<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gerakan Pemuda Ansor &#124; Official Website &#187; Laporan Khusus</title>
	<atom:link href="http://gp-ansor.org/category/laporan-khusus/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gp-ansor.org</link>
	<description>Berpadu Membangun Negeri</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 02:09:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Inilah Wajah Islam dalam Survei di Dunia Barat</title>
		<link>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/19390-08072010.html</link>
		<comments>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/19390-08072010.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jul 2010 16:09:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hernoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Laporan Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gp-ansor.org/?p=19390</guid>
		<description><![CDATA[London (GP Ansor Online): Umat Islam di Eropa dan Amerika masih menghadapi tantangan berat. Kendati pertumbuhan dan perkembangan umat Islam meningkat, namun tantangan yang mereka hadapi sangat berat. Penyebabnya adalah munculnya gerakan Islamophobia atau kebencian terhadap Islam. Sebuah hasil survei yang dipublikasikan harian The Guardian akhir Januari lalu menyebutkan, kalangan politisi dan media massa di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-19391" href="http://gp-ansor.org/berita/19390-08072010.html/attachment/wajah-islam"><img class="alignleft size-medium wp-image-19391" title="wajah islam" src="http://gp-ansor.org/files/2010/07/wajah-islam-300x216.jpg" alt="" width="300" height="216" /></a>London (GP Ansor Online): Umat Islam di Eropa dan Amerika masih menghadapi tantangan berat. Kendati pertumbuhan dan perkembangan umat Islam meningkat, namun tantangan yang mereka hadapi sangat berat. Penyebabnya adalah munculnya gerakan Islamophobia atau kebencian terhadap Islam.</p>
<p>Sebuah hasil survei yang dipublikasikan harian The Guardian akhir Januari lalu menyebutkan, kalangan politisi dan media massa di Inggris adalah penyebab kebencian masyarakat luas terhadap Islam. Menurut hasil survei yang dilakukan wartawan Inggris bernama Peter Oborne itu, politisi dan media Inggris kerap mengobarkan kebencian terhadap umat Islam dengan menggambarkan umat Islam sebagai teroris yang berusaha melakukan Islamisasi di Inggris.</p>
<p>Studi serupa juga dilakukan oleh pusat penelitian Muslim Eropa di Universitas Exeter London. Dari hasil studi yang disusun oleh perguruan tinggi ini ditemukan beberapa bukti empiris yang menjelaskan perilaku para politisi dan media Inggris itu. Menurut penelitian ini, meningkatnya sentimen masyarakat Inggris terhadap umat Islam dikarenakan pandangan dan pencitraan buruk yang dilakukan oleh keduanya, politisi dan media massa.</p>
<p>Hasil survei dan studi itu dibenarkan oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS), baru-baru ini. Menurut laporan tahunan tentang hak asasi manusia (HAM) yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri AS, umat Muslim di seluruh daratan Eropa masih mengalami diskriminasi. Bahkan, dari tahun ke tahun diskriminasi yang dirasakan umat Islam di Eropa semakin mengkhawatirkan.</p>
<p>“Kami melihat diskriminasi dan kebencian terhadap umat Islam di Eropa,” ungkap Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Demokrasi, HAM, dan Buruh, Michael Posner, saat mengumumkan laporan tahunan tentang HAM yang berjudul Country Reports on Human Rights Practices seperti dikutip situs Islamonline. Tak hanya di Inggris, fenomena serupa juga terjadi di negara Eropa lainnya, seperti Swiss, Denmark, dan Belanda. Bahkan, hampir di seluruh negara Barat.</p>
<p>Di AS, misalnya, kekhawatiran hingga kini masih menghinggapi sebagian Muslim di negara adidaya tersebut. Perasaan itu muncul setelah sembilan tahun mereka merasa terus menerus diawasi oleh pemerintah federal. Semua bermuara pada sikap Pemerintah AS pascaperistiwa serangan 11 September 2001.</p>
<p>Direktur Muslim American Society’s Freedom Foundation di North Carolina, Khalilah Sabra, seperti dikutip Associated Press, belum lama ini mengungkapkan, perasaan itu masih dirasakan oleh komunitas Muslim di wilayah Raleigh-Durham, North Carolina. Peristiwa terakhir yang mengganggu perasaan mereka adalah saat Juli 2009 lalu sebanyak tujuh orang Muslim ditangkap. Tuduhannya, merencanakan aksi teror.</p>
<p>Kebencian terhadap Islam dan pemeluknya itu ditunjukkan oleh masyarakat Eropa dan AS, melalui beragam cara. Baik melalui ajang kreativitas (karikatur, kartun, demonstrasi) maupun peraturan perundang-undangan. Sebut saja sejumlah kasus yang terjadi di Belanda, Denmark, Swedia, Swiss, Prancis, dan Jerman lima tahun terakhir.</p>
<p>Kebebasan berekspresi</p>
<p>Dengan mengusung dalih kebebasan berekspresi, surat kabar terbesar di Denmark, Jyllands-Posten, memuat gambar 12 karikatur Nabi Muhammad SAW pada 30 September 2005 silam. Langkah serupa ini diikuti oleh Nerikes Allehanda, sebuah harian lokal yang terbit di Orebro, sebelah timur Stockholm, Swedia.</p>
<p>Dalam salah satu halaman surat kabarnya terbitan edisi 18 Agustus 2007, harian Nerikes Allehanda memuat gambar kartun kepala Nabi Muhammad berada di badan seekor anjing. Kartun ini digambar oleh Lars Vilks.</p>
<p>Lain lagi yang dilakukan oleh seorang politisi di Belanda bernama Geert Wilders. Politikus sayap ultra kanan Belanda ini membuat sebuah film berjudul Fitna. Film yang di dalamnya berisikan hinaan, melecehkan, dan memprovokasi pemeluk agama Islam ini akhirnya menyulut kemarahan dunia Islam.</p>
<p>Pada bagian akhir film tersebut dimunculkan gambar karikatur Nabi Muhammad SAW dengan surban berbentuk bom di kepala, dengan bersumber dari karikatur yang pernah dimuat oleh Jyllands- Posten. Setelah berapa detik tampil, sorban itu digambarkan meledak.</p>
<p>Ketakutan yang berlebihan terhadap perkembangan Islam juga terjadi di Swiss. Masyarakat non-Muslim di sana memberlakukan larangan pembangunan menara masjid. Hasil referendum yang diselenggarakan pada 29 November 2009 lalu menyatakan, lebih dari 57,5 persen pemilih dari 2,67 juta warga yang memberikan suara mendukung pelarangan itu. Sedangkan 42,5 persen lainnya menentang. Sebanyak 22 dari 26 provinsi di Swiss memilih pelarangan pembangunan menara masjid.</p>
<p>Padahal, di negara yang terkenal dengan sebutan Euro-Islam ini terdapat beberapa masjid, seperti di Jenewa dan Zurich. Penolakan terhadap simbol-simbol komunitas Muslim juga pernah terjadi pada 2007 silam. Saat itu dewan Kota Bern menolak rencana untuk membangun salah satu Islamic Center terbesar di Eropa. Bahkan, Partai Rakyat Swiss (SVP), yang merupakan partai terbesar di negara tersebut, dan the Federal Democratic Union mengumpulkan tanda tangan guna mendukung pelarangan pembangunan pusat kebudayaan Islam ini.</p>
<p>Tak hanya isu-isu dan simbol keislaman, kebencian juga ditujukan terhadap kaum Muslimah. Sejumlah negara di Eropa seakan berlomba membenci Islam dan Muslimah. Secara simultan, mereka mengusung pelarangan cadar dan jilbab. Bahkan, pelarangan tersebut mendapatkan dukungan politik penuh.</p>
<p>Sumber: republika.co.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/19390-08072010.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengabdian Banser Ponorogo: Rehab Rumah Tak Layak Huni Milik Warga</title>
		<link>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/19220-28062010.html</link>
		<comments>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/19220-28062010.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 05:21:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hernoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Dari Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Derap Langkah Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Laporan Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[Banser]]></category>
		<category><![CDATA[Pengabdian]]></category>
		<category><![CDATA[Ponorogo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gp-ansor.org/?p=19220</guid>
		<description><![CDATA[Ponorogo (GP Ansor Online): Banser (Barisan Ansor Serbaguna) sebagai kader inti yang menjadi bagian integral GP Ansor sudah mulai melakukan perubahan internal. Perubahan paradigma Banser yang sebelumnya berorientasi militeristik telah ditinjau ulang karena tidak sejalan lagi dengan semangat zaman. Kini Banser merupakan organisasi sosial keagamaan dengan semangat civil society. Ini berarti Banser ke depan ditempatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-19221" href="http://gp-ansor.org/berita/19220-28062010.html/attachment/banser-rehab-rumah8"><img class="alignleft size-medium wp-image-19221" title="Banser Rehab Rumah8" src="http://gp-ansor.org/files/2010/06/Banser-Rehab-Rumah8-300x224.png" alt="" width="300" height="224" /></a>Ponorogo (GP Ansor Online): Banser (Barisan Ansor Serbaguna) sebagai kader inti yang menjadi bagian integral GP Ansor sudah mulai melakukan perubahan internal. Perubahan paradigma Banser yang sebelumnya berorientasi militeristik telah ditinjau ulang karena tidak sejalan lagi dengan semangat zaman. Kini Banser merupakan organisasi sosial keagamaan dengan semangat <em>civil society</em>. Ini berarti Banser ke depan ditempatkan menjadi sayap kekuatan GP Ansor yang berorientasi pada kerja-kerja kemanusiaan yang konkret, peduli, dan ramah.</p>
<p>Kekuatan Banser senantiasa menjadi alat kepanjangan GP Ansor untuk menolong dan bertindak demi kemanusiaan, khususnya bagi warga NU, umat Islam, dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Banser tidak hanya bertugas mengamankan situasi dan kondisi lingkungan dimana kekuatan Banser berada. Akan tetapi Banser telah membentuk Unit – Unit Khusus diantaranya Unit Khusus Banser Tanggap Bencana, yang bertugas untuk menyelamatkan masyarakat dari penderitaan hidupnya, baik penderitan akibat bencana alam yang sering terjadi, maupun akibat dari dampak negatif dari kondisi sosial dan ekonomi.</p>
