Home Pengetahuan Mempertanyakan Anti-Nasionalisme Felix Siauw, Sudah Kaffah Belum?

Mempertanyakan Anti-Nasionalisme Felix Siauw, Sudah Kaffah Belum?

182
0
SHARE

Suara NU – Di tahun 2012 Felix Siauw mencuit kayak gini: “Membela nasionalisme, nggak ada dalilnya, nggak ada panduannya. Membela Islam, jelas pahalanya, jelas contoh tauladannya.” Di taun berikutnya (2013) orang yang sama membuat artikel berjudul “Talak Tiga Nasionalisme, Now”. Intinya, orang ini anti-nasionalisme.

Coba periksa dompetnya, ada KTP atau kartu identitas lainnya gak di sana! Jika ada, berarti dia gak kaffah dalam menolak nasionalisme. Kok? Iyah…KTP merupakan satu dari sekian “perangkat” nasionalisme. Memiliki KTP sama dengan berikrar-setia pada tanah-air; siap bela negara saat negara diancam musuh, siap bekerja, berjuang dan berkorban demi negara. Sebagai “imbalan” dari itu, negara wajib memberi layanan dan mengentaskan semua keluhan warganya. Siapa warganya? Cara mudah mengindentifikasi keberwargaan ya kepemilikan KTP.

Halah, kok malah ngomongin KTP sih! Jadi ingat tiyang…tiyang listerique.

Felix lantang berkata membela nasionalisme gak ada dalilnya. Ia pun nekat memutuskan talak-tiga dari nasionalisme yang mungkin dianggapnya gak lebih berharga dari sendal jepit yang tinggal sebelah!

Koh Felix ganteng, idola ukhti-ukhti salehah, sini dekat sama abah! Menurut Kokoh, adakah khilafah punya solusi bagi bapak bapak yang mengeluh kebotakan? Etapi, Kokoh juga pelontos senantiasa yah. Yaudah, gak usah ngomongin rambut deh.

Kalo menurut saya, ya Koh, soal dalil bagi nasionalisme, kalo kita mau ngubek-ngubek tafsir, lembaran syarah hadis, berjilid kitab siroh, saya yakin ada lah dalilnya. Seandanya sekiranya misalkan umpama jika gak ada pun, nasionalisme itu gak butuh dalil. Nasionalisme adalah cinta. Cinta gak butuh dalil. Dalil bagi cinta adalah cinta itu sendiri…eaaaa!

Nasionalisme itu cinta? Iya…cinta tanah-air. Dan itu bawaan lahir. Belanda datang, bertopeng dagang, lalu menindas, menghisap, dan menjajah. Para pejuang gak perlu membuka-buka Kitab Suci untuk mencari dalil bagi perlawanan mereka. Semut pun akan melawan jika diinjak. Kemerdekaan, kedaulatan, kehormatan, harga-diri; semua gak butuh dalil untuk memperjuangkan dan merebutnya.

Saudara-saudara kita jauh di Palestina sana, gak perlu dalil agama untuk melawan penjajahan dan kepongahan Israel, meski hanya bermodalkan batu untuk melempari tank baja, atau ketepel untuk membidik tentara songong minus kemanusiaan itu. Jawab! Adakah dalil lebih sahih dari seruan nurani untuk merebut kedaulatan dan kemanusiaan?

Kini kita sudah merdeka. Memang negara belum sepenuhnya ajeg dan mapan sehingga tugasnya memberi layanan memadai kepada warganya belum seluruhnya tertunaikan. Cita-cita para pendiri bangsa dalam banyak hal memang masih jauh panggang dari api.

Tapi semua ke-belum-sempurna-an itu bukan salah nasionalisme. Salah kita-kita juga, tanggung jawab bersama. Salah kita yang belum juga dewasa bagaimana mensyukuri dan mengisi kemerdekaan. Tanggungjawab kita bersama bagaimana menata dan mengelola negeri maha-kaya ini sehingga terwujud kesejahteraan dan keadilan dalam segala aspek kehidupan.

Libya, negara di Afrika Utara yang dulunya makmur sejahtera rakyatnya, kini hancur-lebur. Dulu para pemberontak di sana teriak seraya mengibarkan bendera khilafah. Moammar Khadafi mereka tuding penguasa tiran, dajjal paling jahat. Sekarang, setelah Khadafi tumbang, setelah Libya porak-poranda, adakah khilafah tegak di sana?

Kokoh Felix yang baik, Indonesia terlalu indah untuk menjadi seperti Libya yang kini porak-poranda. Indonesia teramat berharga untuk menjadi seperti Irak atau Suriah yang hari-harinya diwarnai konflik. Kokoh cakep, rujuklah kembali ke nasionalisme yang sudah Antum talak tiga itu. Etapi…kalau sudah talak tiga gak bisa lagi rujuk yah?!

Dishare dari Abad Badruzaman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here