Home Pengetahuan KH Marzuki Mustamar: Lawan Pemecah Belah NU dengan Jurus Mabuk

KH Marzuki Mustamar: Lawan Pemecah Belah NU dengan Jurus Mabuk

70
0
SHARE

Suara NU –  Pengajian rutin malam Ahad, di Kantor PWNU Jawa Timur, yang diasuh KH Marzuki Mustamar, Sabtu (30/12/2017) kemarin bersamaan Haul (Sewindu) Gus Dur (KH Abduurahman Wahid). Acara ini disiarkan langsung melalui fanpage NUtizen, dihadiri ratusan warga nahdliyin.

Sebelum menjelaskan kehebatan Gus Dur, Kiai Mustamar menyinggung pentingnya soliditas NU. Sebab, menurutnya, akhir-akhir ini, NU menjadi sasaran tembak, dibentur-benturkan, kiai-kiai NU difitnah, diadu-domba.

“Sampai dituduh menjadi makelar tanah. Dulu, Gus Dur juga difitnah dengan Aryanti. Semua fitnah dan tuduhan itu targetnya, umat tidak lagi percaya dengan kiai NU. Kalau umat sudah tidak percaya, maka, NU akan buyar. Kalau ini yang terjadi, yang senang Syiah dan Wahabi, karena mereka tidak perlu repot-repot menandingi hujjahnya NU,” jelas Kiai Mustamar.

Karena itu, lanjut kiai asal Malang ini, warga NU harus hati-hati. Kalau ada kiai difitnah, jangan dipercaya, meski pun kadang, fitnah itu datang dari kawan sendiri, bisa karena sakit hati atau salah paham.

“Dulu. ada yang bilang, saya ini juga NU tapi NU Mbah Hasyim, bukan NU Gus Dur . Ini juga bagian dari adu domba. Gus Dur hendak dibenturkan dengan mBahnya sendiri. Ini kan kurang ajar,” jelasnya disambut tawan hadirin.

Masih menurut  Kiai Mustamar, inti NU itu di bahtsul masail. Sejak jaman Mbah Hasyim sampai sekarang (jaman Kiai Ma’ruf Amin), tidak ada yang berubah. Sejak dulu NU mengikuti al-Asy’ariyah, al-Maturidi. Intinya kitabnya tetap.

“Sola gaya kepemimpinan bisa jadi beda, tabiat juga beda. Ini lumrah dan pantas saja. tetapi ajarannya tetap. Kalau berbeda, itu hanya soal karakter. Yang dihadapi Pak Hasyim Muzadi dengan Gus Dur tidak sama. Jaman mBah Hasyim juga belum ada gerakan-gerakan seperti sekarang ini,” tegasnya.

Kiai Mustamar juga mengingatkan betapa gerakan membenturkan NU itu berjalan begitu masif. Bahkan sulit dideteksi. Kelihatannya kayak konco (teman), ternyata musuh. Ini yang terjadi sekarang.

“Kalau begini saya jadi ingat jurus mabuk Gus Dur. Dan ini perlu! Gus Dur itu kadang merangkul tetapi sesekali mithing (menekan kuat). Sekarang ini apa saja amalan NU, salah. Dikatakan tidak ada dalilnya, haditsnya tidak sohih, dll,” tambah Kiai Mustamar.

Ia kemudian menceritakan kisah protesnya seorang wahabi atas keterangannya dalam pengajian yang menerangkan bahwa tahlilan, slamaten orang meninggal, istighotsah. semua itu dasarnya haditsnya, dan sohih. Tetapi karena yang mengamalkan NU, mereka tidak terima.

“Setelah pengajian, paginya, salah seorang yang mengaku HTI datang ke rumah saya. Dia tanya mana buktinya kalau tahlilan itu haditsnya sohih. Saya baru mau menunjukkan kalau dia mau menerima dan mengamalkan,” kisahnya.

