap hari,&#8221; begitu ujarnya.</p>
<p>Para dokter, diam-diam juga sering &#8220;bermain mata&#8221; dengan detailer (sales obat). Ia akan merekomendasi si pasien obat-obat tertentu kepada pasien agar ia bisa mendapatkan tips dan honor di akhir penjualan. Pamrih seperti ini dilarang oleh agama.</p>
<p>Perilaku korupsi, dusta, mencuri, mark up seperti ini, ada di mana-mana. Tak hanya di kantoran atau di jalanan. Di gedung-gedung tinggi bahkan pada kaum berdasi.</p>
<p>Kalau saja prinsip ini terus dipertahankan, sudah barang tentu dinamisasi dan harmonisasi kehidupan bermasyarakat akan terganggu, yang pada akhirnya akan menimbulkan gejolak kehancuran, ataupun kekacauan.</p>
<p>Bayangkan, adakah orang di muka bumi ini, sudi untuk ditipu/dibohongi orang lain? Tentu tidak akan ada. Kalaupun itu terjadi, maka ia akan sakit hati, bahkan, bisa jadi (hal ini dilarang dalam Islam) ia berinisiatif untuk membalas dengan balasan yang setimpal, ataupun lebih dari yang ia terima.</p>
<p>Pertanyaannya, mungkinkah kebahagiaan/kemakmuran suatu negeri akan mampu terealisasikan dalam aspek kehidupan, manakala masyarakatnya mempraktikkan pola hidup demikian? Tentu jawabannya sangatlah mustahil.</p>
<p>Jujur, &#8220;Makmur&#8221;</p>
<p>Kekhawatiran akan kehancuran usaha, bisnis, karir, karena berperilaku jujur, merupakan kecemasan yang sangat keliru, yang sepatutnya tidak dipertahankan.</p>
<p>Dalam banyak firman-Nya dan sabda Rasulul-Nya, terdapat dalil-dalil yang menerangkan, betapa perbuatan dusta itu, sejatinya menyelakakan. Sebaliknya, justru kejujuranlah yang akan menunjukkan kepada kebajikan dan kebahagiaan.</p>
<p>Allah berfirman, &#8220;Hai orang-prang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama orang yang benar/jujur.&#8221; (At-Taubah: 199).</p>
<p>Sedangkan dalam sabdanya Rasulullah bersabda, &#8220;Tinggalkanlah apa saja yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya jujur itu menenangkan, sedangkan dusta itu menggelisahkan.&#8221; (H.R. Tirmidzi)</p>
<p>Lalu kenapa kasus di atas terjadi dengan begitu masifnya? Itu semua bermuara dari keyakinan bahwa kebahagiaan itu terletak pada banyaknya jumlah materi yang dimiliki, dan itu merupakan buah dari pola pikir yang pragmatis dan materialistis. Hasilnya, untuk mendapatkan itu, semua cara pun ditempuh, tak terkecuali harus menipu orang lain.</p>
<p>Dalam pandangan Islam, tentu saja keyakinan ini tidak dibenarkan. Islam tidak memandang materi sebagai standarisasi kebahagiaan. Kebahagiaan sejati adalah  kebahagiaan jiwa, dan jiwa akan merasakan kebahagiaan manakala ia memperoleh ketenangan, dan ketenangan akan dirasakan, manakala seseorang melakukan kebajikan. Sedangkan jujur sendiri merupakan cermin dari suatu kebajikkan. Sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud,  &#8220;Hendaklah kalian berperilaku jujur, karena jujur itu akan menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menunjukkan ke pada surga.&#8221; (Muttafaqun ’Ilaih).</p>
<p>Sedangkan dalam kitab Al-Arba’in, Imam Nawawi (pengarang kitab), mencantumkan sebuah hadits yang berbunyi, ”Kebajikan itu apa saja yang jiwa merasa tenang olehnya, dan hati merasa tentram kepadanya&#8230;” (HR. Ahmad)</p>
<p>Adakah kebahagiaan yang mampu melebihi kebahagiaan jiwa ini? Bukankah telah terpampang begitu jelasnya di hadapan kita, betapa banyak orang kaya justru mengaklhiri hidupnya dengan cara bunuh diri? Termasuk dalam kategori orang yang bahagiakah mereka yang demikian?</p>
<p>Selaras dengan dua hadits di atas, dalam kitab Qiraa’atu Ar-Rasyidah, disebutkan sebuah kisah, pada suatu hari datang seseorang kepada Nabi untuk berislam. Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, laki-laki tersebut menerangkan kepada beliau bahwa ia termasuk ahli maksiat, dan ia tidak mampu menghindarinya. Kemudian, laki-laki tersebut meminta nasihat ke pada Rasulullah.</p>
