Home Pengetahuan Bantahan untuk Felix Siauw yang Klaim Bendera HTI adalah Bendera Rasulullah

Bantahan untuk Felix Siauw yang Klaim Bendera HTI adalah Bendera Rasulullah

32
0
SHARE

Suara NU – Perdebatan seru terjadi dalam acara talkshow Indonesia Lawyers Club soal “212: Perlukah Reuni?” yang disiarkan malam ini di tvOne. Adu argumen yang seru terjadi antara pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda al-Boliwudi dengan penceramah Ustad Felix Siauw. 

Pokok perdebatan mereka adalah soal bendera bertuliskan berlafal la ilaha illallah muhammadur rasulullah, yang berkibar dalam Reuni Akbar 212 di Monas, Sabtu 2 Desember 2017. 

Abu Janda menilai Reuni 212 akhir pekan lalu ternoda dengan beredarnya bendera hitam putih tersebut. Sebab menurutnya, bendera itu tegas adalah bendera ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang telah dibubarkan pemerintah melalui Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 2017. 

“Itu jelas sudah dibubarkan. Kenapa benderanya ada. Aparat ke mana,” jelas Abu Janda dikutip dari tvOne, Selasa malam 5 Desember 2017. 

Abu Janda juga menunjukkan foto bendera yang diklaim sebagai bendera HTI itu dipasang di atas bendera Merah Putih. 

Menurutnya, foto itu menegaskan perlawanan terhadap hukum, sebab HTI sudah dibubarkan pemerintah dan merupakan ormas terlarang. Melihat foto bendera HTI di atas bendera Merah Putih, menurutnya, ini sudah jelas menginjak simbol negara. Abu Janda heran kenapa dengan hal seperti itu, aparat tidak segera bertindak. 

“Aparat kemana?” tanyanya.

Kemudian Abu Janda menepis klaim bendera yang dikibarkan itu adalah bendera Panji Rasulullah. Sebab menurut data yang dia peroleh, bendera Panji Rasulullah tidak berkombinasi hitam dan putih. 

Abu Janda kemudian menunjukkan kertas yang menurutnya adalah bendera Panji Rasulullah. Pada kertas tersebut, bendera Panji Rasulullah berwarna merah dan kuning dengan formasi yang berbeda dengan bendera yang dikibarkan peserta Reuni 212.

Abu Janda menjelaskan, bendera Panji Rasulullah yang asli saat ini tersimpan di Museum Toptaki di Istanbul Turki. Abu Janda kemudian menyinggung Felix yang gemar berkunjung ke Turki untuk mengecek bendera Panji Rasulullah tersebut.  

Tanggapan Felix Siauw
Setelah Abu Janda berbicara, Ustad Felix menanggapi beberapa pernyataan yang disampaikan Abu Janda.

Felix menyoroti apa yang dijelaskan dan ditunjukkan Abu Janda soal bendera. Menurut Felix, keterangan Abu Janda berbahaya.    

“Itu pembohongan publik, inilah hate speech yang sebenarnya. Bendera HTI adalah bendera Rasulullah,” jelas Felix. 

Felix kemudian mengutip beberapa hadis yang menunjukkan, bahwa bendera Rasulullah adalah putih dan hitam dan tertulis di dalamnya kalimat la ilaha illallah muhammadur rasulullah.

Felix kemudian membalas sindiran Abu Janda soal kunjungan ke Turki. Felix yang telah menjadi mualaf sejak 2002 mengaku sudah sering berkunjung ke Museum Toptaki, Turki. Selama bolak balik ke museum tersebut, Felix yakin bahwa yang ditunjukkan Abu Janda tersebut bukanlah bendera Panji Rasulullah, melainkan bendera Utsmani. 

Untuk itu, Felix menyindir agar Abu Janda menyajikan pernyataan dengan berbasis data. 

“Semua muslim berhak memakai itu (bendera Panji Rasulullah)” jelasnya.

Bantahan Untuk Abu Janda dan Felix Siauw
Nah, benarkah bendera HTI yang disebut Al-Liwa’ dan Ar-Rayah itu bendera Rasulullah? 