<p>Pelatihan-pelatihan ketrampilan menjadi prioritas Banser, sehingga dengan demikian paradigmanya terus bergeser ke arah pemberdayaan masyarakat sipil yang berorientasi kemanusiaan dan profesionalisme.</p>
<p>Salah satu implementasi nyata pengabdian Banser ditunjukkan Banser Satkorcab 34-XIIKabupaten Ponorogo. Selama seminggu, Senin &#8211; Minggu, 21 &#8211; 27 Juni 2010 Banser Ponorogo melakukan rehab rumah ibu Kumi yang tidak layak huni di Dukuh Mirah RT. 03/RW. 02 Desa Nambangrejo, Sukorejo Ponorogo.</p>
<p>Hasil kerja dan pengabdian Banser yang tidak kenal lelah ini, kini telah dapat dinikmati oleh Ibu Kumi bersama kedua anak angkatnya.Kegiatan serupa juga telah dilakukan Banser Satkorcab 34-XII Ponorogo terhadap rumah milik Ibu Boini di Dusun Sembung, Desa Gandu Mlarak Ponorogo.</p>
<p>Reporter: Muhammad Wahid &#8211; Banser Ponorogo<br />
Editor: Hernoe</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/19220-28062010.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>3 Juta TKI Korban Perdagangan Manusia</title>
		<link>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/18964-16062010.html</link>
		<comments>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/18964-16062010.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 09:39:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hernoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laporan Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[Unik Menarik & Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Migran]]></category>
		<category><![CDATA[TKI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gp-ansor.org/?p=18964</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta (GP Ansor Online): Sebuah LSM perlindungan buruh migran, Migrant Care, menyebut tingginya jumlah kasus perdagangan manusia dengan modus pengiriman TKI ke luar negeri. Kini, menurut direktur eksekutif LSM tersebut, Anies Hidayah, terdapat tak kurang dari tiga juta warga pekerja Indonesia di Iuar negeri, yang merupakan korban perdagangan manusia. Kebanyakan dari korban berasal dari Jawa, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_18965" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-18965" href="http://gp-ansor.org/laporan-khusus/18964-16062010.html/attachment/indonesian_migrant_workers_malaysia"><img class="size-medium wp-image-18965" title="Indonesian_Migrant_workers_Malaysia" src="http://gp-ansor.org/files/2010/06/Indonesian_Migrant_workers_Malaysia-300x187.jpg" alt="" width="300" height="187" /></a><p class="wp-caption-text">Buruh bangunan ini sedang bekerja di sebuah lokasi konstruksi di Kuala Lumpur</p></div>
<p>Jakarta (GP Ansor Online): Sebuah LSM perlindungan buruh migran, Migrant Care, menyebut tingginya jumlah kasus perdagangan manusia dengan modus pengiriman TKI ke luar negeri. Kini, menurut direktur eksekutif LSM tersebut, Anies Hidayah, terdapat tak kurang dari tiga juta warga pekerja Indonesia di Iuar negeri, yang merupakan korban perdagangan manusia.</p>
<p>Kebanyakan dari korban berasal dari Jawa, Kalimantan Barat, Lampung, Sumatera Utara dan Sumatera Selatan.</p>
<p>Korban perdagangan manusia ini rawan terhadap eksploitasi, baik secara seksual maupun kerja paksa. Salah satu penyebabnya, menurut Anies, adalah kurangnya perlindungan yang diberikan pemerintah kepada calon tenaga kerja Indonesia, yang ingin bekerja ke luar negeri.</p>
<p>&#8220;Migrasi yang berlangsung di Indonesia itu adalah migrasi yang tidak aman, sehingga kenapa kemudian &#8216;trafficking&#8217; itu hampir menjadi bagian integral dalam proses migrasi itu sendiri,&#8221; ujar Anies. &#8220;Mulai dari pemalsuan dokumen, pemalsuan identitas, umur kemudian akses informasi, yang tidak sampai ke basis calon buruh migran sampai minimnya perlindungan hukum dari negara.&#8221;</p>
<p>Departemen Luar Negeri Amerika Serikat baru-baru ini meluncurkan laporan tahunan mengenai perdagangan manusia, yang mengutip data dari Migrant Care tersebut. Laporan Deplu AS tersebut menempatkan Indonesia dalam kategori &#8216;Tier 2&#8242; (menengah).</p>
<p>Sebuah LSM terkemuka lain, yang tidak disebut namanya dalam laporan tersebut, menyebutkan bahwa jumlah perempuan pekerja domestik (PRT) asal Indonesia di Timur Tengah, mengalami perkosaan mengalami peningkatan.</p>
<p>Sedangkan menurut International Organization for Migration (IOM) perusahaan perekrutan tenaga kerja, baik legal maupun ilegal, bertanggung jawab atas lebih dari 50 persen perempuan pekerja Indonesia yang mengalami kondisi perdagangan manusia di negara tujuan.</p>
<p>Untuk itu, Anies Hidayah meminta pemerintah untuk segera memberikan perlindungan yang maksimal kepada calon tenaga kerja Indonesia yang akan bekerja ke luar negeri, maupun TKI yang sudah bekerja di luar negeri. Salah satunya, kata Anies, adalah dengan segera meratifikasi sebuah konvensi internasional mengenai perlindungan hak-hak semua pekerja migran dan anggota keluarganya atau Konvensi Migran 1990.</p>
<p>&#8220;(Dengan) ratifikasi konvensi, pemerintah Indonesia bisa membangun kerangka migrasi (dengan) perspektif HAM dan perburuhan dengan mengadopsi prinsip-prinsip internasional,&#8221; imbau Anies.</p>
<p>Sementara itu, Deputi Penanggulangan Kemiskinan dari Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Sudjana, mengatakan upaya memerangi perdagangan manusia, tidak semudah membalik telapak tangan, karena perdagangan orang memiliki sindikat dan sumber daya yang besar.</p>
<p>Menurut Sudjana, kemiskinan merupakan salah satu faktor penyebab tingginya kasus perdagangan orang. Untuk itu, pemerintah akan terus meningkatkan upaya penanggulangan kemiskinan dan peningkatan pendidikan serta perluasan lapangan kerja.</p>
<p>&#8220;Bantuan sosial seperti di PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri) itu menjadi itu hibah (yang) masuk ke masyarakat. Kegiatannya bisa (berupa) padat karya, bisa untuk berusaha, untuk dipakai pelatihan kemampuan. Ada banyak menu di sana,&#8221; jelas Sudjana.</p>
<p>Laporan Deplu AS tersebut memberikan rekomendasi bagi Indonesia, berupa revisi Undang-Undang Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja ke Luar Negeri tahun 2004 dan reformasi Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), yang disebut dalam laporan, sebagai badan yang lemah.</p>
<p>Editor: Hernoe<br />
Sumber: voa</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/18964-16062010.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kegiatan Harlah PW GP Ansor DIY: Dari Donor Darah Hingga Ziarah Kebangkitan Nasional</title>
		<link>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/18302-20052010.html</link>
		<comments>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/18302-20052010.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 13:33:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hernoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Dari Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Laporan Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[DIY]]></category>
		<category><![CDATA[GP Ansor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gp-ansor.org/?p=18302</guid>
		<description><![CDATA[Yogyakarta (GP Ansor Online): Dalam rangka memperingati hari kelahiran Gerakan Pemuda Ansor ke-76 ( 24 April 1934- 24 April 2010 ). Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor DIY pada Kamis, 13 Mei 2010 mengadakan aksi donor darah yang merupakan rangkaian kegiatan Harlah yang dimulai bulan April sampai Agustus 2010. Kegiatan Donor Darah berlangsung digedung PW NU [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yogyakarta (GP Ansor Online): Dalam rangka memperingati hari kelahiran Gerakan Pemuda Ansor ke-76 ( 24 April 1934- 24 April 2010 ). Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor DIY pada Kamis, 13 Mei 2010 mengadakan aksi donor darah yang merupakan rangkaian kegiatan Harlah yang dimulai bulan April sampai Agustus 2010.</p>
<p>Kegiatan Donor Darah berlangsung digedung PW NU Jl.MT.Haryono N0.40-42 Yogyakarta dan diikuti oleh Para Pengurus PW Ansor, PC Ansor Kota Yogyakarta, Banser maupun masyarakat umum. Menurut  Ketua PW Ansor DIY Akhmad Fikri didampingi Panitia Harlah Karsono Mohammad (Wakil Ket.PW Ansor DIY) mengatakan kegiatan Donor Darah ini bekerja sama dengan PMI Cabang Yogyakarta, Rumah Sakit Islam Hidayatullah, dan KSR Unit VII UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. </p>
<p>&#8220;Aksi donor darah ini tentu dilandasi dengan pertimbangan bahwa Yogyakarta kekurangan akan pasokan darah. Dengan harapan kegiatan ini bisa sedikit meringankan beban masyarakat yang membutuhkan darah. Dan yang lebih penting adalah memberikan penyadaran khususnya kepada Anggota Ansor maupun Banser akan pentingnya melakukan donor darah untuk yang membutuhkan,&#8221; ujar Fikri yang juga ikut Mendonorkan darahnya.</p>
<p>Drs R. Rulianto SH, seorang pendonor yang sudah melakukan donor darah sebanyak 136 kali juga ikut mendonorkan darahnya. Tampak hadir dalam dalam acara donor darah Drs. HA Zuhdi Muhdlor SH M.Hum (Sekretaris PW NU DIY), Ketua PC GP Ansor Sleman, Ketua PC GP Ansor Kota Yogyakarta, Irsyam Taufiq,SIP ( Humas RSI Hidayatullah ), Irwanti Ketua KSR Unit VII UIN Sunan Kalijaga. Di sela-sela aksi donor darah juga diserahkan piagam penghargaan dari PW GP Ansor DIY kepada PMI Cabang Yogyakarta, RSI Hidayatullah serta KSR UNIT VII UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. </p>