<p>Terhadapnya Rasulullah berkata, ”Hal tu’aahiduni ’ala tarkil kadzibi?” (Maukah engkau berjanji untuk tidak berbohong?) Laki-laki tersebut menyanggupinya. Hingga tibalah suatu hari ia berhasrat untuk melakukan maksiat. Ia teringat akan janjinya dengan Rasulullah untuk berperilaku jujur, ”apakah yang akan menjadi jawabanku, sekiranya Rasulullah menanyaiku tentang perbuatanku ini? Sekiranya aku jawab dengan ”ia”, pastilah beliau akan menghukumku. Namun, apabila aku jawab dengan ”tidak”, maka aku telah berbohong. Padahal, aku telah mengikat janji padanya untuk berperilaku jujur,” ujar laki-laki tersebut membatin.</p>
<p>Pada akhirnya mampulah laki-laki tersebut mengendalikan hawa nafsunya untuk tidak bermaksiat, perantara janjinya kepada Rasulullah untuk berperilaku jujur, hingga ia menemui ajal dalam kesalehan.</p>
<p>Yang jelas, di banyak ayat dalam Al-Quran sudah disebutkan haram dan larangan menipu, korupsi dan mengurangi timbangan.</p>
<p>&#8220;Penuhilah takaran dan jangan kamu menjadi orang yang suka mengurangi; dan timbanglah dengan jujur dan lurus, dan jangan mengurangi hak orang lain dan jangan kamu berbuat kerusakan di permukaan bumi.&#8221; (As-Syu&#8217;ara&#8217;: 181-183)</p>
<p>Kesimpulannya, untuk memperoleh kebahagiaan hidup secara individu, lebih-lebih secara jama’i, sikap jujur sangatlah diperlukan. Sedangkan dusta sendiri, merupakan perkara yang akan membawa kita kepada kegundahan hidup,  dan menyeret ke neraka, karena dusta sendiri merupakan perbuatan orang-orang munafik. Sedangkan orang-orang munafik tempatnya di akhirat adalah dasar neraka jahannam. Wallahu ’alam bis-showab.</p>
<p>Sumber Dari : Hidayatullah.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gp-ansor.org/hikmah/19162-25062010.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Janji Kemenangan Islam, Kapan Terwujud?</title>
		<link>http://gp-ansor.org/hikmah/19055-21062010.html</link>
		<comments>http://gp-ansor.org/hikmah/19055-21062010.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 00:49:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hernoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kemenangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gp-ansor.org/?p=19055</guid>
		<description><![CDATA[Oleh A Ilyas Ismail Meskipun banyak problem yang dihadapi umat, banyak pakar merasa optimistis tentang masa depan Islam. Sayyid Quthb, tokoh pergerakan Islam, sangat yakin dan optimistis bahwa umat Islam akan meraih kebangkitan dan kemenangan pada masa mendatang. Ia menulis buku yang cukup terkenal dan berjudul al-Mustaqbal li Hadza al-Din (Masa Depan Milik Agama [Islam] [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh A Ilyas Ismail</p>
<p>Meskipun banyak problem yang dihadapi umat, banyak pakar merasa optimistis tentang masa depan Islam. Sayyid Quthb, tokoh pergerakan Islam, sangat yakin dan optimistis bahwa umat Islam akan meraih kebangkitan dan kemenangan pada masa mendatang. Ia menulis buku yang cukup terkenal dan berjudul al-Mustaqbal li Hadza al-Din (Masa Depan Milik Agama [Islam] Ini).</p>
<p>Seperti Sayyid Quthb; ulama besar dunia, Yusuf al-Qaradhawi, juga memiliki optimistis yang sama. Hal ini dapat dibaca dalam dua bukunya, al-Islam Hadharat al-Ghadd (Islam Peradaban Masa Depan) dan al-Mubasysyirat bi Intishar al-Islam (Kabar Gembira tentang Kemenangan Islam).</p>
<p>Dalam buku yang terakhir ini, al-Qaradhawi menunjukkan fakta-fakta yang sangat kuat tentang janji kemenangan Islam, baik berdasar Alquran, sunah, fakta sejarah, dan hukum-hukum sejarah (sunnatullah). Dalam Alquran, begitu banyak janji kemenangan itu, antara lain, keunggulan Islam (QS Attaubah [9]: 32), kekuasaan secara politik (QS Annur [24]: 55), dan kemenangan bagi para pejuang Islam (QS Alhajj [22]: 40-41).</p>
