Gus Dur, PKB dan Jimat NU

Sabtu, 17 Mei 2008 19:53 Opini | 1 komentar

foto-rouf.JPGOleh : Ahmad Rouf Qusyairi (Pengembangan Intelektual Muda PP GP Ansor 2005-2010 dan Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Indonesia)

Jimat berarti pusaka atau senjata untuk memenangkan suatu peperangan atau persaingan. Jimat berarti pula sarana atau alat untuk menjaga keselamatan dan harga diri serta martabat seseorang. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, “Jimat” diartikan sebagai benda yang mengandung kesaktian untuk menolak penyakit, menjadikan kebal senjata, dan sebagainya.

Pada masyarakat Jawa, istilah jimat biasa diplesetkan barang siji tur dirumat (sesuatu hanya satu dan dirawat red). Dijaga dan dirawat karena sesuatu tersebut penting dan berharga bagi eksistensi dan kajayaan pemiliknya.

Dalam cerita Pewayangan, ada istilah Jimat Kalimosodo yang diperkenalkan Sunan Kalijaga. Kisah tersebut menggambarkan, begitu pentingnya Jimat Kalimosodo bagi masyarakat Jawa untuk dijadikan pegangan hidup guna meraih kebahagiaan di dunia dan kehidupan setelah dunia. Oleh karenanya, sepatutnya setiap insan ngugemi (memegang teguh red) Kalimosodo yang sejatinya adalah Kalimat Syahadat. Tidak hanya masyarakat Jawa, Jimat juga dikenal dalam tradisi masyarakat yang lain. Masyarakat Sulawesi mengenal Badik, Madura ada Carok, Kalimantan ada Mandau, Sunda ada Kujang dan lain sebagainya. Bendera Merah Putih merupakan Pusaka bagi bangsa Indonesia, dimana mengibarkan dan mempertahankannya dari kaum penjajah dibutuhkan perjuangan darah dan air mata.
Gus Dur dan Jimat NU

Almarhum KH. M. Cholil Bisri dan KH. Muchit Muzadi menjuluki Gus Dur sebagai azimat atau jimat-nya Nahdlatul Ulama (NU). Sebutan ini tidak berlebihan bagi cucu pendiri NU tersebut (Umaruddin Masdar, 2005). Karena perjuangan Gus Dur yang tidak mengenal lelah, akhirnya NU diperhitungkan dan dipandang tidak lagi sebelah mata. Lewat pikiran-pikirannya yang dituangkan di berbagai media/jurnal nasional maupun internasional, Gus Dur berhasil membangun wacana tandingan (counter discourses) tentang NU yang sebelumnya dianggap miring. Saat memimpin NU selama tiga periode, Gus Dur telah membuktikan bahwa NU punya peran strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Akhirnya, banyak pengamat, peneliti, pakar, intelektual, dan pengambil kebijakan yang melihat NU berbeda dari sebelumnya. Kajian dan penelitian tentang NU bermunculan, kiai dan pesantren mulai disegani. NU tidak lagi dipandang sebagai komunitas kolot dan konservatif, tetapi dipandang sebagai komunitas progresif dan modern, terutama anak mudanya.

Terpilihnya Gus Dur jadi Presiden RI ke-4 merupakan puncak dari semuanya. Sebagai Jimat NU, Gus Dur juga akan dibela dan dilindungi oleh warga NU dengan segenap jiwa dan raga. Saat Gus Dur dilengserkan dari kursi Presiden, pembelaan dan perlawanan dari Nahdliyyin begitu massif, militan dan fanatik. Kiai Pesantrenpun menyerukan agar membentengi dan membela Gus Dur. Seruan tersebut terkenal dengan “Seruan Ramadlan” yang berisi dua hal. Menggulingkan pemerintahan yang syah termasuk perbuatan makar (bughat) dan wajib diperangi. Dan kiai juga mengingatkan, bahwa dalam sejarah Indonesia selalu ada upaya sistematis meminggirkan NU dari sumber-sumber kekuasaan, baik dibidang politik, ekonomi (modal), media maupun militer.

PKB dan Jimat NU

Kalau di NU, Gus Dur sebagai Jimat, bagaimana dengan di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Mengingat Gus Dur merupakan deklarator dan sekaligus Ketua Umum Dewan Syuro pemegang kekuasaan tertinggi partai. Gus Dur adalah magent bagi PKB, lebih dalam lagi ideologi PKB sejatinya tercermin dalam mpikiran, pandangan, dan tindakannya Gus Dur.