<p>Menurut Ketua panitia Harlah Karsono, rangkaian acara memperingati Harlah Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang ke-76 diawali dengan Audiensi ke Wakil Gubernur Propinsi DIY, Silahturrahmi Ke Kyai-kyai Sepuh, Tokoh-tokoh Senior GP Ansor, dan Pada 20 April 2010 Memperingati 111 hari meninggalnya Gus Dur dengan acara Tahlil dan Do’a bersama, Sarasehan dan orasi  Budaya bersama Bondan Gunawan dan Jimmy Sutanto (Komunitas Tionghoa DIY) serta pementasan Musik tradisional  Tionghoa dan Barongsai, Pembacaan Shalawat serta Musik Hadroh. Tanggal 24 April 2010 tepat hari kelahiran GP Ansor diadakan Tasyakuran ditandai potong tumpeng yang dihadiri segenap Pengurus PW Ansor DIY.</p>
<p>Pada 25 April 2010 dilaksanakan Apel Banser dilapangan Pemda Sleman dengan Inspektur Upacara H.Tatang Hidayat SH  (Kasatkornas Banser) yang diikuti sekitar 1000 anggota Banser se DIY. Dilanjutkan pada 26 April 2010 bertempat di PP Sunan Pandanaran diadakan Pentas Budaya oleh Ki Ageng Ganjur bersama Iwan Fals.</p>
<p>Dalam hal pengkaderan PW Ansor DIY pada 7-9 Mei 2010 mengadakan PKL (Pendidikan Kader Lanjutan) di PP. Ittihadul Mujtahidin Kokap Kulonprogo. Sedangkan pada tanggal 20 Mei 2010 akan mengadakan Ziarah Ke makam para Pahlawan Nasional yang ada di DIY sekaligus memperingati hari Kebangkitan Nasional, antara lain ziarah ke makam: Dr. Wahidi Sudiro Husodo, Pangsar Soedirman, Ki Hajar Dewantara  dan KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah). Pada bulan Juni 2010 juga akan diadakan Seminar tentang pendidikan dengan tema “ Membangun Pendidikan Moral, membangun Karakter Bangsa “, Seminar ini kerja sama antara PW Anasor DIY dengan LP Ma’arif NU DIY. Dan Acara Harlah GP Ansor akan dipungkasi dengan Susbalan ( Kursus Banser Lanjutan ) ini dikhususkan bagi para anggota Banser yang telah mengikuti Diklatsar, Susbalan akan dilaksanakan di Gunungkidul awal Agustus 2010.</p>
<p>Reporter: Akhmad Fikri</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/18302-20052010.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stadium General Zuhairi Misrawi di Kairo: Kemoderatan Islam Ala NU</title>
		<link>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/17741-24042010.html</link>
		<comments>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/17741-24042010.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Apr 2010 10:24:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hernoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Laporan Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kairo]]></category>
		<category><![CDATA[Moderat]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gp-ansor.org/?p=17741</guid>
		<description><![CDATA[Kairo (GP Ansor Online): Nahdlatul Ulama (NU) mengadopsi sistem yang mengarah pada upaya membangun hubungan keseimbangan dan kemoderatan, baik dalam hal agama, politik, hak-hak sosial maupun budaya. NU juga menolak segala macam ekstremisme. Hal itu disampaikan intelektual muda NU Zuhairi Misrawi dalam Studium General &#8220;Peran Masyarakat Muslim Moderat Indonesia dalam Perdamaian dan Toleransi: Pengalaman Nahdlatul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gp-ansor.org/files/2010/04/studiumgeneral.jpg"><img class="size-full wp-image-17742 alignleft" title="studiumgeneral" src="http://gp-ansor.org/files/2010/04/studiumgeneral.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Kairo (GP Ansor Online): Nahdlatul Ulama (NU) mengadopsi sistem yang mengarah pada upaya membangun hubungan keseimbangan dan kemoderatan, baik dalam hal agama, politik, hak-hak sosial maupun budaya. NU juga menolak segala macam ekstremisme.</p>
<p>Hal itu disampaikan intelektual muda NU Zuhairi Misrawi dalam Studium General &#8220;Peran Masyarakat Muslim Moderat Indonesia dalam Perdamaian dan Toleransi: Pengalaman Nahdlatul Ulama&#8221; di Grand Hall Thebes Academy, Maadi, Kairo (22/4/2010).</p>
<p>Acara ini, seperti dituturkan Syamsu Alam Darwis kepada detikcom, Jumat (23/4/2010), terselenggara berkat fasilitasi Fungsi Politik KBRI Kairo.</p>
<p><span id="more-17741"></span>&#8220;NU telah menjadi lembaga keagamaan terbesar di dunia, yang mengedepankan pendekatan pemahaman Sunni dan bersama masyarakat mengatasi menjamurnya faham Wahabisme yang tersebar di seluruh Indonesia,&#8221; ujar Zuhairi.</p>
<p>Menurut Zuhairi alias Gus Mis, para ulama NU mengacu pada pemahaman empat Imam Mazhab, Syafii, Hanafi, Hanbali, Maliki dan pemahaman Ahlu Sunnah wal Jamaah yang mengacu pada pemikiran Asy&#8217;ari dan Maturudi, tanpa melupakan pengalaman tasawuf yang dikumandangkan oleh Imam al-Ghazali dan Imam Al-Juaini.</p>
<p>Menjawab pertanyaan peserta, apakah Wahabi merupakan mazhab ekstrimis, Zuhairi menuturkan bahwa Wahabi adalah pemahaman jumud (stagnan) dan tidak menerima turats (warisan khazanah keilmuan, red) Islam.</p>
<p>Ditambahkan, bahwa menurut riset internasional ada hubungan antara Wahabi dengan jaringan terorisme. &#8220;Sekarang Raja Saudi telah melakukan program perubahan dan bahkan telah meminta 300 Ulama Al-Azhar untuk dapat mengajarkan Islam Moderat di berbagai perguruan tinggi di Saudi untuk menetralisir pemahaman Wahabi,&#8221; demikian Zuhairi.</p>
<p>Khilafah</p>
<p>Dijelaskan, setelah Kekaisaran Utsmaniah, Turki, jatuh (1923), muncul pandangan sebagian umat Islam bahwa solusi utama untuk memersatukan umat muslim adalah dengan mendirikan negara Islam (Khilafah Islam).</p>
<p>&#8220;Termasuk didalamnya adalah penerapan syariat Islam, qisas dan hukum pidana,&#8221; papar Zuhairi.</p>
<p>Kampanye penerapan syariat Islam dengan khilafah ini mendapat sambutan hangat di Arab Saudi, Pakistan, Afghanistan, Malaysia dan negara lainnya.</p>
<p>&#8220;Namun Turki sendiri setelah runtuhnya Dinasti Utsmaniah melakukan pendekatan dengan mendirikan negara sekuler, yang menolak semua hukum Islam, khususnya di bidang politik,&#8221; tegas Zuhairi.</p>
<p>Indonesia dalam hal ini sebagai representasi umat Islam terbesar di dunia mengambil jalan tengah antara Islam dan sekularisme, yang bermakna bahwa kebijakan dan keputusan politik tidak berdasarkan pada sistem pemerintahan Islam.</p>
<p>&#8220;Namun yang diangkat adalah nilai-nilai moral Islam dengan tetap mempertahankan keragaman tradisi, budaya dan agama,” tandas Zuhairi, yang mendapat aplaus meriah.</p>
<p>Era Gus Dur</p>
<p>NU, lanjut Zuhairi, menolak segala macam ekstremisme religius, pada sisi lain NU mengakomodasi pemikiran toleran dan mengedepankan prinsip perdamaian dalam melakukan interaksi antar dan lintas agama.</p>
<p>Pada era Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memimpin PBNU, masyarakat sipil bekerja dalam rangka memperkuat demokrasi, yang merupakan sistem bernegara.</p>
<p>Pada waktu itu Abdurrahman Wahid sangat banyak melakukan dialog dengan semua agama, suku dan masyarakat di Indonesia dan melakukan konsolidasi membangun semangat nasionalisme di masyarakat.</p>
<p>&#8220;Gus Dur menegaskan bahwa tugas utama negara adalah untuk mencapai kesejahteraan hidup warga dengan cara mengambil keputusan politik yang menguntungkan rakyat,&#8221; papar Zuhairi.</p>
<p>Pemerhati sosial, Syamsu Alam Darwis yang juga hadir dalam studium general, mengomentari bahwa jaringan diplomasi kemoderatan Islam antara Indonesia-Mesir perlu ditumbuhkembangkan.</p>
<p>&#8220;Terutama dengan Al-Azhar dan masyarakat Mesir, karena masa depan Islam dan Muslim di era global saat ini dapat diukur dari sejauh mana peran kemoderatan Islam tersebut diaplikasikan,&#8221; terang Syamsu.</p>
<p>Secara terpisah, Sekretaris III Pensosbud Ali Andhika Wardana dan presiden Thebes Academy menyepakati untuk membina hubungan baik antara KBRI Kairo dengan Thebes Academy dalam bentuk kerjasama konkrit.</p>
<p>&#8220;Seperti kerjasama terdekat yang akan dilaksanakan berupa kunjungan presiden Thebes Academy ke Indonesia yang menawarkan seminar tentang moralitas dunia Islam di beberapa Universitas di Indonesia,&#8221; jelas Ali Andhika.</p>
<p>Presiden Thebes Academy sendiri secara khusus mengapresiasi fasilitasi Fungsi Politik KBRI Kairo dan mengharapkan pertemuan ilmiah semacam ini lebih ditingkatkan pada masa-masa akan datang.</p>
<p>Editor: Hernoe<br />
Sumber: detiknews</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/17741-24042010.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamatkan Bumi, Matikan Listrik 1 Jam</title>
		<link>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/17240-27032010.html</link>
		<comments>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/17240-27032010.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2010 02:41:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Laporan Khusus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gp-ansor.org/?p=17240</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta (GP Ansor Online):  Satu miliar orang akan mematikan listrik dalam Earth Hour. Benarkah kegiatan 1 jam pada Sabtu (27/3) berdampak besar menyelamatkan bumi? Peneliti menilai masyarakat kurang antusias. Upaya penyelamatan bumi dengan Earth Hour itu digagas oleh WWF (World Wild Fund). Saat puncak acara Earth Hour hari ini, seluruh lampu di silang Monas akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta (GP Ansor Online):  Satu miliar orang akan mematikan listrik dalam Earth Hour. Benarkah kegiatan 1 jam pada Sabtu (27/3) berdampak besar menyelamatkan bumi? Peneliti menilai masyarakat kurang antusias.</p>
<p>Upaya penyelamatan bumi dengan Earth Hour itu digagas oleh WWF (World Wild Fund). Saat puncak acara Earth Hour hari ini, seluruh lampu di silang Monas akan dimatikan pada jam 20:30 sampai 21:30. Sebanyak 300 gedung di kawasan bisnis segitiga emas Gatot Subroto-Sudirman Thamrin-Kuningan Jakarta, juga akan mematikan lampunya.</p>
