Home Pengetahuan Meneladani Toleransi Muslim di Bali Pasca Peristiwa Demo Berjilid-jilid di Ibukota

Meneladani Toleransi Muslim di Bali Pasca Peristiwa Demo Berjilid-jilid di Ibukota

97
0
SHARE

Oleh: M. Faruq Ubaidillah

Suara NU – Dalam dua tahun belakangan ini isu intoleransi di NKRI kembali memanas. Bahkan sikap intoleransi telah memasuki ranah politik nasional sehingga menggerus dasar-dasar demokrasi di dalamnya. Parahnya, sikap ini ditunjukkan oleh kebanyakan umat Islam di kota, yang semestinya menjadi contoh masyarakat beradab dan berbudaya bagi kota-kota kecil yang jauh dari pusat peradaban.

Saya menjadi skeptis mengenai perkembangan nilai-nilai toleransi kedepannya di NKRI ini jika banyak kalangan masih mengutamakan egosentris mereka dalam beragama. Jika mereka masih menegasikan adanya keragaman dan perbedaan kepercayaan di NKRI, sudah pasti api intoleransi tidak akan pernah padam!

Saya ingin merefleksikan sebuah sikap toleransi yang ada di pulau Dewata Bali. Dalam sensus pendudukn tahun 2010 lalu, ditemukan bahwa jumlah Muslim di Bali hanya sekitar 13% dari keseluruhan jumlah pendudukan propinsi Bali. Tentu, jumlah ini cukup riskan bagi Muslim di bali jika tidak bisa menjaga toleransi dengan masyarakat Hindu.

Saya bukan orang asli Bali. Saya merupakan pendatang dari Jawa yang kebetulan mengajar di salah satu kampus di Bali. Ini adalah pengalaman pertama saya tinggal di daerah non-Muslim. Bahkan, letak masjid yang harus saya datangi untuk shalat cukup jauh.

Dalam keseharian, saya banyak berinteraksi dengan kolega-kolega yang semuanya beragama Hindu. Awalnya saya merasa resah, takut, dan serba bingung. Perasaan ini hadir karena wajah Islam di kota terlihat begitu keras pasca peristiwa demo berjilid-jilid di DKI Jakarta beberapa waktu yang lalu.

Benar saja. Baru satu hari masuk kantor. Kolega-kolega saya banyak bertanya mengenai Islam dan hal-hal terkait di dalamnya, termasuk ucapan-ucapan kafir beberapa da’i medsos akhir-akhir ini.

Merasa kebingungan untuk menjawab, saya berusaha setiap hari mencari titik temu antara Islam dan kemanusiaan. Dari banyak diksusi dengan teman-teman di pesantren di Jawa dan membaca buku-buku karya akademisi moderat kontemporer di Indonesia, saya dapat menarik benang merah bahwa nilai-nilai kemanusiaan adalah tonggak terciptanya sikap toleransi dalam beragama.

Adalah tulisan-tulisan Gus Dur tentang Islam dan ke-Indonesiaan-an yang paling banyak memberi saya pemahaman dalam berdialog dengan kolega-kolega beda agama.Pemikiran Gus Dur tentang Islam dan Indonesia banyak berangkat dari—sepengetahuan saya—maqashid as syari’ah (tujuan utama syari’at). Beliau berhasil memformulasikan nilai-nilai universal Islam dalam sebuah kacamata HAM.

Gus Dur betul-betul mengupayakan terlaksananya hak-hak manusia dalam hidup mereka. Dalam bernegara, hak-hak setiap masyarakat adalah mendapatkan pelayanan yang baik dan adil juga berpartisipasi dalam politik.

Rupanya, hal seperti ini mulai direduksi oleh kelompok-kelompok dalam Islam yang tidak toleran sama sekali. Mereka lebih bersikap egosentris dan menutup mata terhadap nilai-nilai kemanusiaan dalam Islam itu sendiri. Dengan kata lain, yang mereka lakukan sebetulnya sudah merampas hak-hak seseorang dalam bernegara.

Sering saya sampaikan apa yang menjadi tujuan Gus Dur ini ketika mendapatkan pertanyaan dari kolega-kolega di kantor. Ternyata, mereka yang beragama Hindu pun sebetulnya juga memiliki nilai-nilai kemanusiaan dan universal yang sama dengan Islam.

Masyarakat Hindu di Bali mengenal istilah Tri Hita Karana yang artinya damai dengan Tuhan, damai dengan sesama manusia, dan damai dengan lingkungan sekitar. Nilai-nilai filosofis ini terus dijaga oleh mereka sehari-hari. Maka, tidak heran jika kearifan lokal begitu kuat di Bali.

Contoh nyata tentang kedamaian ini dapat kita ihat di daerah Nusa Dua Badung, sekitar 12 kilometer dari bandara internasional I Gusti Ngurah Rai Bali. Di sana terdapat tempat beribadah lima agama berbeda yang rukun, damai, tenang, dan saling menghormati. Daerah tersebut dikenal dengan nama Puja Mandala.

Kerukunan di daerah Puja Mandala ini tidak lahir begitu saja. Sudah tentu masyarakatnya memahami nilai-nilai kemanusiaan dalam beragama dan bernegara. Sikap memahami kemanusiaan ini menjadi dasar berdirinya toleransi antar pemeluk agama berbeda. Coba bayangkan, bagaimana mungkin dalam satu area bisa berlangsung kegiatan peribadatan lima agama berbeda tanpa adanya disintegrasi atau kerusuhan. Sungguh sebagai kota metropolitan, Jakarta harus belajar toleransi dari sini, Bali!

Jika bukan karena mengedepankan nilai kemanusiaan, niscaya sikap intoleransi di NKRI tidak akan pernah hilang. Semangat beragama tanpa melihat manusia sebagai ciptaan Tuhan yang suci sudah tentu akan menegasikan keragamanan dalam suatu komunitas. Sikap seperti inilah yang harus dilawan demi kemanusiaan!

*Penulis adalah aktivis Islam moderat, saat ini berdomisili di Denpasar, Bali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here