Rayah adalah bendera berukuran lebih kecil, yang diserahkan khalifah atau wakilnya kepada pemimpin perang, serta komandan-komandan pasukan Islam lainnya.

Rayah merupakan tanda yang menunjukkan bahwa orang yang membawanya adalah pemimpin perang. Liwa, (bendera negara) berwarna putih, sedangkan rayah (panji-panji perang) berwarna hitam. Mereka meyakini pemahaman itu melalui hadits riwayat Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah.

“Kalau klaim mereka itu benar, kenapa bendera ISIS dan HTI berbeda design dan khat tulisan arabnya?” demikian catatan Gus Nadir sebagaimana yang sampai kepada duta.coSabtu (1/4/2017).Dr H Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), PhD,  alias Gus Nadir punya catatan menarik. Menurutnya, umat Islam jangan mau dibohongi oleh ISIS dan HTI soal bendera ini. Keduanya, ISIS dan HTI sama-sama mengklaim bendera dan panji yang mereka miliki adalah sesuai dengan Liwa dan Rayah-nya Rasulullah.

Menurut dosen tetap di Fakultas hukum Universitas di Australia ini, secara umum hadits-hadits yang menjelaskan warna bendera Rasul dan isi tulisannya, itu tidak berkualitas alias tidak sahih. Riwayatnya pun berbeda-beda. Ada yang bilang hitam saja, ada yang bilang putih saja. Ada juga riwayat yang bilang hitam dan putih, bahkan ada yang kuning.

“Dalam sejarah Islam juga beda lagi. Ada yang bilang Dinasti Umayyah pakai bendera hijau, Dinasti Abbasiyah pakai warna hitam, dan pernah juga putih. Yang jelas dalam konteks bendera dan panji, Rasul menggunakan sewaktu perang hanya untuk membedakan pasukan Rasul dengan musuh. Bukan dipakai sebagai bendera negara,” jelasnya.

Jadi? Kalau ISIS dan HTI yang setiap saat mengibarkan Liwa dan Rayah, apakah mereka mau perang terus? Kok ke mana-mana mengibarkan bendera perang? “Kalau dianggap sebagai bendera negara khilafah, kita ini NKRI, sudah punya bendera Merah Putih. Masakada negara dalam negara? Kalau itu terjadi, berarti makar!” tegasnya.

Lalu bagaimana status hadits soal bendera ini? Menurut Gus Nadir, hadits riwayat Thabrani dan Abu Syeikh yang bilang bendera Rasul hitam dan panjinya putih, itu dhaif. Riwayat Thabrani ini dhaif karena ada rawi yang dianggap pembohong yaitu Ahmad bin Risydin. Bahkan kata Imam Dzahabi, dia pemalsu hadits.

Lalu, riwayat Abu Syeikh dr Abu Hurairah itu juga dhaif, karena kata Imam Bukhari, rawi yang namanya Muhammad bin Abi Humaid, itu munkar. Kemudian riwayat Abu Syeikh dari Ibn Abbas haditsnya masuk kategori hasan, bukan sahih. Riwayat lain bendera Rasul yang warnanya hitam atau putih atau kuning atau merah, itu tidak ada tulisan apa-apa.

“Katakanlah ada tulisannya, maka tulisan khat jaman Rasul dulu beda dengan yang ada di bendera ISIS dan HTI. Jaman Rasul tulisan Alquran belum ada titik dan khatnya, masih pra Islam yaitu khat kufi. Makanya, meski mirip, bendera ISIS dan HTI itu beda khatnya. Kok bisa? Padahal sama-sama mengklaim bendera Islam? Itu karena rekaan mereka saja,” tandas Gus Nadir.

Jadi, Tidak ada contoh otentik dan sahih tentang bendera Rasul itu seperti apa. Itu rekaan orang-orang ISIS dan HTI berdasarkan hadits-hadits yang tidak sahih. “Intinya, jangan mau dibohongi sama bendera Islam-nya HTI dan ISIS. Perkara ini bukan masuk kategori syari’ah yang harus ditaati. Selesai,” pungkasnya.[mm]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here