Home Pengetahuan Bisakah al-Habib Rizieq Minta Maaf Kepada Gus Dur, lalu FPI dan NU...

Bisakah al-Habib Rizieq Minta Maaf Kepada Gus Dur, lalu FPI dan NU "berdamai"?

89
0
SHARE

Oleh : Lora H. Fawaid Abdullah

(Pimpinan Pesantren Roudlotut Tholibin Kombangan Bangkalan & Mantan Ketua Umum Pengurus Wilayah Jawa Timur IKAPETE “Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng”)

Bismillah….

Suara NU – Untuk memulai menulis catatan kecil ini, saya ingin menyampaikan pertanyaan untuk kita renungkan. Pertanyaan ini sangat urgent dan mendasar sekali, bisakah FPI & NU “berdamai”?. Sengaja saya beri tanda petik dalam kalimat berdamai, karena ini menjadi bahasan saya dalam catatan penting selanjutnya dalam judul yang saya angkat kali ini.

Tidak ada maksud sedikitpun, saya  mensejajarkan keduanya. Sebagaimana diketahui bersama, NU berdiri jauh sebelum kemerdekaan indonesia, tahun 1926 atas prakarsa para Ulama terkemuka seperti Hadlratussyaikh Mbah Yai Hasyim Asy’ari, Mbah Yai Wahab Hasbullah, Mbah Yai Bisri Syansuri serta para Ulama terkemuka lainnya atas restu Seorang Waliyullah yang sangat dihormati & disegani para Ulama kala itu, Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Latif Bangkalan. Berdirinya NU kalau kita baca dalam berbagai tulisan dan sejarah yang banyak ditulis, jelas sekali untuk “menghadang” gerakan faham Wahabi yang mulai gencar tumbuh dan berkembang kala itu. Dibentuknya komite Hijaz sebagai salah satu indikator nya, jelas sekali sebagai sikap para Ulama menyikapi kegelisahan yang ada. 

NU berdiri tidak hanya pada aspek ijtima’iyah saja, juga tidak hanya pada sisi jama’ah saja. Tapi jauh lebih penting dari itu, yakni sisi dakwah dan keagamaan, masalah-masalah diniyyah ijtima’iyah menjadi porsi utama dalam tujuan berdiri nya NU. Karena NU itu organisasi Ulama, maka seharusnya yang mengurusi NU itu harusnya berlatar belakang Ulama, minimal berlatar belakang Pesantren. Karena, bagaimana bisa “ngopeni” NU secara lahir dan bathin kalau pengurus nya misalnya, tidak memahami Ulama, tidak memahami Pesantren?. Karena, NU lahir dari Pesantren, NU itu bukan Perusahaan yang  bisa dimenej serba intruktif dan top down, apalagi mengesampingkan nilai-nilai Akhlaqul Karimah terhadap para Ulama sepuh misalnya. Karena ruh NU itu berada di Ulama dan Pesantren, maka wajib hukumnya NU mempertahankan dan menjaga ruh ini. NU harus IstiQaamah menjaga uswah ini, sebagaimana ketika awal berdirinya NU, Hadlratussyaikh sebagai Rois Akbar NU memegang peranan sangat penting dan dominan. Posisi Syuriah lebih mendominasi dan menjadi rujukan mutlak di lingkungan NU. Sedang posisi Tanfidziyah yang kala itu dipercayakan kepada Hasan Gipo yang bertalar pengusaha, lebih pada  pelaksana mandat para Ulama yang ada dijajaran Syuriah.

Lain NU, lain pula FPI. Setau saya, organisasi ini berdiri sekitar tahun 1996-an. Berawal dari cikal bakal Pamswakarsa yang kala itu dibentuk oleh Jenderal Wiranto. Saya yang kala itu masih menjadi mahasiswa, terdengar jelas sekali sayup-sayup di ibukota dan beberapa kota besar di tanah air, munculnya OTB. Organisasi Tanpa Bentuk, begitu belakangan sering disebut oleh berbagai kalangan kala itu. Istilah Pamswakarsa atau Pengamanan Swakarsa atau swadaya masyarakat ini sengaja diciptakan dan bentuk oleh pemerintah kala itu. Jadi menurut saya, FPI memang dari awal sengaja dibentuk atas dasar politis, politis yang saya maksud adalah karena munculnya dari benih organ Pamswakarsa yang memang sengaja dibentuk pemerintah, wajar kalau FPI berpatronase dengan pemerintah dalam menjalankan program-program nya.

