Home Pengetahuan Habib Quraish Shihab Bicara Soal Bumi Datar Hingga Pipis Unta

Habib Quraish Shihab Bicara Soal Bumi Datar Hingga Pipis Unta

123
0
SHARE

Suara NU – “Ilmu tanpa agama pincang, agama tanpa ilmu buta”, kutipan terkenal Albert Einstein tersebut terus menjadi perdebatan. Salah satunya bagaimana sebuah agama menerima perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

Di Indonesia, banyak orang penasaran bagaimana agama Islam dan Al Quran menyikapi perkembangan iptek. Sebuah video yang diunggah oleh Najwa Shihab Senin (22/01/2018) mencoba menjawab rasa penasaran tersebut.

Dalam video berdurasi 6 menit 27 detik tersebut, terlihat Quraish Shihab menjelaskan bagaimana Islam memandang perkembangan iptek.

“Sangat menyambut. Teknologi itu bebas nilai. Penggunanya yang memberikan nilai,” kata Quraish.

Sahabat KH Mustofa Bisri tersebut juga mencontohkan misalnya penggunaan teknologi handphone (HP). Dia menyebut sekarang sudah ada Al Quran di dalam HP.

Pria paruh baya ini juga menjelaskan bahwa dia menggunakan HP saat ingin menulis, mencari ayat Al Quran, dan mencari tahu tentang segala sesuatu melalui google.

“Itu kan hasil teknologi,” tegasnya.

“Melalui teknologi kita bisa dengan cepat ke Mekkah, kita bisa dengan cepat ke tujuan lain untuk belajar atau untuk berziarah. Tidak masalah,” sambung pria ini.

Pria yang pernah mengenyam pendidikan di Al-Azhar, Kairo ini juga membandingkan ketika teknologi digunakan untuk berbuat hal yang tidak baik.

“Tetapi kalau itu digunakan untuk sesuatu yang buruk, Anda gunakan HP untuk mengirim hoaks, terlarang karena melengahkan orang, menjerumuskan orang,” ujarnya.

“Jadi, ilmu sangat dianjurkan. Tuhan menetapkan dalam Al Quran bahwa alam raya ini dimudahkan manusia untuk menggunakannnya. Salah satu penggunaannya itu adalah dari hasil perkembangan teknologi,” katanya.

Pendiri pusat studi Al Quran ini juga memberi contoh pada salah satu firman Allah tentang wanita hamil. Ayat tersebut menyebut, Tuhan mengetahui apa yang dikandung seorang wanita.

“Dulu diartikannya bahwa Dia mengetahui apa itu jenis kelamin anak, laki-laki atau perempuan. Sekarang tidak lagi yang menafsirkan demikian,”

“Sekarang udah bisa lewat USG ya, bahkan 4 dimensi bisa keliatan mukanya,” sambung Najwa Shihab, putri Quraish Shihab sekaligus menjadi pewawancara dalam video tersebut.

Quraish dengan cepat menyetujui apa yang disampaikan putrinya tersebut.

“Itu dia. Jadi, kita akan berkata (menafsirkan) Tuhan mengetahui apa yang ada dalam rahim seorang perempuan, mengetahui nasibnya, mengetahui warna kulitnya, mengetahui rezekinya, mengetahui masa depannya, dan sebagainya,” ujarnya.

“Jadi, penafsiran bisa berubah,” imbuhnya.

Bumi Datar

Tak hanya membahas bagaimana Islam dan Al Quran memandang perkambangan iptek, video tersebut juga menampilkan bagaimana ayah dan anak tersebut berdiskusi mengenai bumi datar.

“Banyak yang masih berpendapat bahwa bumi datar dan tercantum dalam Al Quran. Bagaimana sesungguhnya penjelasanya?” tanya Najwa pada menit ke 2:21.

“Itu di dalam Al Quran dikatakan ada dua istilah. ada menciptakan dan ada menjadikan,” jawab Quraish.