<p>Dalam hadis, diterangkan bahwa pada suatu hari, umat Islam akan mengalahkan musuh-musuh mereka, terutama orang-orang Yahudi. Pada hari itu, orang-orang Yahudi akan lari terbirit-birit dan bersembunyi di balik pepohonan dan bebatuan, tetapi mereka tidak dapat melepaskan diri dari kejaran kaum Muslim (HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Dalam sejarah, umat Islam telah menunjukkan keperkasaannya mengalahkan semua kekuatan yang ada pada waktu itu, baik di timur maupun di barat. Umat Islam, kata al-Qaradhawi, keluar sebagai pemenang dalam perang melawan kaum murtad, perang melawan bangsa Tartar, perang melawan kaum salib, dan perang melawan penjajahan Barat (perang kemerdekaan).</p>
<p>Kemenangan itu memang diputar dan digilir oleh Allah SWT. Pada masa lalu, kemenangan di tangan Islam bergeser dan berpindah ke Barat. Sekarang, kita harus merebut kembali kemenangan itu. Tentu saja, direbut dengan perjuangan, kerja keras, kerja cerdas, serta izin dan pertolongan dari Allah SWT.</p>
<p>Tanda-tanda kemenangan itu dimulai dengan perkembangan Islam di negeri-negeri Barat, bangkitnya pemuda Islam dan pergerakan Islam, hingga makin gencarnya serangan dari musuh-musuh Islam terhadap para pejuang Islam lantaran mereka takut dan cemas dengan kebangkitan Islam.</p>
<p>Lalu, kapan janji kemenangan itu terjadi? Rasulullah dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata,&#8221;Bilakah datangnya pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.&#8221; (QS Albaqarah [2]: 214). Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Sumber: republika.co.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gp-ansor.org/hikmah/19055-21062010.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahasia di Balik Matematika Shalat</title>
		<link>http://gp-ansor.org/hikmah/18891-11062010.html</link>
		<comments>http://gp-ansor.org/hikmah/18891-11062010.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 03:25:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hernoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Unik Menarik & Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Matematika]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gp-ansor.org/?p=18891</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Deden Zaenal Muttaqien Jakarta (GP Ansor Online): Berapa lamakah kita shalat dalam sehari semalam? Jika setiap rakaat kita perkirakan dua menit, maka dalam sehari-semalam jumlahnya ada 34 menit. Artinya, dalam sehari hanya kita isi sebanyak 2,4 persen dari 1440 menit. Dalam satu minggu, berarti ada 238 menit atau 3,96 jam. Dalam satu bulan, lama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_18892" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a rel="attachment wp-att-18892" href="http://gp-ansor.org/hikmah/18891-11062010.html/attachment/sholat"><img class="size-full wp-image-18892" title="sholat" src="http://gp-ansor.org/files/2010/06/sholat.jpg" alt="" width="298" height="255" /></a><p class="wp-caption-text">Sholat</p></div>
<p>Oleh Deden Zaenal Muttaqien</p>
<p>Jakarta (GP Ansor Online): Berapa lamakah kita shalat dalam sehari semalam? Jika setiap rakaat kita perkirakan dua menit, maka dalam sehari-semalam jumlahnya ada 34 menit. Artinya, dalam sehari hanya kita isi sebanyak 2,4 persen dari 1440 menit. Dalam satu minggu, berarti ada 238 menit atau 3,96 jam. Dalam satu bulan, lama shalat kita sebanyak 952 menit atau 15,86 jam. Dan setahun, ada 11.424 menit atau 190,4 jam, yang berarti setara dengan 7,93 hari.</p>
<p>Jika rata-rata usia hidup manusia selama 60 tahun, dan dikurangi dengan 10 tahun masa awal akil baligh (dewasa), maka hanya 50 tahun seseorang melaksanakan shalat dalam hidupnya. Itu berarti, sepanjang hidupnya ia melaksanakan shalat fardlu selama 571.200 menit atau sekitar 9.520 jam, atau 396,7 hari (1,1 tahun).</p>
