Home Pengetahuan Meluruskan Felix Siauw yang Anggap Sama Khalifah dengan Khilafah

Meluruskan Felix Siauw yang Anggap Sama Khalifah dengan Khilafah

23
0
SHARE

Suara NU – Dengan perjuangkan khilafah, kami ingin menghormati umat Islam yang selalu menyebut khilafah di dalam doa sholat tarawih seperti kholifah Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali.


Kalimat di atas saya perhatikan selalu diulang Felix Shiauw dan terakhir ditegaskan oleh Ust. Muhammad al-Khatthat pada tayangan ILC.


Di dalam tulisan ini saya ingin mengklarifikasi pernyataan di atas


1. Bahwa penyebutan kata yang sering dibaca kebanyakan umat Islam di Indonesia di dalam doa sholat tarawih bukan “khilafah” akan tetapi “khalifah”.


2. Penyebutan kata “khalifah” di situ tidak dimaksudkan sebagai ungkapan keinginan umat untuk mendirikan khilafah.


3. Konteks penggunaan kata “khalifah” di dalam doa sholat tarawih itu adalah penghormatan atas kedudukan mereka di sisi Rasulullah sholla Allahu alayhi wa sallam.


4. Keempat nama sahabat yang disebut di dalam doa sholat tarawih itu, oleh para sahabat pada masanya dianggap sebagai “khalifah” (penerus) tugas dan misi Rasulullah di bidang agama walaupun secara faktual mereka adalah pemimpin negara.


5. Meskipun demikian, Umar ibnu al-Khatthab pernah menolak sebutan khalifah bagi dirinya karena merasa tidak pantas. Umar mengatakan bahwa Abu Bakar yang pantas disebut sebagai “khalifah” karena beliau yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah menjadi imam sholat, sebagaimana disebut di dalam riwayat Aisyah.


Umar menyarankan agar dirinya dipanggil dengan sebutan “amir ul-mu’minin” pemimpin orang-orang yang beriman. Sebutan “amir” bagi orang Arab adalah sebutan biasa bagi orang yang memimpin satu rombongan termasuk rombongan perjalanan.


6. Menarik makna sebutan “khalifah” di dalam bacaan sholat Tarawih ke ranah perjuangan politik penegakkan khilafah itu sangat terkesan dipaksakan.


7. Padahal konteks bacaan itu di dalam doa sholat tarawih adalah tawassul dan tabarruk, bukan siyasah.


8. Argumentasi di atas menjadi lebih kuat lagi jika dipadukan dengan hadits riwayat Ahmad yang menyebutkan ke-khalifah-an–dalam makna upaya meneruskan misi Rasulullah itu–hanya berlangsung selama 30 tahun.


Wallahu a’lam bis showab

Dishare dari Pangersa Ajengan Abdi Kurnia Djohan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here