Lebih lanjut, Quraish menyebut bahwa keduanya dibedakan pada kata spesifik dalam Al Quran.

“Kalau di Al Quran spesifiknya kata khalaqah, artinya menciptakan. Tetapi kalau bumi dikatakan ja’alah, menjadikan,” ujarnya.

“Bentuknya diciptakan bulat atau lonjong tapi dijadikan untuk manusia yang hidup di permukaan bumi ini terus datar,” tegasnya.

Pria ini juga menjelaskan bahwa kemana pun kita pergi, selama masih berada di bumi, kita akan lihat bumi itu datar. Dengan kata lain, kita tidak akan melihat bumi itu bulat.

“Jadi, (kata) menjadikan untuk menjadi manfaat. Diambil manfaatnya,” kata Quraish.

“(Contohnya) Allah berkata: Kami jadikan laut untuk ini. Untuk diambil manfaatnya. Tapi kalau Kami ciptakan itu berbeda dengan menjadikan,” sambungnya.

Perbedaan kata yang digunakan dalam Al Quran tersebut dijadikan Quraish Shihab menjawab pertanyaan kesimpangsiuran pengunaan ayat yang selama ini dikutip untuk menegaskan bumi datar.

“Yang Al Quran sebut datar itu spesifik menjadikan, bukan menciptakan?” tanya Najwa.

“Itu dua hal yang berbeda. Di sinilah ketelitian Al Quran. Di sini digunakan menjadikan, di sini digunakan menciptakan,” jawab Quraish.

Kencing Unta dan Vaksin

Selain percakapan mengenai dua hal tersebut, masih ada lagi yang dibahas oleh ayah dana nak ini. Mereka juga membahas mengenai beberapa berita yang tengah viral, yaitu khasiat kencing unta dan vaksin.

“Pertama, kita tidak bisa mengingkari dari ilmu hadits bahwa Nabi pernah mengizinkan beberapa orang, yang boleh jadi kekurangan air, minum air seni unta bersama susunya. Pengobatan yang diajarkan nabi itu sesuai dengan perkembangan masa nabi,” katanya

“Sehingga bisa jadi ada pengobatan masa kini yang justru lebih baik dari apa yang pernah dilakukan oleh nabi,” imbuh ulama sepuh itu.

Menegaskan pendapatnya, Quraish juga menyebuh bahwa hal itu disepakati oleh hampir semua ulama.

“Walaupun mereka tidak melarang melakukan apa yang dilakukan oleh nabi. Tapi bisa jadi ada yang lebih hebat,” ujarnya.

Selain dari sisi perkembangan ilmu tersebut, Quraish juga membahas mengenai sudut pandang dalam agama.

“Kedua, salah satu tujuan turunnya agama itu, memelihara agama antara lain dari image buruk. Terkadang ada hal-hal yang perlu dilakukan tapi kalau menimbulkan image buruk, sebaiknya jangan dilakukan,” ungkapnya.

“Apakah kemudian itu sama dengan vaksin? Ini kan selalu menjadi kontroversi, boleh atau tidak, halal atau haram,” tanya Najwa kembali.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Quraish mengajak kita untuk melihat bahan-bahan yang digunakan dalam suatu vaksin.

“Kita lihat vaksinnya bagaimana. Apakah bahan-bahannya terambil dari bahan-bahan yang haram atau tidak,” ujarnya.

“Kalau terambil dari bahan-bahan yang haram, terlarang. Itupun kita garis bawahi, kalau ada vaksin yang sangat dibutuhkan dan terambil dari bahan haram, itu kalau sangat dibutuhkan demi memelihara jiwa, boleh dilakukan,” imbuhnya.

Ulama senior ini menyimpulkan bahwa penggunaan vaksin tak serta merta dilihat dari bahannya saja. Dia menggarisbawahi bagaimana tingkat kebutuhan terhadap vaksin tersebut.

“Harus spesifik diteliti terlebih dahulu,” tutupnya.

Sumber: Kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here