<p>Bisa dibayangkan, selama hidup, kita hanya butuh waktu untuk shalat fardhu selama 1,1 tahun, atau dalam satu tahun hanya 7,93 hari, atau dalam satu hari hanya 34 menit. Dari sini terlihat betapa jauhnya perbandingan ketaatan kita kepada Allah SWT dengan nikmat yang diberikan-Nya kepada kita dengan nikmat usia.</p>
<p>Maka, sangat disayangkan apabila ada orang yang tidak melaksanakan shalat karena alasan tidak ada waktu atau sibuk. Padahal, jika kita jujur terhadap diri sendiri, kita mampu berlama-lama bertelepon, nongkrong di depan komputer, jalan-jalan, nonton TV, dan lain sebagainya.</p>
<p>Ingatlah, Abu Zubair menceritakan bahwa dia mendengar Jabir bin Abdullah berkata, &#8221;Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, &#8216;Antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran itu terdapat perbuatan meninggalkan shalat&#8217;.&#8221; (HR Muslim).</p>
<p>Oleh karena itu, jangan pernah merasa puas dan berbangga diri dengan ibadah yang telah kita laksanakan. Sebab, bisa jadi ibadah kita, terutama shalat, tidak akan berarti apa-apa bila hal itu kita kerjakan dengan tidak ikhlas. Apalagi berharap surga. Allah menyindir orang yang demikian dengan pendusta agama. (QS Al-Maun [107]: 1-7).</p>
<p>Jadi, jangan hanya mengandalkan masuk surga dengan selembar tiket shalat fardhu. Silakan menjaring rahmat Allah dengan banyak beramal saleh. Berinfak, zakat, puasa, haji, akur dengan tetangga, menyambung silaturahim, mengurus keluarga, belajar, menyantuni anak yatim, tidak membuang sampah sembarangan, bahkan hanya tersenyum kepada teman pun termasuk amal shaleh. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Editor: Hernoe<br />
Sumber: Republika</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gp-ansor.org/hikmah/18891-11062010.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ceritakan Nikmat Yang Anda Dapat!</title>
		<link>http://gp-ansor.org/hikmah/18816-09062010.html</link>
		<comments>http://gp-ansor.org/hikmah/18816-09062010.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jun 2010 07:43:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hernoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Nikmat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gp-ansor.org/?p=18816</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu (Muhammad) siarkan“. (Ad-Dhuhaa: 11) Tahadduts bin ni’mah merupakan istilah yang sudah lazim dipakai untuk menggambarkan kebahagiaan seseorang atas kenikmatan yang diraihnya. Atas anugerah itu ia perlu menceritakan atau menyebut-nyebut dan memberitahukannya kepada orang lain sebagai implementasi rasa syukur yang mendalam. Perintah untuk menceritakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA</p>
<p>“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu (Muhammad) siarkan“. (Ad-Dhuhaa: 11)</p>
<p>Tahadduts bin ni’mah merupakan istilah yang sudah lazim dipakai untuk menggambarkan kebahagiaan seseorang atas kenikmatan yang diraihnya. Atas anugerah itu ia perlu menceritakan atau menyebut-nyebut dan memberitahukannya kepada orang lain sebagai implementasi rasa syukur yang mendalam. Perintah untuk menceritakan dan menyebut-nyebut kenikmatan pada ayat di atas, pertama kali memang ditujukan khusus untuk Rasulullah saw. Namun, perintah dalam ayat ini tetap berlaku umum berdasarkan kaedah “amrun lir Rasul Amrun li Ummatihi” (perintah yang ditujukan kepada Rasulullah, juga perintah yang berlaku untuk umatnya secara prioritas).</p>
<p>Ibnu Katsir mengemukakan dalam kitab tafsirnya, berdasarkan korelasi ayat per ayat dalam surah Ad-Dhuha, “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberimu petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Oleh karena itu, siarkanlah segala jenis kenikmatan tersebut dengan memujinya, mensyukurinya, menyebutnya, dan menceritakannya sebagai bentuk i’tiraf (pengakuan) atas seluruh nikmat tersebut.”</p>