Dimana ada pelacuran terang-terangan maupun terselubung di situ ada FPI yang getol menolaknya. Dimana ada diskotek, minum-minuman keras, kemaksiatan dll disitu ada FPI yang getol menolaknya secara “kasar” dan tanpa ampun. Seharusnya negara dan pemerintah berfungsi ofensif dengan penegakan hukumnya, kadang kita banyak saksikan justru tumpul dan ada pembiaran-pembiaran sehingga ada kesan justru FPI yang dijadikan “ban serep” menghadapi semua itu. 

Sampai-sampai sering muncul stigma agak kurang sedap terhadap FPI, bahkan plesetan negatif seperti Front Pentungan Indonesia dll, karena setiap beraksi dan menolak “kemungkaran” tersebut, sedikit-sedikit selalu memakai pentungan. Diawal-awal berdiri tahun 1996-an tentu kita ingat, bagaimana Pamswakarsa juga beraksi setiap ada kerusuhan yang terjadi di Ibukota. Juga banyak memakai pentungan sebagaimana belakangan FPI juga memakai hal yang sama.

Catatan kecil saya ini tidak ada maksud memojokkan FPI sebagai sebuah organisasi massa yang saat ini tumbuh dan berkembang dibawah komando Al Mukarrom Habib Rizieq. Tetapi saya hanya ingin sedikit mengurai kenapa FPI & NU itu “sulit” sekali berdamai, bisakah kedua organisasi ini bisa berdamai?, dilihat dari jumlah pengikut, jelas keduanya tidak bisa disamakan atau di sejajarkan. NU menurut data diatas kertas ummat atau pengikut nya diatas 60 juta, bahkan konon secara kultural dan ajaran ada yang mengatakan separo lebih jumlah penduduk indonesia saat ini adalah ummat atau pengikut NU. Sedang pengikut FPI sendiri, belum ada data atau sumber yang jelas berapa jumlah pengikut nya ?

Begitu kuatnya aroma ketidaksepahaman antara FPI dan NU, pernah suatu ketika sampai-sampai Sang Komando FPI Al Mukarrom Habib Rizieq pernah mengatakan didalam suatu forum majlis bahwa Gus Dur itu buta mata dan buta hati, saya sendiri masih ikut ceplas ceplos yang dikatakan Al Habib itu. Ini juga yang oleh sebagian besar ummat NU “mungkin” masih diingat dan melekat kuat sampai saat ini. Entah karena disengaja atau keceplosan atau kesleo sebagaimana Ahok keselio “menistakan” Al Qur’an. Sang Habib sejak tahun 1999 sampai Gus Dur mendirikan partai kebangkitan bangsa atau PKB, di berbagai forum dan kesempatan HR selalu menyerang GD dengan kata-kata dan kalimat pedas lainnya. Sekali lagi, saya tidak mengerti apa motif yang sebenarnya kedua tokoh yang beda peran dan zaman ini berseberangan baik secara tertutup maupun terbuka.

Walau Gus Dur menanggapi dengan rileks dan santai dengan slogan beliau yang terkenal itu : begitu saja kok repot!. Tetapi ummat NU tetap saja sangat keberatan dan tidak terima dengan tudingan dan olok-olok sang Habib itu. Karena Gus Dur itu sebagai representasi NU, menghina Gus Dur sama saja dengan menghina NU. Kita tau Gus Dur adalah putra dari tokoh dan pahlawan nasional, KH. Abdul Wahid Hasyim dan cucu dari Pendiri NU sekaligus tokoh dan pahlawan nasional juga, beliau Hadlratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Al Mukarrom Habib Rizieq sebagai komando FPI yang konon juga di tahbis menjadi Imam Besar FPI. Alangkah elok, etis dan santun nya, andai saja Sang Habib menyampaikan permohonan maaf nya kepada NU, lebih khusus kepada keluarga Allah Yarham Al Maghfurlah Gus Dur dan umumnya kepada ummat NU atas tudingan atau ucapannya yang saya tulis diatas tadi. Sehingga “luka” hati dan perasaan ummat NU secara umum bisa terobati, sebagai seorang Habib saya yakin beliau mau demi kemaslahatan dan persaudaraan serta persatuan ummat secara umum.

