Home Pengetahuan Kajian Hadits: Benarkah orang Arab lebih utama dalam Islam?

Kajian Hadits: Benarkah orang Arab lebih utama dalam Islam?

24
0
SHARE

Kajian Hadits: Benarkah orang Arab lebih utama dalam Islam?

Dishare dari Gus Prof. Nadirsyah Hosen

Suara NU – Sebelum Rasulullah wafat, beliau memberikan khutbah di saat haji wada’. Pesan ini sangat penting karena isinya universal. Saya kutip sebagian teksnya dari Musnad Ahmad (Hadts Nomor 22391):

‎وعن أبي نضرة قال: «حدثني من سمع خطبة النبي صلى الله عليه وسلم في وسط أيام التشريق فقال: ” يا أيها الناس، إن ربكم واحد وأباكم واحد، ألا لا فضل لعربي على عجمي، ولا لعجمي على عربي، ولا أسود على أحمر، ولا أحمر على أسود إلا بالتقوى، أبلغت؟ “. قالوا: بلغ رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Dari Abu Nadhrah telah menceritakan kepadaku orang yang pernah mendengar khutbah Rasulullah SAW ditengah-tengah hari tasyriq, beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian satu (maksudnya Nabi Adam). Ingatlah. Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang Ajam (non-Arab) dan bagi orang ajam atas orang Arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan ketakwaan. Apa aku sudah menyampaikan?” mereka menjawab: Iya, benar Rasulullah SAW telah menyampaikan.”

Kitab Majma’ Zawaid (3/266) mengatakan perawinya sahih. Kalau belum yakin juga dengan kesahihan Hadits di atas, Saya kutipkan dari tokoh yang menjadi rujukan utama kawan-kawan Wahabi: Syekh al-Albani yang juga mengatakan riwayat di atas sahih (as-sahihah, 6/199).

Oke kan? 🙂

Riwayat di atas secara blak-blakan dan apa adanya menyebut tidak ada kelebihan seorang manusia di atas manusia lainnya berdasarkan etnik dan warna kulit. Sabda Nabi SAW sesuai dengan pesan al-Qur’an: “Yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang bertakwa” (QS al-Hujirat:13). Nabi tegaskan: “tidak ada keutamaan orang Arab di atas orang non-Arab.” Dahsyat sekali pesan Rasulullah di akhir hayatnya ini.

Tapi sayang masih ada segelintir pihak yang merasa minder dan merasa kurang islami berhadapan dengan orang Arab. Semua hal yang ber-bau Arab dianggap lebih baik dari tradisi lainnya. Mereka mendasarkannya pada sejumlah riwayat. Saya kutip dari Sunan at-Tirmidzi beberapa riwayat tersebut.

Sunan at-Tirmidzi (Hadits Nomor 3862):

Nabi bersabda: “Wahai Salman, janganlah kamu membuatku marah, hingga kamu dapat berpisah dari agamamu.” Kataku (Salman); “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin aku membuatmu marah, padahal dengan perantaraanmu lah Allah memberi petunjuk kepada kami.” Beliau bersabda: “yaitu Kamu membuat orang-orang Arab marah maka sama dengan kamu telah membuatku marah.”

Imam Tirmidzi memberi catatan penting: “Hadits ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Abu Badr Syuja’ bin al Walid. Dan saya mendengar Muhammad bin Isma’il (yaitu Imam Bukhari) berkata; “Abu Dhabyan tidak pernah berjumpa dengan Salman, karena Salman meninggal dunia sebelum Ali (meninggal).”

Penting buat kita membaca catatan Imam Tirmidzi di atas karena Hadits ini seolah mengatakan kalau kita membuat orang Arab marah, mana Nabi pun ikut marah dan aqidah kita bisa lepas. Bahaya banget kan?! Syukurlah ternyata ini Hadits gharib (asing/menyendiri). Dalam terminologi Sunan at-Tirmidzi, istilah Hadits gharib itu maknanya serupa dengan Hadits dha’if.

Ada Hadits lain dari Sunan at-Tirmidzi (nomor 3863):

Dari Utsman bin ‘Affan dia berkata; Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menipu orang-orang Arab, maka ia tidak akan masuk (dari golongan yang akan) mendapatkan syafa’atku, dan tidak pula mendapatkan kasih sayangku.”

Luar biasa kan? Kalau orang Arab kena tipu, maka yang menipu gak disayang Nabi dan gak dapat syafaat Nabi. Duh, gimana kalau kita yang ditipu sama Arab? Kok rasanya gak fair sih? Bagaimana kedudukan riwayat di atas?

Imam at-Tirmidzi berkata; “Hadits ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Hushain bin Umar al-Ahmasi dari Mukhariq dan menurut ahli hadits, riwayatnya Hushain tidaklah kuat.”

Kembali lagi, ini ternyata juga Hadits gharib.