<p>Para ulama tafsir sepakat bahwa pembicaraan ayat ini dalam konteks mensyukuri nikmat yang lebih tinggi dalam bentuk sikap dan implementasinya. Az-Zamakhsyari, misalnya, memahami tahadduts bin ni’mah dalam arti mensyukuri segala nikmat yang dianugerahkan oleh Allah dan menyiarkannya. Lebih luas lagi Abu Su’ud menyebutkan, tahadduts bin ni’mah berarti mensyukuri nikmat, menyebarkannya, menampakkan nikmat, dan memberitahukannya kepada orang lain.</p>
<p>Dalam konteks itu, Ibnul Qayyim dalam bukunya Madrijus Salikin mengemukakan korelasi makna antara memuji dan menyebut nikmat. Menurut beliau, memuji pemberi nikmat bisa dibagikan dalam dua bentuk: memuji secara umum dan memuji secara khusus. Memuji secara umum adalah dengan memuji sang pemberi nikmat sebagai yang dermawan, baik dan luas pemberiannya. Sedangkan memuji yang bersifat khusus adalah dengan memberitahukan dan menceritakan kenikmatan tersebut. Sehingga tahadduts bin ni’mat merupakan bentuk tertinggi dari memuji Allah Zat Pemberi nikmat.</p>
<p>Berdasarkan makna ayat di atas, mayoritas ulama salaf menganjurkan agar memberitahukan kebaikan yang dilakukan oleh seseorang jika ia mampu menghindarkan diri dari sifat riya’ dan agar bisa dijadikan contoh oleh orang lain. Sehingga secara hukum, tahadduts bin ni’mah dapat dibagi kepada dua kategori: jika terhindar dari fitnah riya’, ujub, dan tidak akan memunculkan kedengkian pada orang lain, maka sangat dianjurkan untuk menyebut dan menceritakan kenikmatan yang diterima oleh seseorang.</p>
<p>Namun, jika dikhawatirkan akan menimbulkan rasa dengki, dan untuk menghindarkan kerusakan akibat kedengkian dan tipu muslihat orang lain, maka menyembunyikan nikmat dalam hal ini bukan termasuk sikap kufur nikmat. Lebih tegas Imam Asy-Syaukani berpendapat bahwa tahadduts bin ni’mah bukan termasuk bagian dari tafaakhur (berbangga-bangga) maupun takabbur yang sangat dibenci oleh Allah swt. seperti dalam firmanNya, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (Luqman: 18)</p>
<p>Tahadduts bin ni’mah dalam konteks yang lebih luas, tidak hanya atas kenikmatan materi yang diterima seseorang. Atas kesungguhan beribadah dan taufiq untuk menjalankan amal shalih juga layak dan tidak ada salahnya untuk diceritakan dan diberitahukan kepada orang lain. Ini sebagai sebuah ungkapan rasa syukur dan agar bisa ditiru serta dijadikan contoh. Namun, tentu kepada mereka yang diharapkan mengikuti kebaikan dan amal shalih tersebut.</p>
<p>Al-Hasan bin Ali mengemukakan pernyataannya tentang hal itu, “Jika engkau mendapatkan kebaikan atau melakukan kebaikan, maka sebutlah dan ceritakanlah di depan saudaramu yang kamu percayai bahwa ia akan mengikuti jejak yang baik tersebut.” Kebiasaan seperti ini pernah dilakukan oleh Abu Firas, Abdullah bin Ghalib, seperti yang dituturkan oleh Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya, “Setiap kali aku bangun pagi, aku biasa menyebut amal yang aku lakukan di malam hari; aku sholat sekian, berdzikir sekian, membaca Al-Qur’an sekian dan sebagainya.” Ketika para sahabatnya mempertanyakan yang dilakukan oleh Abu Firas termasuk dalam kategori riya’, dengan tenang ia menjawab, “Allah memerintahkan dalam ayat-Nya untuk menceritakan kenikmatan, sedangkan kalian melarang untuk menyebut kenikmatan?”</p>
<p>Di sini sangat jelas bahwa tahadduts bin ni’mah merupakan salah satu kendali agar tidak terjerumus ke dalam kelompok yang dikecam oleh Allah karena menyembunyikan nikmat dan mengingkarinya serta tidak mengakui anugerah tersebut berasal dari Allah swt. Allah berfirman, “Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (An-Nahl: 83).</p>
<p>Tentang penduduk Negeri Saba’ yang ingkar dan enggan mensyukuri nikmat, Allah menggambarkan akhir kehidupan mereka yang mendapat azab. “Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (Saba’: 15-17)</p>
