Bangkok (GP-Ansor): Setelah istirahat lebih dari dua pekan, mantan Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra dan mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Syaifullah Yusuf melanjutkan syuting film Admiral Zheng He alias Laksamana Cheng Ho. Film itu juga baru di-launching dan disambut hangat oleh publik Thailand.
Hanya mengenakan celana pendek dan T-shirt putih plus sepatu olahraga, Yusril Ihza Mahendra terlihat serius membolak-balik kertas berisi naskah film Laksamana Cheng Ho. Suhu di Thailand yang mencapai 37 derajat celsius membuat dia kegerahan. Sambil menunggu kru film mempersiapkan peralatan, pria kelahiran Belitung tersebut memilih menghafal naskah film yang ditulis Darto Jonet itu.
Kemarin, Rabu (15/8) merupakan hari pertama bagi Yusrril untuk pengambilan gambar setelah dua pekan menjalani “reses” dengan kembali ke tanah air. Sebelumnya, lebih dari sebulan dia menjalani jadwal syuting yang padat di Negeri Gajah Putih tersebut.
Begitu rombongan wartawan dari Indonesia datang ke lokasi syuting bersama mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Saifullah Yusuf, Yusril buru-buru masuk ke ruang ganti. Dia berganti celana pendek dengan celana kostum Laksamana Cheng Ho. “Tidak enak jika nanti difoto (pakai celana pendek) dilihat orang banyak,” katanya lalu tersenyum.
Syuting itu berlokasi di studio alam Kantana Movie Town di Salaya Nakornphatom yang berjarak sekitar 50 km dari Bangkok. Karena macet, dari Bangkok, butuh waktu lebih dari dua jam untuk mencapai lokasi tersebut.
Sementara Saifullah Yusuf yang kemarin ditemani istrinya, Ummu Fatma juga didampingi KH Yahya C. Staquf (mantan juru bicara Gus Dur) dan penyanyi Franky Sahilatua.
Saiful memang belum dijadwalkan syuting. Kemarin, dia datang ke Thailand untuk berlatih. Meski hanya berlatih, Saiful yang memerankan Wikramawardana, raja Majapahit, tersebut juga harus mengenakan kostum. Kemarin, dia berlatih dialog dengan Yusril.
Dalam adegan, Laksamana Cheng Ho menghadap Wikramawardana untuk berdialog. Sebelumnya, sempat terjadi salah paham antara Wikramawardana dengan Cheng Ho. Raja Majapahit itu mengira Cheng Ho berpihak kepada Wirabumi yang juga mengaku sebagai raja Majapahit di Blambangan. Beberapa pasukan kehormatan Cheng Ho sempat dibunuh pasukan Majapahit. Pertemuan keduanya justru menghasilkan perdamaian.
“Saya masih kikuk. Tapi, dalam main film, kan kalau salah bisa diulang. Beda dari politik, kalau salah, fatal akibatnya,” ujar Saiful lalu tertawa.
Bagi para pemain film dari Indonesia, lokasi syuting milik Kantana itu sangat mengagumkan. Dengan luas sekitar 1.000 hektare, studio mini itu dilengkapi beragam fasilitas. Misalnya, kebun binatang dengan koleksi binatang yang serbalengkap. Di antaranya, buaya, kuda, harimau, dan ular.
Selain itu, studio tersebut memiliki hutan, danau, serta bangunan beragam untuk keperluan syuting. Miniatur Kerajaan Thailand juga ada di studio alam tersebut. Bahkan, Kantana membangun hanggar untuk mengandangkan zeppelin (pesawat balon udara) miliknya.
“Sebenarnya, Jakarta juga punya studio alam di Depok milik TVRI. Luasnya 10 hektare. Sayang, kondisinya tidak terawat,” kata Mas Herman, aktor Indonesia yang memerankan Jenderal Chu Cheng, tangan kanan Cheng Ho.
Yusril kemarin harus melakukan pengambilan gambar untuk episode ke-23. Dalam adegan itu, Cheng Ho harus bertemu mantan pacarnya, Sian Hwa, yang sudah diperistri Jenderal Yuan Lang, salah seorang petinggi perang di Kekaisaran Tiongkok.
Ceritanya, Sian Hwa menemui Cheng Ho untuk mengabarkan bahwa suaminya sakit keras. Wanita itu meminta agar Cheng Ho menemui Jenderal Yuan Lang untuk menerima wasiat.