Jadi jelas sudah bahwa Hadits yang mengatakan tidak ada kelebihan orang Arab di atas bangsa lainnya itu sahih. Sedangkan riwayat keutamaan bangsa Arab patut kita pertanyakan. Tapi jangan salah. Kita juga tidak boleh menghina orang Arab. Bahasa Arab adalah bahasa al-Qur’an. Jalur nasab Arab itu mulia hingga melahirkan Nabi Muhammad SAW. Nabi mencintai kota Mekkah. Nabi Muhammad juga orang Arab. Tidak mungkin kita membenci atau melecehkan bangsa dan tradisi Arab.

Bangsa Arab punya kelebihan, tentu itu benar. Misalnya mereka terkenal hafalannya kuat. Tapi bukan berarti kelebihan itu membuat semua orang Arab menjadi superior dari orang non-Arab. Orang Arab yang tidak bersekolah dan tidak bisa baca-tulis di masa modern ini tentu akan tertinggal dari bangsa lain yang mengamalkan perintah Iqra’.

Mayoritas sahabat Nabi juga orang Arab. Tidak boleh kita membenci sahabat Nabi. Tapi jangan lupa, ada juga sahabat Nabi yang bukan orang Arab, seperti Salman dari Parsi dan Bilal dari Etiopia (habasyah). Kita juga harus mencintai sahabat non-Arab.

Di awal perkembangan Islam, banyak ulama besar dari Arab. Imam Malik itu lahir dan besar di Madinah. Namun jangan lupa, juga banyak orang non-Arab yang menjadi ulama dan jasanya juga besar dalam sejarah Islam. Misalnya Abu Hanifah dari Kufah keturunan Parsi. Begitu juga Imam Bukhari yang bukan orang Arab.

Sejarawan besar seperti Ibn Khaldun juga kritis terhadap orang Arab. Beliau misalnya membahas dalam salah satu bab di kitabnya “Muqaddimah” bahwa bangsa Arab hanya dapat berkuasa dengan mengambil sentimen keagamaan seperti kenabian dan kewalian. Bahkan tanpa tedeng aling-aling Ibn Khaldun menulis satu bab: bangsa Arab paling jauh dari keahlian. Ibn Khaldun menulis:

‎و لهذا نجد أوطان العرب و ما ملكوه في الإسلام قليل الصنائع بالجملة، حتى تجلب إليه من قطر آخر. و انظر بلاد العجم من الصين و الهند و أرض الترك و أمم النصرانية، كيف استكثرث فيهم الصنائع و استجلبها الأمم من عندهم.

“Kita mendapati wilayah Arab dan berbagai wilayah yang mereka tundukkan dengan bendera Islam demikian terbelakang secara keseluruhan sehingga harus mendatangkan (keahlian) dari wilayah lain. Lihatlah kerajaan di luar Arab seperti Cina, India, tanah Turki dan bangsa Kristen, bagaimana mereka banyak memproduksi berbagai macam keahlian dan banyak bangsa lain yang mengambil (keahlian) itu dari mereka”

Dalam bab lain, masih di kitab Muqaddimah, ibn Khaldun menulis bab “kebanyakan ilmuwan Muslim adalah kaum non-Arab”. Dalam uraiannya beliau menyebutkan bahwa ahli bahasa penyusun ilmu nahwu bukan dari Arab, yaitu Sibawaih, al-Farisi, dan az-Zajjaj. Begitu juga para perawi Hadits, ulama ushul al-fiqh, ilmu kalam dan ahli tafsir juga kebanyakan non-Arab.

Tentu bukan maksud Ibn Khaldun merendahkan orang-Arab karena beliau pun orang Arab. Ibn Khaldun (lahir 27 May 1332- wafat 17 Maret 1406) lahir di Tunis, keturunan Hadramaut Yaman yang nasabnya bersambung ke Hujr bin Adi salah seorang sahabat Nabi Muhammad.

Ibn Khaldun menulis catatan di atas dalam konteks untuk tidak melebih-lebihkan orang Arab dan kontribusi mereka terhadap dunia ilmu. Karena ternyata catatan sejarah mengatakan orang non-Arab pun juga berjasa dalam kemajuan Islam.

Nah, saling menghormati itu enak kan?

Orang Jawa tidak usah merasa lebih hebat; begitu juga orang Cina, atau Jerman. Semua bangsa telah berkontribusi, sekecil apapun, terhadap peradaban dunia saat ini. Respek kepada semuanya; hindari kebencian pada suku atau bangsa tertentu.

Mari kita gelorakan kembali pesan universal kemanusiaan yang disampaikan Nabi Muhammad pada khutbah wada’nya. Semangat persaudaraan atas dasar kemanusiaan ini yang akan menjadi dasar perdamaian dunia. Semoga!

Tabik,

Gus Prof. Nadirsyah Hosen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here