<p>Dalam beberapa hadits Rasulullah dinyatakan bahwa Tahadduts dengan kenikmatan yang diraih merupakan salah satu dari impelemtasi syukur seorang hamba kepada Sang Pemberi nikmat, yaitu Allah. Dalam hal ini, At-Tirmidzi menukil sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa ia berkata, “Barangsiapa yang diberi kebaikan (kenikmatan), hendaklah ia membalasnya; Jika ia tidak punya sesuatu untuk membalasnya, hendaklah ia memuji pemberinya. Karena sesungguhnya apabila ia memuji berarti ia telah mensyukuri dan berterima kasih kepadanya. Akantetapi, jika ia menyembunyikannya, berarti ia telah mengingkari kebaikannya.” Dalam hadits lain dijelaskan masing-masing bentuk implementasi syukur secara lebih terperinci:</p>
<p>عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ :قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ مَنْ لَمْ يَشْكُرْ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرْ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرْ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرْ اللَّهَ التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ</p>
<p>Dari An-Nu’man bin Basyir berkata, “Rasulullah saw. berkhutbah di atas mimbar menyampaikan sabdanya: ‘Barangsiapa tidak mensyukuri yang sedikit, berarti tidak bisa mensyukuri yang banyak. Barangsiapa tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah. Sesungguhnya menyebut-nyebut nikmat Allah adalah bersyukur dan meninggalkannya adalah kufur. Bersatu akan membawa rahmat dan bercerai-berai akan mendatangkan adzab’.” (Musnad Imam Ahmad, no. 17721)</p>
<p>Adalah anugerah Allah jika kita diberi kemampuan dan taufiq untuk senantiasa mensyukuri segala nikmatNya. Al-Hasan Al-Basri pernah berpesan, “Perbanyaklah oleh kalian menyebut-nyebut nikmat, karena sesungguhnya menyebut-nyebutnya sama dengan mensyukurinya.” Memang memperlihatkan kenikmatan merupakan sesuatu yang sangat dipuji oleh Allah karena Allah sangat cinta kepada hambaNya yang diberi nikmat lantas ia menampakkan atau memperlihatkan nikmat tersebut dalam sikap atau penampilan.</p>
<p>Rasulullah pernah menegur seorang sahabat yang berpenampilan jauh dan bertentangan dengan kenikmatan yang diterimanya. Seperti yang dikisahkan oleh Imam Al-Baihaqi bahwa salah seorang sahabat pernah datang menemui Rasulullah saw. dengan berpakaian lusuh dan kumal serta berpenampilan yang membuat sedih orang yang memandangnya. Melihat keadaan demikian, Rasulullah bertanya, “Apakah kamu memiliki harta?” Sahabat tersebut menjawab, “Ya, Alhamdulillah, Allah melimpahkan harta yang cukup kepadaku.” Maka Rasulullah berpesan, “Perlihatkanlah nikmat Allah tersebut dalam penampilanmu.” (Syu’abul Iman, Al-Baihaqi)</p>
<p>Mudah-mudahan kenikmatan yang semakin banyak mengalir mewarnai kehidupan kita, mampu kita jadikan sebagai modal untuk memperkuat dan memperbaiki semangat pengabdian kita kepada Allah dalam bentuk amal sholeh yang diridhoiNya. Tahadduts bin ni’mah yang kita lakukan semata untuk mendapatkan perhatian Allah, bukan perhatian dan pujian dari manusia. Namun begitu, harapan dari tahadduts bin ni’mah tersebut semoga akan bisa membangkitkan semangat orang lain untuk sama-sama menghadirkan kebaikan dan kemaslahatan pada bangsa tercinta ini.</p>
<p>Sumber : www.dakwatuna.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gp-ansor.org/hikmah/18816-09062010.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amalan yang Mewarnai Penentuan Takdir</title>
		<link>http://gp-ansor.org/hikmah/18780-07062010.html</link>