Awalnya mau. Tetapi, ternyata, setelah ditunjukkan lelaki itu langsung pamit. “Eh.. nanti dulu, jangan pulang dulu. Diterima apa tidak hadits sohih ini? Jawabnya masih berat,” ujar Kiai Mustamar disambut ger hadirin.

Jadi, tegasnya, amalan NU apa saja, pasti disalahkan. Tujuannya biar umat tidak percaya kepada kiai. Dan kalau NU sudah bubar, maka NKRI ini akan roboh. Mengapa? Karena NU ini soko guru NKRI. Target terakhir mereka itu Indonesia di-Afganistan-kan, di-Suriah-kan. Kekayaan Indonesia ini 4 kali lipat Amerika Serikat.

Apa yang perlu diteladani dari Gus Dur? Menurut Kiai Mustamar, salah satunya, Gus Dur itu tidak butuh pujian manusia.

Pernah, suatu ketika, katanya, Gus Dur membagikan sarung merek BHS. Dan salah satu yang diberi adalah dirinya. Tetapi, sarung yang dititipkan seorang habib itu, baru sampai 2 hari menjelang 40 hari wafatnya Gus Dur.

“Lho kok bisa? Kok tidak diberikan dulu-dulu, sebelum Gus Dur wafat. Apa jawabnya? Kalau diberikan sebelum Gus Dur wafat, barangkali yang diberi itu akan memujinya, ini yang dihindari Gus Dur,” jelasnya.

Orang yang masih butuh pujian manusia, itu orang munafik. Orang munafik suka dipuji meski tidak mengerja apa-apa.  Senang setor muka. Gus Dur tidak mau itu. “Bagikan (sarung BHS red) ini setelah saya mati. Ikhlas mana?,” ujarnya.

Soal komitmennya ke Gereja. “Beliau pernah dawuh ketika di Malang. Niatnya adalah merawat umat yang tercecer. Umat Islam itu tidak hanya di masjid saja, tidak hanya di pondok saja, tidak hanya di madrasah saja. Di Gereja juga ada umat Islam. Satpam,  cleaning service, tukang kebunnya (Gereja), juga Banser (disambut ketawan hadirin red.) itu Islam. Kalau mereka tidak dirawat, terus masuk Kristen, siapa yang berdosa,” katanya menirukan Gus Dur.

Gus Dur juga menjadikan humor sebagai kritik. Menurut Gus Dur, di NU itu ada tiga kelompok. Itu bisa dilihat dari cara bertamunya. Kelompok pertama, biasanya datang sore, paling lama habis isya sudah pulang. Inilah pengurus NU. Kelompok kedua, biasanya datang lebih malam, bahkan sampai jam 12 malam. Mereka ini kelompok gila NU. Kelompok ketiga datangnya larut malam. Jam tiga (dini hari) masih berani ketok pintu, mertamu. “Lha yang ketiga ini orang NU yang gila,” jelasnya disambut tawa hadirin.

Ada prinsip hidup bagi Gus Dur yang perlu kita ketahui. Ternyata, tambah Kiai Mustamar, prinsip pertama adalah urusan negara, kedua urusan umat dan ketiga (baru) urusan keluarga.

“Dan benar, kalau Gus Dur hanya mengurus keluarga, kalau wafat hanya ditahlili 4 anaknya yang hanya perempuan itu. Tetapi, dengan mengurus umat, makam Gus Dur tidak pernah sepi, jutaan orang mendoakan beliau,” tegasnya.

Pokok ajaran Gus Dur ini sejalan dengan tiga prinsip ajaran KH Hasyim Asy’ari. Mbah Hasyim itu menekankan ukhuwah wathoniyah, ukhuwah islamiyah, ukhuwah basyariyah. Ini diterjemahkan Gus Dur dengan ke-Indonesiaaan, keIslaman dan kemanusiaan. “Jadi tidak ada yang berubah,” jelas Kiai Mustamar. (mky/duta.co)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here