Home Pengetahuan Boikot Amerika Berarti Juga Boikot Tahu dan Tempe

Boikot Amerika Berarti Juga Boikot Tahu dan Tempe

95
0
SHARE

Suara NU – Berikut ini adalah taya jawab tentang boikot Produk Amerika yang dilansir situs Rumahfiqih.com oleh Ustad Ahmad Sarwat:

Pertanyaan : Assalamualaikum.w.wPak Ustad yang kami hormati, kita semua tahu bahwa fatwa ketua forum ulama sedunia, yaitu Dr Qardhawi dan pendapat dari para alim-ulama lainnya bahwa kita wajib membantu perjuangan bangsa Palestine.Salah satu caranya adalah dengan memboikot produk-produk Amerika, karena dari sanalah Israel tetap kokoh berdiriYang saya tanyakan adalah ternyata Tahu dan Tempe yang selama ini menjadi “makanan pokok” orang Indonesia yang terbuat dari kedelai, sebagian besar bahan baku kedelai di-Impor dari Amerika Serikat, apakah kita juga perlu memboikotnya? Bagaimana sikap kita mengenai hal ini?Wassalamu’alaikum.w.wJawaban : Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

Urusan tempe dan tahu akhirnya jadi sebuah ironi tersendiri. Selama ini kita tidak tahu, ternyata tempe dan tahu yang kita kirabenar-benar produk umat Islam, setidaknya produk dalam negeri, justru kedelainya ditanam di Amerika.Ternyata kita baru tahu bahwa bahan baku tempe, tahu bahkan nasi yang kita makan, nyaris semua harus kita beli dari ‘musuh-musuh’ kita sendiri.Kalau bangsa ini dilarang makan American Food, mungkin masih masuk akal. Sebab selain kebanyakan orang tidak doyan makan ayam yang cuma digoreng, harganya pun oleh rakyat desa kebanyakan, masih menjadi problem tersendiri.Tapi kami tidak bisa membayangkan kala bangsa ini dilarang maka tahu dan tempe. Sebab keduanya adalah makanan kebangsaan. Selain tentunya, karena harganya yang amat terjangkau.Menjadi Pribadi Yang Anti AmerikaUmat Islam boleh marah besar kepada Amerika. Dan ulamanya boleh saja berfatwa untuk memboikot produk negara itu. Dalam beberapa hal, kebijakan itu memang efektif.Tapi yang ingin kami katakan adalah yang namanya boikot itu adalah bagian dari sebuah strategi perang modern. Ketika kita boikot, bukan berarti hukumnya mutlak. Namanya saja perang psikologis, jadi kebijakannya tidak kaku.Intinya sederhana, jangan sampai yang memboikot justru yang tertekan. Di mana-mana, yang memboikot itu adanya di atas angin, sedangkan pihak yang diboikot adalah pihak yang ditekan. Tapi kalau kita ‘haramkan’ bangsa ini dari tempe, rasanya perlu bicara panjang lebar sebelumnya.Sekarang coba Anda bayangkan seandainya anda lahir di Amerika. Anggaplah keluarga anda mendapat hidayat dan kebetulan beragama Islam, tetapi Anda tetap tidak bisa melepaskan diri dari segala yang berbau Amerika.Mulai dari rumah sakit tempat anda lahir itu milik Amerika, dokternya dokter Amerika, semua susu dan makanan yang anda makan, diproduksi oleh Amerika.Yang menarik untuk kita jadikan pertanyaan, apakah dengan adanya seruan boikot itu maka seorang muslim tidak boleh menjadi warga negara Amerika? Apakah negara Amerika itu seluruhnya kafir sehingga haram bagi seorang muslim menjadi penduduknya? Dan apakah bila ada warga asli Amerika tiba-tiba masuk Islam, mereka diwajibkan hijrah ke Arab Saudi atau negara Islam lainnya?Tentu semua akan semakin membingungkan, bukan?Bukankah ketika anda sedang membaca tulisan ini, banyak komponen di dalam komputer anda yangjuga diproduksi oleh mereka? Bukankah perusahaan yang memproduksi HP setia anda juga buatan mereka? Bukankah saham perusahaan operatornya juga dimiliki oleh mereka?Kebijakan RezimBiar bagaimaa pun Amerika adalah sebuah negara, yang dipimpin oleh sebuah rezim. Secara nalar, warna kebijakan negara adidaya itu sangat ditentukan oleh rezim yang berkuasa. Ketika ada kebijakan untuk membantu Israel dan membunuh muslimin Palestina, tentu ini menjadi tanggung jawab rezimnya, dan siapa saja dari rakyatnya yang ikut menyetujui kebijakan rezim itu.Tapi kita juga tahu bahwa tidak semua rakyat Amerika setuju dengan kebijakan yang tidak bijak. Banyak di antara mereka yang menentangnya. Bahkan banyak rakyat yang anti lobi yahudi yang terlanjur menjadi jamur yang merongrong negara super power itu.Maka kita pun tidak bisa menggeneralisir masalah, seolah apa pun yang datang dari Amerika berarti harus diboikot dan diperangi. Karena alasan bahwa kebijakan luar negeri Amerika yang zalim.Ketika kemudian akhirnya kita tahu bahwa tempe dan tahu yang kita makan itu toh ditanam di negara itu, maka barulah sekarang ini kita mikir. Oh iya ya, kita tidak bisa asal pukul rata.Tentunya Dr. Yusuf Al-Qaradawi pun kalau tahu bahwa bangsa Indonesia yang 200 juta ini makan tempe dan tahu, dan ternyata kedelainya ditanam di Amerika, tentu beliau juga tidak lantas main haramkan juga. Bisa pada mati kelaparan bangsa ini.Maka setiap kebijakan boikot itu tidak berlaku mutlak, mungki akan ideal untuk diterapkan di suatu negeri, namun belum tentu tepat untuk diterapkan di negeri lain. Setidaknya, perlu ada studi yang panjang dan mendalam.Di beberapa negera Teluk dan sekitarnya, di mana kehidupan bangsa muslim di sana telah menjadi American minded, seruan boikot itu memang cukup berhasil.Akan tetapi kalau bangsa Indonesia disuruh berhenti makan tahu dan tempe, tentu masalahnya tidak sederhana. Sudah daging dan ikan tak kuat beli, tinggal ada tahu dan tempe, masih mau dilarang pula. Nanti kalau kita tahu bahwa beras pun kita masi impor, dan ternyata impornya dari negara yang kita anggap musuh Islam, akhirnya kita kembali makan singkong.Dan percaya atau tidak, bangsa Indonesia ternyata termasuk bangsa yang mengimpor singkong dari luar negeri. Konon kita ini butuh singkong untuk industri alkohol.Kasihan juga bangsa ini.Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,Dishare dari Ahmad Sarwat, Lc via Rumah Fiqih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here