<p>Koordinator Kampanye Program Iklim dan Energi WWF Indonesia Verena mengatakan kegiatan kecil itu bisa memiliki dampak besar ke seluruh dunia, karena secara serempak dilaksanakan. “Jika 10% saja penduduk Jakarta mau ikut serta dalam programini, maka akan menghemat 300MW listrik, setara dengan listrik untuk 900 desa. Juga akan mengurangi 267 ton emisi CO2 yang sama dengan penanaman 267 pohon, karena 1 pohon bisa menghirup CO2 sebanyak 1 ton sepanjang hidupnya,” katanya di Jakarta.</p>
<p>Selain Jakarta, berbagai kota juga akan mendukung seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Medan dan kota di Kalimantan. Ratusan perusahaan yang memiliki cabang di berbagai daerah juga berkomitmen akan mematikan listrik selama 1 jam.</p>
<p>“Kami menghitung 78% konsumsi energi nasional diserap oleh Pulau Jawa dan Bali, 23% terkonsentrasi di DKI Jakarta dan Tangerang. Dari 23% tersebut 33% adalah sektor rumah tangga yang paling banyak menghabiskan energi listrik, kedua industri dengan 30%, disusul bisnis dan gedung komersiil 30%, gedung pemerintahan 3% dan 4% oleh fasilitas publik dan sosial,” papar Verena.</p>
<p>Indonesia kata Verena akan menjadi bagian dari 1 miliar penduduk dunia yang ikut serta dalam program Earth Hour. Pada 2009 lalu penduduk Indonesia yang ikut serta sekitar ratusan ribu orang, sementara target 2010 ini adalah jutaan orang bisa bergabung mematikan lampu dan listrik secara serentak, ujar Media Spesialis WWF Earth Hour Indonesia Andie Widianto.</p>
<p>“Memang isu lingkungan tidak segemerlap politik tetapi kami ingin masyarakat sadar dengan lingkungannya. Pejuang lingkungan akan terus berjuang dengan berbagai peringatan isu lingkungan, Earth Day, Water Day, mencegah pembalakan liar, perawatan daerah aliran sungai, dan sebagainya. Intinya kami ingin mengajak manusia mengubah gaya hidup agar lebih menghargai lingkungan dan menghimbau bisa ikut serta dalam program kampanye tersebut,” imbuh Andie.</p>
<p>Ketua LSM Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPPB) Achmad Syarudin mengatakan, kampanye Earth Hour bisa berdampak untuk menekan emisi gas rumah kaca dan menghemat energi. Meskipun hanya 1 jam dan terlihat seperti tidak efektif, tetapi efek dominonya akan sangat besar ke depan.</p>
<p>“Di balik keingintahuan masyarakat tentang Earth Hour akan memicu pertanyaan yang akhirnya akan mengajak masyarakat mengimplementasikannya untuk menyelamatkan bumi dari pemanasan global dengan kesadaran,” ujarnya.</p>
<p>Namun ia menyayangkan peran pemerintah masih kurang. Karena pemerintah masih saja berkutat dengan perjanjian kerjasama dengan internasional untuk efek rumah kaca, padahal ada yang lebih penting yakni beradaptasi terhadap perubahan iklim bukannya mitigasi bencana.</p>
<p>“Pemerintah DKI Jakarta meskipun sudah mentargetkan akan mengurangi 30% emisi gas rumah kaca hingga 2030, namun pada kenyataannya rencana tata ruang wilayah yang dibuat tidak mencerminkan semangat tersebut. Pemerintah lebih memihak pada developer besar sehingga kawasan ruang terbuka hijau dan rawa tidak ada tempat. Kami sangat khawatir.Kami terus melakukan riset dan pendampingan,” kata Achmad.</p>
<p>Pakar Astronomi dan Astrofisika LAPAN Prof Dr Thomas Djamaludin menilai kampanye global WWF Earth-Hour dari sisi semangatnya sangat bagus. Hal itu menanamkan pembelajaran pada masyarakat pentingnya listrik yang mempunyai dampak pada pemanasan global.</p>
<p>“Di Indonesia listrik bukanlah barang murah dan bukan hanya dibangkitkan oleh air (PLTA) tetapi juga dari batubara dan bahan bakar minyak (BBM),” ujarnya.</p>
<p>Namun ia melihat antusiasme masyarakat Indonesia agak kurang dalam menyambut Earth-Hour. Hal itu karena banyak masyarakat Indonesia yang enggan mematikan lampu akibat banyaknya pemadaman listrik bergilir yang mempersulit himbauan itu. Jadi Anda akan ikut mematikan listrik? (inilah.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/17240-27032010.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembalikan NU pada Khittah-nya</title>
		<link>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/17140-20032010.html</link>
		<comments>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/17140-20032010.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 03:08:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayifahmi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Laporan Khusus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gp-ansor.org/?p=17140</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta &#8211; Banyak warga NU mengharapkan Muktamar ke-32 di Makassar akan membahas konflik di tubuh PKB. Namun tampaknya hal itu tidak akan terwujud. Mau dibawa kemana NU? Salah satu kandidatnya Ketua Umum PBNU adalah Masdar F Mas’udi. Tokoh muda yang juga Ketua PBNI (2004-2009) itu itu memiliki program untuk mengembalikan NU kepada khitah-nya. Program unggulan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Banyak warga NU mengharapkan Muktamar ke-32 di Makassar akan membahas konflik di tubuh PKB. Namun tampaknya hal itu tidak akan terwujud. Mau dibawa kemana NU?</p>
<p>Salah satu kandidatnya Ketua Umum PBNU adalah Masdar F Mas’udi. Tokoh muda yang juga Ketua PBNI (2004-2009) itu itu memiliki program untuk mengembalikan NU kepada khitah-nya. Program unggulan saya adalah membenahi ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan warga Nadhliyin.</p>
<p><span id="more-17140"></span>“Ini program internal,” paparnya. Program eksternalnya adalah kampanye Islam sebagai cinta damai, cinta perbedaan, dan menghargai kebhinekaan. Tentu saja program-program itu harus dijalankan dengan dukungan pemerintah</p>
<p>Masdar dikenal sebagai intelektual NU yang memiliki pemikiran maju. Namun sering gagasannya terlalu maju sehingga belum dapat diterima warga NU sendiri. Misalnya, ia pernah mengatakan bahwa pelaksanaan ibadah haji dapat dilakukan dalam enam shift, tidak hanya satu shift seperti yang terjadi saat ini.</p>
<p>Dengan demiikian, musim haji dapat dilaksanakan berlangsung selama tiga bulan sesudah Ramadhan sehingga tidak berdesak-desakan. Namun, gagasan ini ditolak sebagian besar warga NU. Berikut petikan wawancara wartawan INILAH.COM, Kawiyan dengan tokoh yang di kalangan NU dikenal dengan sebutan kyai muda.</p>
<p>Banyak yang menginginkan agar Muktamar NU membahas konflik politik yang terjadi di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Keinginan ini wajar mengingat PKB dilahirkan oleh NU. Bagaimana pendapat Anda?</p>
<p>Muktamar memang akan membahas masalah politik tetapi dalam konteks yang lebih umum, tidak khusus menyangkut PKB. Jadi yang dibahas nanti menyangkut etika politik, hubungan politik dengan warga NU, dan politik kemaslahatan bagi warga NU.</p>
<p>Mengapa tidak ada pembahasan khusus tentang PKB dan rekomendasi politik warga NU?</p>
<p>Kalau muktamar membahas secara khusus mengenai PKB itu namanya intervensi. PBNU tidak mau melakukan intervensi terhadap PKB. Para politisi di PKB saya kira dapat menyelesaikan konflik yang terjadi. Harus diingat, warga NU tidak hanya di PKB tetapi banyak juga di partai politik lain.</p>
<p>Jadi tidak ada semacam ‘rekomendasi’ untuk penyelesaian konflik PKB?</p>
<p>Tidak ada. Mungkin setelah muktamar nanti pengurus PBNU akan melakukan silaturrahmi dalam rangka membantu menyelesaikan konflik PKB. Itu pun akan dilakukan terhadap partai-partai politik lain.</p>
<p>NU kan organisasi kemasyarakat terbesar di negeri ini. Apakah ada tanda-tanda intervensi dari pemerintah menjelang muktamar nanti? Atau ada kandidat tertentu yang mencoba mendapatkan dukungan dari pemerintah?</p>
<p>Saya belum tahu. Yang pasti, apapun yang terjadi saya berharap muktamar NU harus berakhir dengan keputusan-keputusan yang strategis untuk mengembalikan fungsi NU sebagai jangkar kokohnya NKRI.</p>
<p>Kedua, muktamar harus mengembalikan NU sebagai kekuatan masyarakat sipil penopang demokrasi dan moralitas bangsa. Ketiga, muktamar harus memastikan NU sebagai wadah perkhitaman untuk kepentingan umat dan rakyat Indonesia. Dan keempat, muktamar harus memastikan bahwa NU bebas dari politisasi elit orang perorang untuk memperolah jabatan-jabatan politik.</p>
<p>Apakah kasus pencalonan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi sebagai Cawapres pada 2004 termasuk dalam kategori memanfaatkan NU untuk kepentingan politik perorangan?</p>
<p>Ya Anda tahu sendirilah, nggak usah disebut. Mengapa tidak boleh memakai bendera NU, karena bisa menimbulkan perpecahan di kalangan NU. Mana yang mendukung dan menolak menggunakan bendera NU. Ini kan merugikan NU secara organisasi.</p>
<p>Tapi boleh kan tokoh NU jadi Capres, Wapres atau calon lainnya?</p>
<p>Ya boleh tapi syaratnya harus mundur dari kepengurusan di PBNU. Bahkan, ke depan pengurus PBNU tidak boleh menjadi pengurus partai politik. Harus pilih salah satu supaya tidak rancu. Sebab, NU bukanlah partai politik.</p>
<p>Warga NU ada di mana-nama, NU harus menjaga jarak yang sama dengan partai-partai politik. NU berkomitmen menjadi payung bagi seluruh warga NU. Kalau mau mengejar jabatan politik, PBNU akan rela melepas kadernya untuk terjun di partai.</p>
<p>Bagaimana kesiapan Anda untuk bersaing menjadi Ketua Umum PBNU?</p>
<p>Saya sudah siap. Ketika Muktamar NU di Solo 2004, saya termasuk kandidat yang lolos dengan dukungan suara minimal bersama pak Hasyim Muzadi. Jadi, hanya ada dua calon ketika itu, saya dan Pak Hasyim.</p>
<p>Dari mana saja dukungan Anda?</p>
<p>Dari mana-mana, dari pesantren dan organisasi-organisasi di bawah NU. Insya Allah dukungan itu akan terus bertambah.</p>
<p>Program apa yang akan Anda tawarkan di muktamar nanti?</p>
<p>Saya punya program dan jaringan untuk kembalikan NU kepada khitah-nya. Program unggulan saya adalah membenahi ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan warga Nadhliyin. Ini program internal.</p>