Sebelum syuting, Yusril berlatih dialog dengan Nadtaya Janrung, lawan mainnya. Tentu dibantu penerjemah. Sebab, dalam dialog, Yusril memakai bahasa Indonesia dan Phoo -panggilan akrab Nadtaya Janrung- menggunakan bahasa Thailand.
Karena tokoh Sian Hwa mengalami kesulitan mengucapkan assalamu’alaikum, politikus dari Partai Bulan Bintang (PBB) itu harus mengajari lebih dulu. “Orang Thailand memang sulit melafalkan kata-kata Arab,” ungkap Yusril.
Setiap syuting, dia selalu didampingi dua gadis cantik, yakni Jiraporn Veeraumpaipong dan Kannika Veeraumpaipong. Keduanya bertugas sebagai asisten. Tugasnya membawakan barang-barang, memayungi, hingga mengelap keringat Yusril di sela-sela syuting. Yusril yang mulai belajar bahasa Thailand pun kerap terlihat bercanda dengan kedua gadis yang berusia sekitar 20 tahun tersebut.
Dari penuturan keduanya, yang tidak bisa lepas dari Yusril adalah kebiasaan merokok. Begitu ada teriakan cut atau break, Yusril langsung menyalakan rokok keretek yang dibawa khusus dari Jakarta.
Sehari bisa habis dua sampai tiga bungkus rokok. Padahal, sutradara Nirattisai Kaljareuk sangat sensitif terhadap asap rokok. Khusus Yusril, dia memberikan dispensasi.
Dalam film 26 episode tersebut, Cheng Ho dikisahkan disukai banyak perempuan. Selain Sian Hwa, ada beberapa perempuan yang jatuh cinta kepada Cheng Ho. Yakni, Melati dan Mawar, putri duta perdagangan Champa. Kedua gadis itu mati-matian ingin merebut hati Cheng Ho. Namun, jangan berharap ada adegan mesra dalam film tersebut. Sebab, Cheng Ho yang juga seorang kasim itu tidak menanggapi cinta mereka.
Tidak seperti biasanya, Yusril kemarin tidak ditemani istrinya, Rika Tolentino Kato. Perempuan keturunan Filipina-Jepang tersebut baru datang tadi malam. “Istri saya pulang dulu, malam ini (tadi malam, Red) datang,” kata Yusril.
Film yang memakan biaya USD 3 juta itu akan ditayangkan mulai Januari 2008. Selasa Malam (14/8), film tersebut di-launching di Gedung Kantana Group Company di Ratchadanivej Soi, Huay Kwang, Bangkok. Peluncuran film tersebut dihadiri Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan, Dubes Indonesia di Thailand Ibrahim Yusuf, wartawan dari enam negara (Thailand, Indonesia, Vietnam, Laos, Kamboja, dan Malaysia), mahasiswa Indonesia, serta para artis Thailand.
CEO Kantana Jareuk Kaljareuk mengungkapkan sangat optimistis film TV Laksamana Cheng Ho akan booming, terutama di Indonesia. “Yusril dan Saifullah Yusuf tokoh populer di Indonesia. Saya yakin film itu disambut baik,” kata Tam, sapaan Jareuk Kaljareuk.
Nirattisai Kaljareuk yang menjadi sutradara film tersebut menyatakan bahwa akting Yusril sangat bagus. “Saya lihat ada bakat yang kuat pada Yusril,” tegasnya.
Dia mengaku tidak kesulitan mengarahkan adegan tertentu kepada Yusril. Bahkan, untuk adegan pertempuran memakai pedang, Yusril tidak mau memakai stuntman. “Karakternya pun pas. Saya kira dia bisa bermaian dengan karakter apa pun,” ungkap Nirattisai.
Asisten sutradara Lukman Thambose juga kagum atas kemampuan akting Yusril. “Saya biasa menangani artis. Pak Yusril ternyata sangat memahami seni peran,” katanya.
Syuting film Laksamana Cheng Ho akan dilanjutkan ke Tiongkok mulai September. Di sana, syuting akan melibatkan 400 militer RRT. Setelah itu, Oktober, syuting dilakukan di Jakarta. Sebelumnya, syuting akan mampir di Vietnam.
Film tersebut akan di-dubbing ke enam bahasa. Yakni, Indonesia, Thailand, Vietnam, Tiongkok, Kamboja, dan Laos. Selain itu, dilm tersebut akan diberi subtitle dalam bahasa Inggris. (jp/wg)