Home Pengetahuan Habib Jindan: Nabi Muhammad Larang Mencaci Orang Lain, meski Kepada Penjahat

Habib Jindan: Nabi Muhammad Larang Mencaci Orang Lain, meski Kepada Penjahat

21
0
SHARE

Suara NU – Kelembutan Nabi Muhammad layak menjadi contoh dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Kunci keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah adalah moderasi.

Karena itulah, kelembutan dan moderasi menjadi tema utama dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad di Istana Bogor tadi malam (30/11).

’’Rasulullah tidak pernah sekali pun berkata kasar ataupun mencaci maki siapa pun yang beliau temui, apa pun alasannya,’’ terang Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan di hadapan sekitar 150 undangan dari unsur pejabat, masyarakat, dan anak yatim.

Kecuali hanya kepada orang-orang tertentu, yang itu pun berdasar wahyu dari Allah SWT.

Bukan hanya untuk diri sendiri, Nabi Muhammad bahkan melarang para sahabatnya mencaci orang lain meski orang tersebut sudah terbukti berbuat kejahatan yang berat.

’’Agama Islam tidak dibela dengan makian, agama Islam tidak dibela dengan cacian,’’ lanjut Habib Jindan.

Karena itu, dalam hidup bermasyarakat, sudah seharusnya seorang mukmin bermanfaat bagi sesamanya. Dia harus menunjukkan keindahan Islam dalam kondisi apa pun yang dia temui.

Citra Islam diangkat dengan sikap yang lembut, bukan dengan cacian. Sebab, itu justru memperburuk citra Islam.

Pesan tersebut diamini Presiden Joko Widodo. Dia menuturkan, misi yang diemban Nabi Muhammad adalah kesalehan sosial.

’’Membuktikan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin,’’ terang Jokowi. Maka, misi itulah yang saat ini harus ditiru umat Islam, termasuk yang ada di Indonesia.

Contoh-contoh yang ada pada masa lalu bisa dijadikan pegangan dalam hidup bermasyarakat. Madinah adalah role model sebuah negara yang mampu mengayomi seluruh warganya yang berlatar belakang berbeda-beda.

’’Kita harus mampu membangun Madinah-Madinah yang baru, membangun masyarakat Indonesia yang damai, adil, dan makmur,’’ lanjutnya.

Madinah menjadi bukti kerukunan lintas etnik dan agama. Juga, kerukunan antara penduduk asli (ansar) dan pendatang (muhajirin). Karena itu, Indonesia pun harus mencontoh kerukunan tersebut.

Tahun ini peringatan Maulid Nabi Muhammad diadakan di Istana Bogor.

Selain karena di kompleks istana kepresidenan Jakarta sedang dilaksanakan perbaikan, peringatan tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat dan ulama setempat untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad dalam acara kenegaraan.

Sebagai gambaran, tidak tampak Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin dan Ketua Umum PB NU KH Said Aqil Siroj yang tahun lalu hadir di Istana Negara.

Sejumlah anak yatim yang diundang dalam acara semalam juga didudukkan di baris terdepan bersama presiden. (byu/c10/oki/jpnn.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here