<p>Program eksternal, saya ingin agar NU kampanye Islam sebagai cinta damai, cinta perbedaan, dan menghargai kebhinekaan. Tentu saja program-program itu harus dijalankan dengan dukungan pemerintah. (Sumber:inilha.com/mdr)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/17140-20032010.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saresehan &amp; Pelantikan Pimpinan Wilayah GP Ansor Kepri</title>
		<link>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/16995-12032010.html</link>
		<comments>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/16995-12032010.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 11:28:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Laporan Khusus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gp-ansor.org/?p=16995</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari Minggu, 7 Maret 2010. Pengurus Wilayah Pemuda Ansor Provinsi Kepulauan Riau mengadakan Sarasehan Nasional Dan Pelantikan Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Periode 2009 – 2013 yang bertempat di Hotel Goodway, Nagoya Batam. Acara yang sebelumnya dischedulekan mulai pukul 08.30 WIB kemudian baru bisa dimulai pada pukul 10.00 WIB dikarenakan belum datangnya para undangan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.gp-ansor.org/wp-content/uploads/2010/03/ansor-kepri9.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-16996" title="ansor kepri9" src="http://www.gp-ansor.org/wp-content/uploads/2010/03/ansor-kepri9-300x201.jpg" alt="" width="300" height="201" /></a></p>
<p>Pada hari Minggu, 7 Maret 2010. Pengurus Wilayah Pemuda Ansor Provinsi Kepulauan Riau mengadakan Sarasehan Nasional Dan Pelantikan Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Periode 2009 – 2013 yang bertempat di Hotel Goodway, Nagoya Batam.<br />
Acara yang sebelumnya dischedulekan mulai pukul 08.30 WIB kemudian baru bisa dimulai pada pukul 10.00 WIB dikarenakan belum datangnya para undangan.</p>
<p>Sarasehan Nasional dan Pelantikan pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Provinsi Kepulauan Riau pada kesempatan itu mengusung sebuah tema “ Mewujudkan Peran Pemuda Dalam Rangka Mengemban Amanat Organisasi Pada Era Pasar Bebas “ dengan pembicara utama Bapak Prof. Moh. Mahfud, MD ( Ketua Mahkamah Konstitusi RI ).</p>
<p>Dalam acara tersebut dihadiri kurang lebih 500 orang undangan . Diantara para undangan yang hadir adalah Ibu Aida Ismeth Abdullah ( Anggota DPD Kepri /Isteri Gubernur Kepri ), Bapak Mustofa Wijaya ( Ketua Otorita Batam ), Ketua PP Ansor  yang diwakili oleh Sahabat Malik Harmain, perwakilan militer dan pemerintah kota Batam dan provinsi kepri. Sebelum acara berakhir para tamu undangan dihibur dengan penampilan anggota-anggota banser yang memperagakan seni bela diri dan kekebalan tubuh. Sebagai penutup dilanjutkan dengan acara makan siang bersama.</p>
<p>Dilaaporkan Oleh: Muhamad Sigid Safarudin (Departemen Informasi, Iptek dan Kajian Strategis)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/16995-12032010.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islam Jadi Mata Pelajaran di Jerman</title>
		<link>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/16175-29012010.html</link>
		<comments>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/16175-29012010.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 07:58:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Laporan Khusus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gp-ansor.org/?p=16175</guid>
		<description><![CDATA[Berlin (GP Ansor Online):  Ketika Lamya Kaddor mulai mengajar di Sekolah Gluecklauf di kota pertambangan di Jerman ini, ia memutar otak bagaimana menyajikan materi yang menarik bagi anak didiknya. Ia membayangkan, kelasnya bakal &#8220;tegang&#8221; karena materi yang disampaikan lumayan &#8220;berat&#8221;, atau bahkan muridnya bosan dan pergi. Namun yang terjadi di luar dugaan. Pelajaran agama Islam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berlin (GP Ansor Online):  Ketika Lamya Kaddor mulai mengajar di Sekolah Gluecklauf di kota pertambangan di Jerman ini, ia memutar otak bagaimana menyajikan materi yang menarik bagi anak didiknya. Ia membayangkan, kelasnya bakal &#8220;tegang&#8221; karena materi yang disampaikan lumayan &#8220;berat&#8221;, atau bahkan muridnya bosan dan pergi. Namun yang terjadi di luar dugaan.</p>
<p>Pelajaran agama Islam yang menjadi mata pelajaran pilihan, diikuti banyak siswa. Tak hanya anak-anak Muslim, tapi juga non-Muslim. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanya an seputar kehidupan mereka dan bagaimana pandangan Islam soal itu.</p>
<p><span id="more-16175"></span>Apakah saya boleh punya pacar? Apakah kalau saya menganut Islam, saya boleh mengecat kuku saya? Apakah saya akan dibakar di api neraka jika saya memutuskan menjadi gay? Demikian berondongan pertanyaan yang harus dijawab Kaddor. Ia pun makin bersemangat mengelola kelasnya.</p>
<p>Ya, konstitusi Jerman menetapkan bahwa agama menjadi bagian dari kurikulum sekolah. Inisiatif lahir dari kekejaman era Nazi, dan kali ini, ingin memberi landasan etika dan identitas bagi generasi muda. Maka, keran pendidikan agama dibuka di tiap sekolah negeri. Katolik dan Kristen telah lebih dulu mengajarkan agama di sekolah, dengan didanai publik. Yahudi baru tahun 2003 mengajarkan agamanya di sekolah. Dan, sejak akhir tahun lalu, guru Muslim didatangkan untuk mengajar pendidikan agama Islam.</p>
<p>Sejumlah pengamat, seperti dilaporkan Christian science Monitor, menyatakan kelas Islam ini positif untuk membantu integrasi kaum Muslim yang berjumlah 6 persen dari populasi itu. kelas ini juga menunjukkan sikap terbaru pemerintah Jerman terhadap minoritas Muslim.</p>
<p>&#8220;Kelas Muslim di sekolah umum adalah tes untuk integrasi Jerman,&#8221; kata Michael Kiefer, penulis sejarah Islam di Jerman. Kaum Muslim, katanya, bisa melihat bahwa mereka mendapatkan sesuatu yang agama-agama lain juga mendapatkan. &#8220;Ini berdampak sangat positif pada mereka. &#8221;</p>
<p>Selama beberapa dekade, Jerman tidak banyak berbuat bagi minoritas Muslim. Mereka mengklasifikasikan Muslim sebagai pendatang, bukan bagian dari mereka. Tetapi, seperti kata CSM, Jerman sekarang lebih bersedia untuk melihat imigran sebagai bagian dari identitas negara.</p>
<p>Sebetulnya, ada beberapa contoh menarik tentang apreasiasi pemerintah terhadap Muslim di Jerman. Di North Rhine Westphalia, misalnya, kelas Islam bukan hal baru. Di kota dimana sepertiga dari umat Islam Jerman hidup, ada 150 sekolah umum menawarkan studi Islam untuk 13 ribu anak-anak mulai kelas 1 sampai 10. Sekitar 200 sekolah mengajarkan kursus nasional, yang didirikan oleh pemerintah negara bagian bekerja sama dengan kelompok-kelompok Muslim lokal.</p>
<p>Genderang ditabuh Menteri Dalam Negeri Wolfgang Schäuble tahun lalu, saat mendesak agar Jerman mendanai pendidikan agama bagi 900 ribu siswa Muslim di sekolah-sekolah umum. &#8220;Ini dapat menjadi teladan bagi masyarakat kita untuk mengakui dan mengatasi semua perbedaan yang menghadang kita,&#8221; katanya di depan parlemen.</p>
<p>Menurut sebuah penelitian yang dirilis Kementerian Dalam Negeri musim semi lalu, 80 persen Muslim di Jerman hanya menginginkan itu. Yang dipertaruhkan adalah keadilan serta pragmatisme: lebih baik untuk negara &#8211; pendidikan agama secara formal dalam bahasa Jerman, daripada kelas-kelas agama tanpa pengawasan. &#8220;Kita harus melarikan diri dari pemikiran bahwa Islam adalah agama untuk orang asing,&#8221; katanya.</p>
<p>Tanpa perlu menunggu lama, palu diketuk dan pendidikan Islam disetujui untuk diberikan di sekolah-sekolah umum di seluruh Jerman.</p>
<p>Sekolah-sekolah banyak mendapatkan hal positif dengan pendidikan ini. Hans-Jakob Herpers, kepala Sekolah Gluecklauf, menyatakan, guru agama Islam tak sekadar mengajarkan agama Islam saja. &#8220;Dia telah menjadi semacam penasihat kehidupan bagi para siswa, terutama untuk anak perempuan, yang mungkin tidak berani mengajukan pertanyaan-pertanya an tertentu pada orang tua atau di sekolah-sekolah agama,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Herpers mengaku, semua agama mengajarkan kebaikan. Satu lagi yang terpenting, pada siswa Muslim mereka telah mendapatkan identitasnya: bahwa mereka adalah bagian dari bangsa Jerman, yang hak-haknya dihargai seperti yang lain.</p>
<p>Sumber Berita: christian science monitor</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/16175-29012010.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harmoni Hindu-Islam Dalam Belanga Toleransi</title>
		<link>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/15569-28122009.html</link>
		<comments>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/15569-28122009.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 05:07:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Laporan Khusus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gp-ansor.org/?p=15569</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Masuki M. Astro Jakarta (GP Ansor Online): Pura Dalem Jawa di kompleks Puri Bunutan, Desa Bubutin, Kabupaten Bangli, Bali, itu lebih dikenal dengan sebutan Pura Langgar.Dari namanya, tempat peribadatan ini menggambarkan adanya hubungan sangat khusus antara Hindu, yang diwakili oleh pura, dan Islam. yang disimbolkan oleh langgar. Pura adalah tempat umat Hindu menggelar sembahyang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Masuki M. Astro</p>
<p>Jakarta (GP Ansor Online): Pura Dalem Jawa di kompleks Puri Bunutan, Desa Bubutin, Kabupaten Bangli, Bali, itu lebih dikenal dengan sebutan Pura Langgar.Dari namanya, tempat peribadatan ini menggambarkan adanya hubungan sangat khusus antara Hindu, yang diwakili oleh pura, dan Islam. yang disimbolkan oleh langgar.</p>
