Home Pengetahuan Felix Siauw: Di Indonesia, tidak ada yang Lebih Paham soal Turki Utsmani...

Felix Siauw: Di Indonesia, tidak ada yang Lebih Paham soal Turki Utsmani daripada Saya

37
0
SHARE

Suara NU – “Di Indonesia, tidak ada yang lebih paham soal Turki Utsmani daripada saya. Saya sudah 15 kali ke Turki”. Begitulah kalimat yang kurang lebih diucapkan Felix.

Jika dihitung sejak ia menjadi muallaf th 2002 hingga rentang tahun 2017, maka dapat dipastikan setiap tahun Felix pergi ke Turki. Itu kalau memang bener begitu.

Pertanyaannya sederhana. Apakah dia pergi ke Turki dalam kapasitas sebagai peneliti? Atau sedang menyelesaikan studi? Atau ke sana sekedar ngopi-ngopi dan jalan-jalan sebagai touris?

Hanya Felix yg bisa menjawabnya. Jika seseorang datang ke suatu tempat tidak dalam kapasitas untuk mempelajari sesuatu, maka angka kuantitas bukan ukuran bahwa ia paham apa yang ia kunjungi. Yang ia ketahui hanya sekedar kulit luar saja.

Saya dulu pernah puluhan kali datang ke situs kuno Selo Diri. Tapi saya tetap tidak paham. Tapi bagi seorang arkeolog, hanya dua kali datang, dia sdh mampu merumuskan identifikasi, menyusun hipotesis, lalu membuat kesimpulan.

Sudah berapa kali Anda main ke Sunan Kuning? Pasar Kembang? Borobudur? Tapi karena ke sana cuma jalan-jalan dan “cuci mata”, makan Anda tetap saja tidak paham detail di dalamnya. Tapi bagi Muammar Emka, hanya dua kali datang, ia sdh paham luar dalam, alias njobo njero.. Ya.. namanya saja penelitian partisipatory, ya mesti harus terlibat..

Nah, kembali soal Turki Utsmani. Waktu saya masih di Yogyakarta, rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta saat itu, yakni Prof. Dr. Amin Abdullah, setahu saya adalah lulusan Universitas Ankara Turki.

Dan saya yakin, mahasiswa Indonesia yg saat ini kuliah di Universitas Ankara pasti banyak. Pertanyaannya, apakah para mahasiswa, peneliti, dst, tidak lbh paham tentang Turki Utsmani ketimbang Felix?

Bagi saya, itulah kesombongan. Ketika Felix dengan gagah mampu mematahkan argumen Permadi Arya alias Abu Janda, maka seolah ia telah mampu menundukkan seorang tokoh besar yg anti khilafah. Tanpa sadar, arogansi karakter dasarnya pun menyembul ke permukaan tak terbendung.

Saya yakin, bahwa saat ini Felix pasti meratapi statementnya tsb.

Sadarkah Felix, bahwa abu janda, adalah memang awam soal Islam. Namun, itu tadak menghalangi bagi sosok Permadi Arya utk ikut berpartisipasi membendung gerakan khilafah di bumi Pertiwi. Untuk menolak paham “bergajul”, Anda tidak perlu menjadi pinter lebih dulu. Cukup percaya dan Ittiba’ saja kpd para kiai dan para tokoh bangsa.

Lalu, Permadi Arya menggunakan embel-embel ustadz dengan nama Ustadz Abu Janda, adalah sebuah satire atau kritik implisit kpd mantan bajingan teroris Ustadz Abu Jandal.

Jadi kalau mau diterjemahkan, Abu Janda mau berkata begini. “Hallo saudara-saudaraku.. Jangan kau kira bahwa yang bergelar ustadz itu mesti paham agama. Teroris ustadz Abu Jandal itu juga begok soal agama. Saya juga bisa tuh pakai embel-embel ustadz..!”

Abu Janda datang ke ILC mewakili pribadi atas undangan TVone. Sedang dari pihak Ansor sama sekali tidak mendapat undangan. Bagaimanapun, keberanian Permadi Arya berhadapan dg Egy, duo F (Fachry-Fadly), Khothoth, dan Felix, layak kita apresiasi. Layak kita acungi jempol.

Yang saya heran, bagaima bisa Felix Cs yang berpangkat Jenderal merasa begitu bangga bisa mengalahkan Kopral?

Orang Jawa bilang, “Menang ora onjo, kalah ngisin-ngisini”. Kalau nalar sehat, pasti kita tetap saja “malu” meski kita menang debat dengan seorang anak Ibtidaiyah kelas tiga.

“Tolong bapak minum kopinya dikurangi ya, agar lemak darahnya bisa berkurang”. Yaaa.. Bu dokter..bu dokter..!

Disunting dari Santriupdate

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here