Belakangan, apalagi saya mengamati dan melihat ada beberapa “bahkan bisa jadi” sudah lumayan banyak, ummat NU yang ikut bergabung dengan FPI. Bahkan teman-teman se Almamater saya dari sesama santri dan Alumni Tebuireng juga mulai ikut  bergabung dengan FPI. Tentu tidak elok rasanya, kalau kalau Dzurriyyah Hadlratussyaikh, dimana santri dan alumni Tebuireng pernah mengenyam nyantri atau jadi SANTRI Tebuireng tetapi Dzurriyyah Hadlratussyaikh di “hujat” dan diolok-olok sang Habib yang nota bene ditahbis menjadi imam besar di internal FPI. Sebagai santri-santri Tebuireng yang ikut bergabung dengan FPI ataupun santri-santri lainnya yang ada garis ilmu dengan Hadlratussyaikh seharusnya memberikan saran positif kepada Sang Habib sebagai imam besar nya. Selama masih ada beban sejarah dan psikologis itu, selama itu pula kedua organ ini sepertinya sulit bisa melupakan “luka lama itu”.

Belum lagi persoalan Manhajiyah, keduanya sepertinya bagai kutub utara dan kutub selatan. Walau FPI selalu mengatakan saat ini telah banyak mengalami perubahan dan sama2  mengaku berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah. Tapi, urusan Manhajiyah ini sejatinya adalah hal yang sangat mendasar dan prinsip. Seharusnya ini menjadi agenda penting kalau keduanya ingin ishlah “berdamai”. Selama hal-hal mendasar ini belum tuntas menjadi kesepakatan bersama dan dibahas dalam tingkat dialog dan tabayyun, selama itu pula kedua nya sulit dicapai dalam membangun harmonisasi, baik dalam dakwah maupun gerakan ke-ummat-an.

Melalui catatan kecil tulisan saya ini, saya berharap banyak kedepan FPI bisa lebih santun, meninggalkan stigma penthungan sebagaimana saya tulis diatas. Mulai menggeser dari gerakan “jalanan” menjadi lebih ilmiah, santun dan beradab. Slogan An Nahyu ‘an Al Munkar yang sering jadi pedoman dilapangan oleh para laskar-laskar nya itu harus mulai digeser menjadi An Nahyu ‘an Al Munkar Laa bil Munkar wa Laakin An Nahyu ‘an Al Munkar bil Ma’ruuf— mencegah kemungkaran bukan dengan cara-cara munkar (cara2 agitatif, provokatif, kekerasan, intimidatif dll) tetapi mencegah kemungkaran dengan cara2 yang baik, santun, dan beradab atau dengan cara2 ma’ruuf lainnya— 

Kalau hal-hal prinsip ini kedepan terus mengalami perubahan secara signifikan. Saya merasa yakin dan husnudzon keduanya “FPI & NU” akan bertemu dan berdamai secara alamiah. Sebagai organ yang jauh lebih muda, seharusnya FPI bisa lebih pro aktif & mengkaji serta mengevaluasi konsep dan mabadi’ organisasi nya, demi kemaslahatan ummat dan keutuhan bangsa ini dari jurang perpecahan yang lebih besar lagi. Sejauh ini, saya melihat dan membaca sementara hanya NU dan Muhammadiyah yang masih tetap konsisten menjaga NKRI ini dari jurang dis-integrasi bangsa ini, elemen-elemen bangsa lainnya termasuk FPI dll seharusnya memberikan bukti kecintaan nya dalam mengawal dan menjaga keutuhan NKRI dari cerai berai dan dis-integrasi..!!!

Wallaahu A’lam

Catatan kecil di sepertiga malam

Bumi Al Rahman Al Waqi’ah

Pesantren Roudlotut Tholibin Kombangan

Bangkalan, 21 Januari 2017

Al Dla’if wal Faqier

Kak Lora

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here