<p>Pura adalah tempat umat Hindu menggelar sembahyang, sedangkan langgar tempat umat Islam melakukan shalat atau mengaji. Langgar adalah masjid kecil yang tidak digunakan untuk shalat Jumat.</p>
<p>Pura Langgar menjadi jejak bagaimana antara Hindu dan Islam di Bali tidak memiliki jarak.</p>
<p>Sepintas, pura seluas sekitar satu hektare yang dikelilingi kolam itu tidak berbeda dengan pura di Bali. Namun, kalau diamati lebih teliti, di pura itu terdapat bangunan bersegi empat, yang berada di tempat utama atau tertinggi di pura tersebut, yang disebut &#8220;utamaning mandala&#8221;.</p>
<p>Ciri khas lainnya, bangunan itu berundak dua, berpintu empat, serta atapnya bertingkat dua. Konon, dua tingkat atap dan dua undak itu melambangkan syariat dan tarekat dalam Islam. Syariat adalah hukum yang mengatur tata kehidupan dan peribadatan umat, sedangkan tarekat adalah jalan menuju Tuhan.</p>
<p>Meskipun bernama langgar, namun tempat suci itu tidak digunakan umat Islam untuk shalat atau kegiatan keislaman lainnya. Langgar itu tetap digunakan umat Hindu yang melakukan pemujaan terhadap arwah leluhur.</p>
<p>Hanya saja, di dalam pura itu tetap melekat khasanah keislaman yang masih ikut dijaga oleh umat Hindu yang menggunakannya, misalnya saat upacara, salah satu isi sesajen atau banten tidak diperkenankan menggunakan daging babi.</p>
<p>Daging babi, yang terbiasa dimakan warga Hindu tapi haram bagi Muslim, pada kegiatan itu diganti dengan daging itik atau ayam.</p>
<p>Selain itu, umat Hindu di pura itu juga mengenal kurban. Kalau di Islam, kurban disembelih saat Hari Raya Idul Adha, di Pura Langgar upacara kurban itu dilaksanakan sekitar Februari atau sebelum hari raya Nyepi.</p>
<p>Dalam perkembangannya, pura unik yang mungkin satu-satunya di dunia itu banyak diziarahi umat Islam dari luar Pulau Bali. Mereka berasal dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, termasuk Madura.</p>
<p><span id="more-15569"></span>&#8220;Di luar bulan puasa, setiap hari bisa 10 bus, tapi kalau puasa sepi. Setelah Idul Fitri ramai kembali,&#8221; kata Agung Wiadnyana, penjaga pura.</p>
<p>Ia mengemukakan, saat berziarah, Muslim itu banyak yang ingin shalat di lokasi tersebut. Mereka shalat di sebuah bangunan khusus sebelah kiri langgar.</p>
<p>&#8220;Kami menyediakan tempat untuk shalat saudara yang Muslim di dalam pura ini. Itu merupakan penghormatan kami terhadap umat Muslim yang jauh-jauh datang dari luar Bali. Di dalam pura itu, kami juga menyediakan tempat untuk wudlu,&#8221; katanya.</p>
<p>Menurut dia, banyak warga Muslim yang datang ke pura tersebut menuturkan bahwa mereka mendapatkan cerita dari leluhurnya bahwa ada pura yang menunjukkan adanya toleransi umat beragama di daerah itu.</p>
<p>&#8220;Pernah ada juga tamu dari Madura yang datang ke pura ini mengatakan, ia diberi tahu oleh kakeknya yang sudah berusia di atas 100 tahun. Dia bercerita bahwa kakeknya berpesan, kalau ke Bali, dia harus mengunjungi Pura Langgar,&#8221; kata Agung.</p>
<p>Beberapa umat Islam yang berkunjung ke lokasi itu memberikan sumbangan, yang antara lain digunakan untuk pembangunan sarana shalat untuk umat Islam.</p>
<p>Sementara itu, pewaris Puri Bunutin Ida I Dewa Oka Widyarshana mengatakan, keberadaan pura itu merupakan aset nasional untuk menggugah kerukunan umat beragama.</p>
<p>&#8220;Pura ini adalah tempat yang memberi pencerahan mengenai toleransi umat beragama yang lahir secara murni. Kalau sekarang orang bicara toleransi, mungkin karena memang menjadi keharusan dalam kerangka NKRI Tapi di sini memang murni,&#8221; katanya.</p>
<p>Dosen Fakultas Pertanian Universitas Udayana itu mengakui kemungkinan ada umat Hindu dan mungkin umat Islam yang tidak setuju dengan keberadaan langgar di pura itu.</p>
<p>&#8220;Namun kami tidak menganggap beban. Kami menganggap itu sebagai berkah karena pura ini telah menjadi simbol perdamaian. Ini realitas yang tidak bisa dipungkiri,&#8221; katanya.</p>
<p>Menurut dia, keberadaan Pura Langgar itu menunjukkan, ketika pura itu dibangun berarti sudah ada komunikasi yang dekat antara tokoh Islam dan tokoh Hindu. Hal itu dibuktikan dengan bentuk bangunan seperti langgar yang memang mengandung nilai-nilai tertentu dalam agama Islam.</p>
<p>&#8220;Kalau tidak ada komunikasi dengan tokoh Islam, tidak mungkin orang Hindu di Bali, yang ketika itu belum mengenal apa itu Islam, bisa membuat bangunan berbentuk langgar yang memiliki nilai filosofi Islam,&#8221; katanya.</p>
<p>Karena itu, ia menduga kuat, sudah ada kebesaran jiwa dari tokoh Islam dan Hindu ketika itu sehingga bangunan tersebut bisa terwujud. Tokoh Islam rela langgar diusung ke pura dan tokoh Hindu rela pura diisi langgar.</p>
<p>Menurut dia, bangunan itu menjadi belanga bagi Hindu Muslim menjalin hubungan yang toleran.</p>
<p>Dewa Oka, yang menulis sejarah Kerajaan Bunutin dengan judul &#8220;Pangeran Mas Wilis (Wong Agung Wilis) Raja Bunutin&#8221;, menceritakan, Pura Langgar tidak terlepas dari ikatan sejarah Kerajaan Bunutin dengan Kerajaan Blambangan yang wilayahnya berada di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.</p>
<p>Saat itu Raja Bunutin, Ida I Dewa Mas Blambangan, yang masih keturunan Raja Blambangan itu jatuh sakit selama sekitar lima tahun.</p>
<p>&#8220;Mas Blambangan yang naik tahta pada 1780 sakit sehingga adiknya, Ida I Dewa Mas Bunutin melakukan semadi. Dalam semadinya, Mas Bunutin mendapat perintah dari leluhur kami dari Blambangan yang datang dengan pakaian Muslim agar mendirikan pura yang di dalamnya ada langgar,&#8221; katanya.</p>
<p>Raja Bunutin dan keluarga yang memang menaruh penghormatan tinggi terhadap leluhur langsung mengikuti perintah itu, meskipun ada beberapa keluarga raja yang tidak setuju.</p>
<p>&#8220;Setelah pura itu dibangun, Mas Blambangan betul-betul sembuh dan memiliki keturunan serta kehidupan kerajaan menjadi makmur,&#8221; katanya.</p>
<p>Ke depan, menurut Dewa Oka, dia berharap keberadaan pura ini mendapat perhatian dari pemerintah. Apalagi, nilai yang bisa dikabarkan dari keberadaan pura ini sangat luhur, yakni toleransi beragama yang begitu menyatu.</p>
<p>&#8220;Saya berharap agar pemerintah, baik daerah maupun pusat ikut memelihara keberadaan pura yang di dalamnya terdapat langgar tersebut,&#8221; katanya.</p>
<p>Ia menuturkan, untuk pemeliharaan pura yang berada sekitar 35 km timur laut dari Kota Denpasar itu hanya mengandalkan swadaya dari puri dan sumbangan para pengunjung. (bersambung)</p>
<p>**</p>
<p>Ketut tampak khusyuk bersembahyang dengan perangkat dupa dan sesajen, dan di sampingnya, Rahmat juga tak kalah khusyuk membaca Yasin, sebuah surat dalam Al Quran.</p>
<p>Dua orang itu memang berlainan keyakinan dalam beragama, Ketut Hindu dan Rahmat Islam. Namun mereka duduk berdampingan, tidak saling mengganggu, ketika mereka menjalani laku keagamaam mereka di makam Gusti Ayu Made Rai alias Raden Ayu Pemecutan alias Raden Ayu Siti Khotijah, di kompleks Puri Pemecutan, Denpasar.</p>
<p>Makam itu biasanya ramai dikunjungi umat Islam dan Hindu pada malam Jumat.</p>
<p>Satu-satunya makam Muslim di tengah pemakaman umat Hindu itu terletak di Desa Pemecutan, Kecamatan Denpasar Barat. Makam keturunan Raja Pemecutan itu dikeramatkan oleh umat Hindu dan juga Muslim.</p>
<p>Makam itu juga menjadi simbol bagaimana sebenarnya umat berbeda keyakinan bisa menyatu. Di sana, tidak pernah ada pengakuan bahwa umat Islam atau umat Hindu yang lebih berhak memelihara makam tersebut. Bahkan di makam itu mereka melebur dalam satu belanga dengan dua warna.</p>
<p>&#8220;Kalau bulan puasa, umat Muslim banyak datang berziarah setelah mereka selesai melaksanakan shalat tarawih,&#8221; kata I Ketut Gde Fajar, penjaga makam yang biasa disebut makam Keramat Agung Pemecutan itu.</p>
<p>Putra dari juru kunci Keramat Agung Pemecutan Jro Mangku I Made Puger itu mengemukakan, biasanya para peziarah datang ke makam tersebut untuk mengaji dan berdoa.</p>
<p>Di bulan Ramadhan, katanya, para peziarah umumnya hanya masyarakat di Denpasar dan sekitarnya. Mereka datang secara berkelompok maupun sendiri-sendiri. Sementara di luar bulan puasa, peziarah datang dari Pulau Jawa, Madura, Sulawesi, Kalimantan, bahkan dari Malaysia.</p>
<p>Jro Mangku I Made Puger dalam bukunya &#8220;Sejarah Keramat Agung Pemecutan&#8221; menyebutkan, Raden Ayu Siti Khotijah adalah putri dari Raja Pemecutan.</p>
<p>Ayu memeluk Islam setelah dipersunting oleh Pangeran Cakraningrat IV dari Bangkalan, Madura. Sebelumnya Ayu mengalami kuning bertahun-tahun dan tidak bisa disembuhkan. Ia sembuh setelah diobati oleh bangsawan asal Madura itu.</p>
<p>Sebagai bentuk rasa terima kasih atas bantuan tersebut, Raja Pemecutan menikahkan putrinya dengan Cakraningrat IV. Setelah diboyong ke Bangkalan, sang putri memeluk Islam.</p>
<p>Setelah bertahun-tahun tinggal di Bangkalan dan menjadi Muslim yang taat, Siti Khotijah berkeinginan mengunjungi keluarganya di Bali. Pangeran Cakraningrat IV memberikan izin, namun tidak bisa menemani perjalanan isterinya ke Pemecutan.</p>
<p>Peristiwa bersejarah terjadi ketika Siti Khotijah hendak melaksanakan shalat magrib di Puri Pemecutan.</p>
<p>Dia telah mengenakan mukena putih dan bertakbir ketika seorang patih kerajaan yang tidak tahu tentang Islam melihatnya dan langsung mencurigai Siti Khotijah mengamalkan ilmu hitam atau leak.</p>
<p>Apalagi, sang patih mengira kalimat takir &#8220;Allahu akbar&#8221; yang diucapkan Siti Khotijah sebagai kata &#8220;makebber&#8221; yang artinya mau terbang. Sang patih kemudian melapor hal itu kepada raja.</p>
