Home Santri KH Wahab Chasbullah, Kiai yang Selalu Sarungan saat Melawan Penjajah

KH Wahab Chasbullah, Kiai yang Selalu Sarungan saat Melawan Penjajah

76
0
SHARE

[GP-Ansor.org] – Pada jaman Hindia-Belanda, sarung bisa dikatakan identik dengan perjuangan melawan budaya Barat yang dibawa para penjajah. Kaum santri merupakan masyarakat yang paling konsisten menggunakan sarung. Sedangkan kaum abangan dan kaum Islam modernis sudah mulai meninggalkan kebiasaan menggunakan sarung. Maka tak heran, kaum santri (yang mayoritas adalah Nahdliyin) sering disebut sebagai kaum saroengan.

Sikap konsisten penggunaan sarung juga dijalankan oleh salah seorang kiai pejuang yaitu KH.Abdul Wahab Chasbullah, seorang tokoh penting di Nahdhatul Ulama (NU). Suatu ketika, KH.Wahab Chasbullah pernah diundang Presiden Soekarno. Protokoler kepresidenan meminta beliau untuk berpakaian lengkap dengan jas dan dasi. Namun saat menghadiri upacara kenegaraan, beliau datang menggunakan jas, tetapi bawahannya tetap : sarungan. Hal ini dianggap aneh bagi sebagian tamu negara, karena biasanya orang mengenakan jas dilengkapi dengan celana panjang. Namun beliau tak peduli dengan anggapan orang-orang.

Sebagai seorang pejuang yang sudah berkali-kali terjun langsung bertempur melawan Belanda dan Jepang, Kiai Wahab memang konsisten memakai sarung sebagai simbol perlawanannya terhadap budaya Barat. Beliau hanya ingin menunjukkan harkat dan martabat sebagai seorang muslim nusantara kepada siapa saja.

Sebagai generasi penerus, memakai sarung memang harus jadi kebanggaan dan identitas kita sebagai muslim Indonesia . Tapi ya gitu, sarungnya mbok ya sering-sering dicuci. Ojo nganti ambune penguk.
(disarikan dari Wikipedia/santrionline)

Sumber: muslimoderat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here