Home Pengetahuan Ini Teori Produksi Anak agar Jadi Ulama Menurut KH Abdul Qoyyum Mansur

Ini Teori Produksi Anak agar Jadi Ulama Menurut KH Abdul Qoyyum Mansur

21
0
SHARE

Suara NU – KH. Abdul Qoyyum Mansur, Lasem, Jateng saat ngaji di acara haul KH. Abdul Fattah Hasyim dan masyayikh di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kamis (09/02/2017) menjelaskan teori produksi ulama dalam pandangan tasawuf.

Pertama, teori tempat. “Tempat kelahiran mempengaruhi karakter seseorang,” kata Gus Qoyyum. Ia menyontohkan Hakim bin Hizam dan Sayyidina Ali yang lahir di dalam Ka’bah. Hakim menjadi dermawan hingga rela menjual kantornya untuk disedekahkan. Sayyidina Ali menjadi ahli ilmu.

Nabi Muhammad SAW sampai berkata, aku gudangnya ilmu dan Ali pintunya. Kita mengenal Sayiddina Ali sebagai sahabat yang cerdas. Seorang ahli hadist India bernama Husyamuddin al Muttaqi al Hindi, menulis dalam kitabnya Kanzul Ummal bahwa Sayiddina Ali pernah berpidato secara spontan sebanyak 5 halaman tanpa huruf alif.

“Jadi kalau akan melahirkan, cari tempat yang baik. Misalnya rumah sakit Islam, bisa RSNU atau RS Muhammadiyah. Atau cari keluarga dan lingkungan yang baik,” sarannya.

Kedua, teori yang dikatakan Gus Qoyyum adalah teori keluarga. Di dalam Al-Quran, ada 26 kali penyebutan keluarga dengan kata ali, ala danalu. Keluarga Nabi Ibrahim dua kali disebut, keluarga Nabi Luth empat kali, lalu keluarga Firaun yang paling banyak disebut, hingga 14 kali.

“Siapapun, bisa punya jiwa Fir’aun. Penguasa maupun ulama juga bisa punya jiwa Fir’aun,” tuturnya.

Ilmuwan Jepang sepakat bahwa anak usia empat bulan dalam kandungan yang diperdengarkan musik, bisa mempengaruhi tumbuh kembangnya. “Kalau ingin anak jadi penyanyi, sejak empat bulan di kandungan perdengarkan lagu-lagu. Kalau ingin anak pintar ngaji, perdengarkan bacaan Quran,” paparnya.

Ketiga, adalah teori seks. Disebutkan Gus Qoyyum. Dulu, katanya, ada wali buta bernama Ali Al-khowash. “Semua ilmunya laduni,” imbuhnya.

Ali Al-Khowash pernah menuturkan, siapa yang dibayangkan sebelum, selama dan setelah berhubungan seks, akan mempengaruhi anak. sebab ada energi yang mengalir dari pikiran ke dalam jiwa, lalu ke anak. “Kalau yang dipikirkan ulama, jadinya ulama. Kalau yang dipikirkan penyanyi, ya jadi penyanyi,” ucapnya.

Gus Qoyyum lantas menceritakan kandungan QS Ali Imron 37-39. Dalam ayat tersebut, Nabi Zakariya sangat mengagumi Maryam karena tiap kali mendatangi kamar Maryam di masjid, selalu ada makanan dari Allah.

Nabi Zakariya lalu berdoa minta anak. Kemudian diberi anak Nabi Yahya. “Nabi Yahya ini ada kesamaan dengan Maryam. Sama-sama tidak menikah,” jelasnya.

Gus Qoyyum menambahkan, apa yang kita cintai, apa yang kita pikirkan, energinya akan menyalur dalam diri kita. “Kalau kita cinta Rasulullah, maka Allah akan mentransfer energi sehingga karakter kita mirip Rasulullah,” lanjutnya.

Napoleon Bonaparte dijadikan contoh oleh Gus Qoyyum. Katanya, setiap ketemu wanita tua, pemimpin Perancis itu selalu berhenti menghormat. Itu dia lakukan karena setiap melihat wanita tua, dia teringat ibunya. “Dia pun jadi pemimpin yang karakternya baik seperti ibu,” simpulnya.

Keempat, teori produksi ulama, kata Gus Qoyyum, adalah terori transfer. Dulu, katanya, ada seorang ulama bernama Sa’duddin Al-Taftazani. Beliau belajar puluhan tahun tapi tetap bodoh hingga suatu hari ada orang datang kepadanya memberitahu bahwa dia ditunggu Rasulullah.

Dia lalu datang dan disuruh membuka mulutnya, lalu diludahi Rasulullah. Sejak itu, dia menjadi ulama brilian. “Ada kesunahan, kita sowan ulama membawa kurma lalu minta ulama tersebut memamahnya. Kemudian kurma pamahan tersebut diberikan pada anak kita,” paparnya.

Waktu kecil, saya sering makan sesuatu yang dipamahkan oleh bapak saya. Bisa jadi, gus-gus itu jadi ulama karena kecilnya sering makan dari makanan yang dipamah bapaknya yang seorang kiai.

Tokoh Muhammadiyah Jombang, KH Muchid Jaelani sempat cerita, saat mondok di Tebuireng, mulutnya pernah diludahi Gus Kholiq, pengasuh Pesantren Tebuireng yang dikenal sakti. Sejak itu, beliau bisa membaca sendiri kitab-kitab kuning meskipun belum pernah diajarkan kiai.

Di akhir ceramah, Gus Qoyyum memberikan ijazah yang sanadnya sampai ke Mbah Hasyim Asy’ari. Ijazah tersebut didapatkan Gus Qoyyum dari abahnnya. Ini yang diijzahkan:

Membaca kalimat “Tahasshontu Bihisni Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasuulullah” sebelum beranjak tidur. Dibaca 4 kali. Bacaan pertama sembari meludah ke kanan, bacaan kedua, meludah ke kiri. Bacaan ketiga dan keempat, meludahnya ke depan dan belakang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here