<p>Mendapat laporan itu Raja Pemecutan murka dan memerintahkan patih agar Siti Khotijah dibawa ke setra atau kuburan Badung. Di kuburan itu Siti Khiotijah menemui ajal setelah dilempar cucuk konde miliknya sendiri oleh sang patih.</p>
<p>Sebelum meninggal, Siti Khotijah berpesan bahwa dirinya siap menerima apapun yang terjadi. Jika ia mati, katanya, badannya akan mengeluarkan asap.</p>
<p>&#8220;Bila asap yang keluar dari mayat saya berbau busuk, silakan paman patih tanam mayat saya sembarangan. Tetapi jika asap yang keluar dari badan saya berbau harum, tolong buatkan saya tempat suci yang disebut keramat,&#8221; demikian pesan Siti Khotijah yang dikutip dalam buku &#8220;Sejarah Keramat Agung Pemecutan&#8221;.</p>
<p>Ternyata, mayat Siti Khotijah mengeluarkan asap berbau harum. Mendengar kabar itu Raja Pemecutan merasa menyesal. Sebagai bentuk penghormatan, selain dibuatkan makam khusus, pengikut dan pendamping Siti Khotijah dari Bangkalan kemudian diberi tanah pemukiman di Kepaon.</p>
<p>Daerah itu saat ini dikenal sebagai Kampung Islam Kepaon yang terletak di Desa Pamogan, Kecamatan Denpasar Selatan.</p>
<p>Hingga kini hubungan masyarakat Kepaon dengan Puri Pemecutan dan Gerenceng masih berlangsung dengan baik.</p>
<p>Menurut I Ketut Gde Fajar, keberadaan makam Siti Khotijah menjadi salah satu alat pemersatu antara umat Muslim dengan Hindu.</p>
<p>&#8220;Dari tempat ini, kami mendeklarasikan terbentuknya organisasi Persaudaraan Hindu Muslim Bali atau PHMB pada tahun 2006. Kami saling bahu-membahu setiap ada kegiatan keagamaan Hindu maupun Islam,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Tempat ini menunjukkan bagaimana kebesaran hati umat Hindu. Mereka tetap menaruh hormat yang sama dengan leluhur lainnya, meskipun Rade Ayu Pemecutan semasa hidupnya keluar dari agama Hindu dan memeluk Islam.</p>
<p>Bahkan kisah pemelukan Islam oleh Rade Ayu Pemecutan atau Raden Ayu Siti Khotijah itu menjadi inti dari hymne PHMB yang dikarang oleh I Wayan Aryadana, seorang pemeluk Hindu. Wayan dan umat Hindu dengan lapang dada memasukkan selawat badar (doa-doa untuk Nabi Muhammad) dalam hymne itu.</p>
<p>Menurut Wayan, yang Ketua Pekat Indonesia Bersatu Bali itu, mengaku, dia berkonsultasi dengan pengurus PHMB yang Muslim ketika mengarang lagu itu, sehingga dia kemudian memasukkan juga unsur selawat dan cerita tentang kebersamaan umat Muslim dengan Kerajaan Pemecutan. (bersambung)</p>
<p>***</p>
<p>Perjalanan dari Denpasar menuju Puri Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, serasa seperti mengikuti rombongan orang dari kalangan pesantren.</p>
<p>Siang itu, Ketua Persaudaraan Hindu Muslim Bali (PHMB) Anak Agung Ngurah Agung hendak menyaksikan persiapan upacara Hindu di Puri Carangsari yang melibatkan umat Muslim.</p>
<p>Selawat badar mengalun berulang-ulang menghiasi perjalanan sekitar 25 km ke arah utara pada Minggu, 13 Desember. Selawat yang biasa didengar di komunitas Nahdlatul Ulama (NU) itu diikuti &#8220;rengengan&#8221; Anak Agung Ngurah Agung, pemilik mobil.</p>
<p>Selawat atau doa untuk nabi Muhammad Saw itu juga ditingkahi dengan tepukan-tepukan ringan pada paha dari I Wayan Aryadana, rekan Ngurah Agung. Kedua penganut Hindu itu menikmati selawat yang menjadi bagian dari hymne PHMB.</p>
<p>Ngurah Agung yang kemana-mana gemar mengenakan pakaian adat Bali itu begitu bersemangat bercerita mengenai persaudaraan Muslim dengan Hindu, termasuk mengantar ANTARA ke sejumlah lokasi tempat berseminya toleransi tersebut.</p>
<p>&#8220;Bagi kami tidak ada gunanya mengedepankan perbedaan. Justru perbedaan itu indah dan kalau semua yang ada di dunia ini sama, tidak akan ada keindahan,&#8221; kata lelaki pengagum KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur itu.</p>
<p>Meskipun namanya PHMB, namun sebetulnya semangat dari organisasi yang dipimpin Ngurah Agung itu ditujukan untuk semua agama. Hal itu terlihat dari lambang PHMB yang bergambar pura, masjid, gereja dan vihara.</p>
<p>&#8220;Nanti persaudaraan ini akan terus kami kembangkan ke semua agama yang ada di Bali. Tujuannya adalah menciptakan Bali dan Indonesia pada umumnya menjadi rukun sehingga NKRI betul-betul tegak,&#8221; katanya.</p>
<p>Ia ingin jalinan kebersamaan seperti yang ditampilkan Hindu dan Muslim terus meluas. Selama ini, jika umat Islam melakukan kegiatan pengajian atau melaksanakan shalat tarawih dan hari raya, para pecalang (pengamanan adat) yang beragama Hindu ikut menjaga.</p>
<p>&#8220;Sebaliknya, teman-teman Muslim ikut menjaga juga jika umat Hindu mengadakan kegiatan keagamaan. Nanti hal itu akan kami perluas ke saudara-saudara yang beragama di luar Hindu dan Islam,&#8221; katanya.</p>
<p>Ngurah Agung sendiri selama ini menjadi pengayom bagi umat Islam. Tidak sedikit umat Islam yang menghadapi masalah saat hendak mendirikan tempat ibadah, mengadu ke Ngurah Agung.</p>
<p>Menurut Sekretaris PHMB Deni Rahardian Muhammad, kalau sudah mendapat keluhan seperti itu, Ngurah Agung akan turun ke lokasi. Ia memperlajari apakah di lokasi itu, umat Islam betul-betul membutuhkan tempat ibadah.</p>
<p>&#8220;Kalau memang betul-betul membutuhkan, Pak Ngurah Agung akan mendekati masyarakat yang menolak. Karena Pak Ngurah tokoh puri, beliau tidak sulit untuk mempengaruhi masyarakat yang menolak itu,&#8221; katanya.</p>
<p>Namun demikian, katanya, tidak sedikit keinginan mendirikan tempat ibadah itu sebetulnya di luar kebutuhan yang sesungguhnya. Ada yang beberapa meter dari tempatnya sudah ada mushalla, umat di sekitarnya sudah mau mendirikan mushalla baru.</p>
<p>&#8220;Itu kan belum menjadi kebutuhan. Mushalla yang lama saja jemaahnya sedikit, kok mau mendirikan yang baru. Hal seperti ini kemudian tersebar ke luar Bali bahwa di Bali sulit mendirikan tempat ibadah. Padahal kita mestinya juga menjaga perasaan saudara-saudara Hindu,&#8221; kata lelaki yang juga pernah menjadi aktivis di lingkungan NU itu.</p>
<p>Menghadapi kenyataan seperti itu, katanya, Ngurah Agung biasanya akan memberikan pengertian pada umat Islam untuk tidak usah memaksakan diri membangun tempat ibadah yang baru. Mereka diminta untuk memaksimalkan yang sudah ada.</p>
<p>Gigihnya Ngurah Agung membela umat Islam itu sebetulnya juga menjadi semacam kritik bagi umat dan tokoh Islam di tempat yang mayoritas penduduknya Muslim seperti Jawa atau d tempat lain. Apakah tokoh Muslim mampu dan mau membela kepentingan warga agama minoritas jika umat minoritas itu menghadapi masalah saat hendak mendirikan tempat ibadah?</p>
<p>Jawabannya kembali pada konsep dasar yang seharusnya, yakni Islam memberikan perlindungan dan kenyamanan bagi pemeluk agama lain karena Islam itu adalah rahmat bagi seluruh alam.</p>
<p>Ngurah Agung terus melakukan silaturahmi dengan kalangan Muslim termasuk dengan mengadakan &#8220;open house&#8221; di Puri Gerenceng-Pemecutan, khusus pada hari-hari besar Hindu maupun Islam.</p>
<p>Seperti yang terjadi pada Galungan, 14 Oktober 2009. Pada acara itu, hymne PHMB pertama kali dinyanyikan di hadapan sekitar 1.000 umat Islam Denpasar dan sekitarnya.</p>
<p>Saat itu terlihat Galungan bernuansa Islam. Hari raya umat Hindu untuk memperingati kemenangan dharma (kebaikan) atas adharma (keburukan) itu bertabur selawat dan &#8220;assalamu`alaikum&#8221;.</p>
<p>Ngurah Agung sebagai penglingsir atau pewaris Puri Gerenceng, tidak terhitung berapa kali menyapa tamunya dengan &#8220;assalamu`alaikum&#8221;, salam umat Muslim. Ketika memberi sambutan, ia justru mendahulukan &#8220;assalamu`alaikum&#8221;. &#8220;Om swasti astu&#8221;, salam umat Hindu yang artinya juga mendoakan keselamatan diucapkan setelahnya.</p>
<p>Suasana di puri itu mirip dengan acara Idul Fitri karena yang hadir sekitar 1.000 umat Islam. Mereka adalah anggota PHMB yang tersebar antara lain di Kampung Islam Kepaon dan Kampung Jawa.</p>
<p>Menurut Ngurah Agung, kegiatan tersebut memang bertujuan untuk menciptakan kerukunan antarumat beragama yang ada di Bali, khususnya di Kota Denpasar.</p>
<p>&#8220;Kegiatan semacam ini merupakan wujud kecintaan kami pada bangsa ini yang harus hidup rukun meskipun berbeda keyakinan. Pada hakekatnya kita adalah bersaudara,&#8221; katanya.</p>
<p>Ia mengemukakan, sebetulnya yang dilakukan dirinya itu hanya mengulang semangat pendahulunya dari Kerajaan Pemecutan yang telah menjalin persaudaraan dengan umat Muslim, yang antara lain tersebar di Kepaon, Kampung Jawa (Wanasari) dan sejumlah kampung Muslim lainnya.</p>
<p>&#8220;Leluhur kami dulu sudah sering mengadakan pertemuan semacam ini, namun beberapa waktu kemudian sempat putus dan kami sekarang menyambung kembali. Kami kembalikan salah satu fungsi puri untuk menyambung tali persaudaraan dengan masyarakat,&#8221; katanya.</p>
<p>Tidak ada acara istimewa dalam kegiatan tersebut, melainkan hanya berkumpul dan kemudian makan bersama. Agar umat Muslim nyaman saat makan, pihak Puri Gerenceng mengundang petugas masak Muslim dari Madura.</p>
<p>&#8220;Sehingga teman-teman Muslim tidak perlu ragu dengan makanan di sini. Semuanya halal karena kami harus menghormati keyakinan teman-teman Muslim soal makanan ini,&#8221; ujar Ngurah Agung.</p>
<p>Setelah acara selesai, doa bukan disampaikan secara Hindu. Doa dilantunkan secara Islam yang dipimpin Ustd Hasan Nawawi dari kampung Jawa.</p>
<p>Beberapa warga asal Kampung Jawa mengatakan, sejak kecil mereka sudah akrab dengan lingkungan puri tersebut. Mereka bersyukur bahwa penerus puri masih terus melestarikan hubungan baik itu dengan warga Muslim.</p>
<p>Sementara Wali Kota Denpasar IB Rai Mantra yang hadir di acara itu mengatakan, kegiatan seperti ini merupakan wujud dari kerukunan umat beragama yang harus didukung. Ia menilai langkah yang dilakukan oleh tokoh Puri Gerenceng-Pemecutan ini untuk membangun kebersamaan sangat bagus.</p>