		<comments>http://gp-ansor.org/hikmah/18780-07062010.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 03:28:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hernoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Do'a]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gp-ansor.org/?p=18780</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Muhammad Arifin Ilham Hampir dipastikan, kita semua tidak pernah bisa meraba bagaimana rupa takdir kita ke depan. Segala sesuatunya adalah misteri bagi kita. Acap kali kejadian dan semua peristiwa terjadi begitu saja tanpa bisa direkayasa. Terkadang kita juga tidak berkuasa dengan amalan kita sendiri. Kegagalan, kesuksesan, kaya miskin, antara kehidupan dan kematian adalah mutlak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-18781" href="http://gp-ansor.org/hikmah/18780-07062010.html/attachment/mari-berdoa"><img class="alignleft size-full wp-image-18781" title="mari-berdoa" src="http://gp-ansor.org/files/2010/06/mari-berdoa.jpg" alt="" width="250" height="243" /></a>Oleh Muhammad Arifin Ilham</p>
<p>Hampir dipastikan, kita semua tidak pernah bisa meraba bagaimana rupa takdir kita ke depan. Segala sesuatunya adalah misteri bagi kita. Acap kali kejadian dan semua peristiwa terjadi begitu saja tanpa bisa direkayasa. Terkadang kita juga tidak berkuasa dengan amalan kita sendiri. Kegagalan, kesuksesan, kaya miskin, antara kehidupan dan kematian adalah mutlak milik Allah. Bahkan, di beberapa ayat diinformasikan, salah satunya dalam QS ash-Shaaffat, [37]: 96, bahwa kita dan semua amalan kita Allahlah pembuat skenarionya, &#8220;Wallahu khalaqakum wa maa ta&#8217;maluun&#8221;.</p>
<p>Meski pembuat skenario semuanya adalah Allah SWT, tapi hal yang tidak bisa dinapikan adalah bahwa banyak amalan yang bisa menentukan arah keberpihakan takdir-Nya. Pertama, doa. Sebuah hadis, Laa yaruddul qadhaa-a illa biddu&#8217;a, tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa. Jika kita menghendaki kegagalan beralih kepada kesuksesan, maka ubahlah di antaranya dengan doa. Kenapa? Karena Allah sangat mencintai hamba-Nya yang banyak minta kepada-Nya. Dalam hadis lain disebutkan, &#8220;Innallaaha yuhibul mulihhiina biddu&#8217;a.&#8221; Karena Allah mencintai hamba-Nya, maka akan mudah bagi-Nya mengubah apa pun dari semua ciptaan-Nya. Cukup dengan mengatakan, &#8220;Jadilah!&#8221; Maka, &#8220;Terjadilah.&#8221; (QS Yaasiin [36]: 82).</p>
<p>Ketahuilah, doa telah terbukti menjadi senjata yang cukup menentukan bagi orang-orang yang beriman. Sabda Nabi SAW, &#8220;ad-Du&#8217;au silahul mu&#8217;miniin.&#8221; Doa adalah senjata orang yang beriman. Di antara petikan sejarah yang mampir di telinga kita adalah cerita keajaiban senjata doa Ibrahim &#8216;alaihis salam ketika dipanggang di api unggun raksasa. Saat itu Raja Namrudz memerintahkan punggawa kerajaan untuk mengumpulkan kayu bakar dan disulutkan api raksasa. Lalu Ibrahim diletakkan di atasnya.</p>
<p>Saat itu Ibrahim-seorang hamba pilihan-Nya yang memiliki sebuah keyakinan dan kepasrahan total kepada Sang Khalik- sudah tidak memiliki daya apa pun kecuali senjata doa. Tidak lama, Allah pun kemudian menghadirkan takdir lain dari api, yaitu dingin dan turut membantu menyelamatkan Ibrahim as. &#8220;Hai api, jadilah dingin dan selamatkan Ibrahim.&#8221; (QS al-Anbiyaa [21]: 69).</p>
<p>Kekuatan doa itu pula yang dibuktikan oleh Nabi Musa dan para pengikutnya ketika mereka terdesak di Laut Merah saat dikejar oleh pasukan Firaun. Hukum alam air yang tidak mungkin terbelah dan terpisah, ternyata kala itu tidak berfungsi. Bersamaan dengan doa, air membelah dirinya dan mempersilakan Musa dan pengikutnya lewat. Musa pun selamat, justru Firaun dan semua pasukannya terkubur di dasar Lautan Merah.</p>
<p>Allahu akbar, doa adalah sebuah kekuatan (the power). Bahkan, dalam doa berhimpun berbagai kekuatan untuk menghadirkan puncak harapan setiap hamba.&#8221; Jika hamba-Ku bertanya tentang Aku, sungguh Aku teramat dekat. Aku akan memenuhi permintaanmu jika kamu memohon (berdoa) dan beriman kepada-Ku&#8221; (QS al-Baqarah [2]: 186). Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Sumber: Republika</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gp-ansor.org/hikmah/18780-07062010.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