Gus Dur merupakan tokoh sentral di PKB dan konstituen PKB mayoritas adalah warga NU (Survei LSI 2005, 95 % pemilih PKB warga NU). Pendeknya, Gus Dur, NU dan PKB sulit untuk dipisahkan satu sama lain. Pertanyaanya, apakah posisi Gus Dur di PKB sama dengan posisinya di NU, yakni sebagai Jimat.

Ungkapan Gus Solah bisa dijadikan bahan pertimbangan. Menurutnya, PKB lebih tepat sebagai eksperimen politik Gus Dur dan bukan eksperimen politik NU, meski kelahirannya dibidani oleh PB NU (Salahuddin Wahid, 2000). Gus Dur membutuhkan wadah untuk mewujudkan visi dan gagasannya pada ranah politik dan kebijakan. Di alam demokrasi, hal itu bisa dilakukan lewat partai politik. Sebagaimana Bung Karno mendirikan PNI dan SBY dengan Partai Demokrat.

Jadi, Gus Dur bukan Jimat nya PKB sebagaimana terjadi di NU. Namun sebaliknya, PKB justru jadi Jimat nya Gus Dur, karena ia salah satu deklarator dan penggagas PKB. Sehingga, terserah Gus Dur menggunakannya dengan gaya dan model seperti apa. Yang terpenting, fungsi utama dari Jimat adalah membantu Gus Dur (sebagai pemilik Jimat) dalam memperjuangankan visinya.

Masalahnya, banyak orang tidak melihat hal ini, termasuk para politisi PKB sendiri. Sehingga, mereka salah menempatkan posisi Gus Dur dalam PKB. Kebanyakan mereka masih menempatkan Gus Dur sebagai Jimat nya PKB sebagaimana Gus Dur waktu jadi Jimat nya NU. Namanya saja Jimat, kalau dirawat dan diposisikan sebagai Piandel, harapannya akan mendapat berkah dari sang Jimat tersebut. Kenyataanya tidak seperti itu, maka terjadilah perlwanan sebagaimana sering terjadi di PKB.

Kedua; karena PKB sebagai Jimat, maka Jimat tersebut saat ini sedang jadi rebutan antara Gus Dur, kiai NU, dan elit NU. Ia dijadikan bahan tarik-tarikan oleh beberapa aktor politik di Nahdliyyin tersebut. Dalam tradisi NU, masalah Jimat ini saya kira masih berlaku. Kalau mau punya hajat atau tujuan tertentu, kurang mantep kalau tidak punya Jimat.

Tidak heran, akhir-akhir ini hubungan kiai, elit NU dan Gus Dur kurang harmonis gara-gara PKB. Jangan-jangan karena mereka saling berebut PKB untuk dijadikan Jimat. Hubungan yang kurang harmonis terjadi setelah Gus Dur tidak lagi jadi Presiden, artinya tidak lagi menjadi Jimat. Dan jimat itu pindah atau sedang dalam proses pindah ke PKB.

Kita masih ingat, KH. Hasyim Muzadi kurang harmonis dengan Gus Dur salah satunya karena tidak dipinjami Jimat PKB untuk mencalonkan Wapres kemarin. Karena Gus Dur mau dipakai sendiri untuk mencalonkan Presiden. Kiai Langitan munfaraqoh dari PKB, karena tidak diberi kesempatan untuk nyuwuk PKB oleh Gus Dur. Akhirnya, kiai-kiai ini bikin Jimat sendiri yaitu PKNU.
Ketiga; Gus Dur sedang mempersiapkan PKB untuk benar-benar menjadi Jimat nya NU dimasa datang. Saat ini masih dalam proses pematangan dan penggemblengan. Ibarat orang membuat pusaka atau keris, saat ini mungkin masih tahap pembakaran untuk dibentuk. Baru setelah itu dithirakati dan
dipuasai.

Itulah kira-kira, mengapa dinamika di PKB sampai sekarang masih diwarnai konflik internal yang tak kunjung selesai. Rupanya karena sedang proses membuat Jimat. ***

Saat ini terdapat 1 komentar. Berikan komentar
apek apek tenan infone
8 Januari 10 at 10:20