<p>&#8220;Kegiatan yang menyambung kerukunan semacam ini sangat bagus,&#8221; kata Rai Mantra.</p>
<p>Ia mengibaratkan kerukunan dalam perbedaan itu dengan musik yang justru indah ketika dimainkan dengan beragam alat. Musik memiliki falsafah yang dalam mengenai kehidupan yang sejati. Lewat musik sebetulnya manusia bisa belajar bahwa perbedaan yang dikelola dengan baik akan menjadi sesuatu yang indah.</p>
<p>&#8220;Dengan musik yang terdiri dari berbagai macam alat itu, orang bisa terhibur, terharu, dan bahkan menangis. Itu kan luar biasa,&#8221; katanya.(bersambung)</p>
<p>****</p>
<p>Rajutan persaudaraan terlihat di Puri atau Keraton Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten, Badung, Bali, Selasa, 15 Desember 2009, ketika sebuah mobil pick up membelah terik mentari siang dan berhenti persis di depan gapura puri.</p>
<p>Ketika kendaraan itu telah berhenti sempurna, turunlah Ibu-ibu berjilbab, disusul kemudian oleh puluhan lelaki berkopiah hitam dan bersarung yang menumpang kendaraan lain.</p>
<p>Mereka, kaum Muslim yang dipimpin oleh sesepuh Muhdin (70) dan Kepala Kampung Angantiga M Ramsudin (35), kemudian berjalan bersama menuju ke dalam puri. Siang itu, keluarga dan warga di sekitar puri yang penganut Hindu sedang melakukan upacara keagamaan di pemerajan (pura) agung Puri Carangsari.</p>
<p>Puluhan warga Muslim dari Kampung Angantiga, Kecamatan Petang ikut membantu terlaksananya upacara saudaranya yang Hindu. Sehari sebelumnya mereka juga membuat sesajen (banten) di puri itu.</p>
<p>Karena bantennya dibuat oleh umat Muslim, maka sesajen itu disebut dengan &#8220;Bebangkit Islam&#8221;. Sesajen itu bersih dari hal-hal yang dilarang dalam Islam, khususnya daging babi. Mereka menggantinya dengan daging ayam.</p>
<p>Di dalam lingkungan puri, rombongan saudara Muslim itu diterima oleh keluarga puri, termasuk penglingsir atau pewaris, Anak Agung Ngurah Bagus Suarmandala. Mereka menunggu beberapa saat sebelum upacara dimulai.</p>
<p>Simaklah bagaimana mereka menyikapi itu.</p>
<p>Muhdin yang duduk di teras atas sebuah bangunan bersama penglingsir puri merasa beruntung hidup dalam iman Islam, namun berada di tengah masyarakat Hindu. Hal itu berbeda dengan asal leluhurnya di Sulawesi Selatan yang lebih banyak Muslimnya.</p>
<p>&#8220;Kami bersyukur bahwa hubungan persaudaraan dengan umat Hindu ini terus berlanjut sampai sekarang. Kami bersyukur karena meskipun beda agama, kami saling menghormati,&#8221; kata lelaki berperawakan pendek yang tidak banyak lagi perbendaharaan bahasa Bugisnya itu.</p>
<p>Sambil menunggu prosesi upacara, Ramsudin menimpali ucapan sesepuhnya. Ia mengatakan bahwa dirinya bersama warga Muslim lain senang bisa berpartisipasi dalam kegiatan umat Hindu di Puri Carangsari.</p>
<p>Tidak banyak yang bisa mereka ceritakan mengenai hal itu, kecuali tentang nikmatnya hidup bersama dalam perbedaan.</p>
<p>Prosesi segera dimulai. Sebanyak 12 pemuda Muslim serentak mengambil tombak dan umbul-umbul dalam peralatan prosesi lainnya. Tak ketinggalan juga Ramsudin. Mereka tidak terlihat canggung dengan perannya masing-masing. Pertanda mereka sudah biasa melakukan itu.</p>
<p>Sementara Muhdin dan ibu-ibu berjilbab hanya ikut berjalan dalam rombongan prosesi.</p>
<p>Sangat mudah mengenali siapa Muslim dan siapa Hindu dari pakaian mereka. Umat Hindu umumnya menggunakan pakaian adat warna putih dalam prosesi yang menempuh perjalanan beberapa kilometer untuk menuju sebuah sumber tempat menyucikan diri. Sementara yang Muslim menggunakan pakaian hitam.</p>
<p>Kerukunan pemeluk Islam dan Hindu di sebuah desa di Bali itu bukan hal baru.</p>
<p>Anak Agung Ngurah Bagus Suarmandala bercerita bahwa kebersamaan umat Muslim di Angantiga dengan keluarga puri itu sudah teruji dan berlangsung sejak abad XIV.</p>
<p>&#8220;Raja Carangsari ketika itu, Ida Gusti Ngemangkurat Pacung Gede Tabuana memberikan wilayah untuk ditempati umat Muslim,&#8221; kata Suarmandala, dua hari sebelum pelaksanaan upacara.</p>
<p>Ia kemudian menunjukkan sisa-sisa sesajen yang dibuat umat Muslim di lingkungan puri yang merupakan tempat kelahiran pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai itu. Sesajen Muslim itu ditempatkan di atas daun pisang, antara lain berisi sirih.</p>
<p>Tidak hanya itu, setiap akhir bulan puasa, umat Muslim juga berbuka puasa bersama di puri. Takbir kemudian menggema dari dalam puri.</p>
<p>Takbir yang dalam beberapa peristiwa kekerasan agama justru memancarkan ketakutan, di puri itu takbir mengabarkan kebesaran Tuhan yang sesungguhnya. Mereka membesarkan nama Tuhan lewat kebersamaan.</p>
<p>Saat mereka bertakbir, Suarmandala melakukan sembahyang di antara alunan takbir itu.</p>
<p>&#8220;Ada yang bertanya mengapa saya melakukan sembahyang di tengah saudara Muslim yang sedang bertakbir? Saya jawab bahwa saya ikut mensyukuri saudara saya yang Muslim yang telah sukses menyelesaikan kewajibannya selama satu bulan,&#8221; katanya.</p>
<p>Di malam kemenangan umat Islam itu, dia bersama beberapa keluarga puri kemudian diarak oleh warga Angantiga. Masih bersama alunan takbir, prosesi itu berjalan menuju Angantiga. Sebuah pemandangan unik, ketika seorang Hindu berada di lautan Allahu Akbar.</p>
<p>Suarmandala sebagai pemimpin puri diundang oleh umat Muslim Angantiga untuk memberikan wejangan berkaitan masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Pertemuan itu digelar di masjid Angantiga.</p>
<p>Begitulah kedekatan mereka. Kedekatan yang membuat mereka sepakat untuk bertali dalam simpul pesaudaraan. Bahkan makam umat Hindu dan Muslim di Angantiga juga berada dalam satu lokasi.</p>
<p>&#8220;Karena itu, jangan ajari kami mengenai toleransi. Kami sudah mempraktekkan persaudaraan ini sejak berabad-abad yang lalu. Yang perlu dilakukan oleh semua pihak, khususnya pemerintah adalah bagaimana melestarikan persaudaraan ini,&#8221; ujar Suarmandala.</p>
<p>Raja Carangsari</p>
<p>Persaudaraan mereka bermula ketika pada abad XIV Raja Carangsari Ida Gusti Ngemangkurat Pacung Gede Tabuana gundah karena banyak rakyatnya yang dari pegunungan hilang saat hendak melakukan upacara di lingkungan puri.</p>
<p>&#8220;Kalau ada warga dari pegunungan mau ke puri, dari 15 orang, yang selamat cuma enam orang. Yang lainnya hilang karena dimakan raksasa. Kemudian terdengar ada tiga pengembara dari Bugis yang terkenal sakti,&#8221; katanya.</p>
<p>Setelah dicari oleh utusan raja, ketiga pendekar Bugis itu, yakni Daeng Mapileh, Daeng Safei, dan Daeng Sarekah ditemukan di pesisir Angantelu, daerah yang saat ini masuk Kabupaten Karangasem.</p>
<p>Ketiganya diminta bantuan oleh raja untuk menumpas kejahatan dan menjaga warga pegunungan yang hendak ke puri. Sejak itu, rakyat Carangsari dari pegunungan merasa aman untuk melakukan aktivitas.</p>
<p>Para pendekar itu kemudian diberi wilayah di Angantiga oleh raja. Setelah menikah, mereka kemudian beranak pinak, dan saat ini berjumlah sekitar 300 kepala keluarga..</p>
<p>Sehari-hari penduduk Angantiga sudah tidak menggunakan bahasa Bugis, melainkan bahasa Bali. Mereka sepenuhnya menjadi bagian dari Bali seutuhnya.</p>
<p>Tradisi mencari nafkah mereka juga sudah berbeda dengan leluhurnya yang dikenal sebagai pelaut ulung. Mereka tidak lagi berteman dengan laut, melainkan pertanian dan perdagangan.</p>
<p>Mereka juga tidak hanya bersaudara dengan orang yang mengikrarkan iman dengan dua kalimat syahadat. Mereka tetap bahagia dalam lingkungan itu karena saudaranya yang Hindu memberikan perlindungan dan kebebasan.</p>
<p>Kekayaan kuno itu boleh jadi luput atau terlupakan dalam hiruk pikuk Bali yang sepanjang tahun disibukkan melayani wisatawan. Padahal, seperti di Carangsari itulah cita-cita ideal tentang Indonesia yang bhinneka tunggal ika.</p>
<p>Warga hidup rukun jika masing-masing tidak lagi mengibarkan bendera Jawa, Madura, Bali, Sumatera, Sulawesi, Islam, Hindu, Budha, Kristen, Katolik dan lainnya di atas merah putih dan persaudaraan sesama manusia. Semua melebur dalam satu belanga toleransi.</p>
<p>Bisakah keindahan sosial seperti itu dianggap layak menjadi komiditi baru dalam industri pariwisata, sebagaimana umumnya keunikan lain yang dimiliki Bali?</p>
<p>Kenyataan yang merupakan wujud dari tujuan agama-agama di dunia itu,&#8211;yakni untuk memakmurkan alam dan saling mengenal dalam perbedaan&#8211;, bisa diperluas tidak saja di Carangsari, Gerenceng, Makam Siti Khotijah dan Puri Langgar.</p>
<p>Tampilan sejuk dari relasi pemeluk agama itu diharapkan tidak dibiarkan mengalir begitu saja, lalu suatu saat musnah.</p>
<p>Untuk mewujudkan relasi Carangsari, Gerenceng, Makam Siti Khotijah dan Pura Langgar memang diperlukan kesadaran bahwa pluralisnya agama di muka bumi ini adalah kehendak Tuhan juga.</p>
<p>Pluralisme agama itu bisa disimak dalam pendapat seorang mahaguru sufi Muslim, Ibn Al Arabi. Ia mengatakan, Tuhan sendirilah yang menjadi sumber perbedaan yang ada di seluruh alam ini.</p>
<p>&#8220;Jalan menuju Tuhan adalah sebanyak jiwa manusia itu sendiri,&#8221; kata Ibn Al Arabi sebagaimana dikutip Syafa`atun Almirzanah PhD dalam bukunya &#8220;When Mystic Masters Meet: Paradigma Baru dalam Relasi Umat Kristiani-Muslim&#8221;.</p>
<p>Pengasuh Pesantren Darut Tauhid Arjawinangun, Cirebon, KH Husein Muhammad juga menyebutkan, Tuhanlah yang menghendaki makhluk bukan hanya berbeda dalam realitas fisik, melainkan juga dalam ide, gagasan, berkeyakinan dan beragama.</p>
<p>Hal itu, katanya, dipertegas dalam Alquran Surat Hud ayat 118 yang artinya, &#8220;Andaikata Allah menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu. Dan (tetapi) mereka senantiasa berbeda&#8221;. (antaranews.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gp-ansor.org/laporan-khusus/15569-28122009.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
