Home Pengetahuan Mengenal Ulama Fenomenal "Kang Said"

Mengenal Ulama Fenomenal "Kang Said"

74
0
SHARE

Suara NU – Sejak dulu, Kang Said atau Kiai Said (lengkapnya Prof. Dr. KH Said Aqiel Siradj), Ketua Umum PBNU, adalah salah satu tokoh dan sarjana Muslim Indonesia yang saya kagumi.


Sebutan “kang” ini sangat familiar di pesantren-pesantren tradisional khususnya yang berafiliasi ke NU. Tak perduli ia santri senior atau santri yunior, panggilannya tetap “kang”. Panggilan “kang” juga sangat akrab di Cirebon (tempat Kang Said dilahirkan tahun 1953) atau Jawa Barat pada umumnya. Di kawasan ini, para ilmuwan, ulama atau kiai besar sudah biasa dipanggil “kang”, bukan “ustad” seperti di jaman now.


Saya menangkap sebutan “kang” ini sebagai simbol kesahajaan, keakraban, dan kerendahatian komunitas santri khususnya, meskipun sudah mumpuni ilmunya dan berpuluh-puluh tahun mengaji dan tinggal di pesantren tapi tetap bersahaja, tawadlu, tidak sombong, dan tidak bisa menabung he he. Sangat kontras dengan generasi Muslim perkotaan jaman now yang meskipun baru mengenal Islam dan baru bisa mengaji tapi sudah rajin memberi fatwa, akhirnya jadilah “fatwamurgana” he he.


Saya mengetahui Kang Said sejak 1990an. Waktu itu saya sedang “gila-gilanya” menjadi aktivis mahasiswa di IAIN (kini UIN) Semarang, baik aktivis jurnalistik, aktivis diskusi, aktivis organisasi, maupun aktivis demo.


Tahun 1994, Kang Said juga baru saja menyelesaikan studi doktoralnya di Makah. Beliau belajar di Saudi selama 14 tahun (1980-1994): sejak S1 (di King Abdulaziz University, Jedah) sampai S2 dan S3 (di Universitas Ummul Qura, Makah). Sebelum kuliah di Saudi, Kang Said belajar di berbagai pondok pesantren di Crebon, Lirboyo dan Krapyak Yogyakarta. Jadi nyaris sejak balita, beliau sudah belajar studi keislaman.


Yang menarik adalah selama kuliah di Saudi, Kang Said bukan hanya belajar tentang khazanah keislaman (khususnya di bidang sejarah, teologi dan tasawuf) tetapi juga kekristenan. Beliau pernah menulis tesis master di Universitas Ummul Qura tentang Perjanjian Lama dan Surat-Surat Santo John.


Begitu selesai studi doktoral (disertasi beliau tentang pandangan kaum Sufi atas Tuhan dan alam), Kang Said langsung masuk jajaran elit PBNU, sebagai salah satu pengurus termuda. Gus Dur-lah, yang waktu itu sebagai Ketua Umum PBNU, yang memasukkan Kang Said ke jajaran elit PBNU. Sebetulnya bukan hanya memasukkan Kang Said ke PBNU, Gus Dur juga yang turut “mendidik” dan bahkan membela Kang Said ketika pemikiran-pemikiranya yang revolusioner itu diserang oleh sejumlah ulama dan kiai.


Sejak Kang Said kuliah di Saudi, Gus Dur sudah jatuh hati dengan dirinya bukan hanya lantaran Kang Said putra seorang ulama besar di Cirebon tapi juga karena beliau sangat mumpuni dalam hal kajian sejarah, teks, dan wacana keislaman klasik. Gus Dur juga sering mampir ke tempat Kang Said di Makah. Karena kekaguman Gus Dur kepada Kang Said, beliau pernah menyebut Kang Said “kamus berjalan”.


***


Kang Said memang seperti “kamus berjalan”. Beliau hafal diluar kepala tentang seluk-beluk dan pernik-pernik sejarah keislaman sampai nama-nama tokoh dalam sejarah awal perkembangan Islam dan penerusnya, baik tokoh protagonis maupun tokoh antagonis. Beliau juga hafal silsilah para ulama Islam, termasuk para perawi (yang meriwayatkan) Hadis. Beliau juga menguasai literatur-literatur keislaman klasik, pandai mendalil, hafal berbagai teks Islam, dan mahir berbahasa Arab dengan aksen Hijaz.


Kalau sedang ceramah dan mengisi seminar, Kang Said begitu lancar menguraikan tentang sejarah keislaman dengan dibumbui ayat, hadis, dan pendapat para ulama klasik. Tentu saja dengan humor juga sebagai ciri khas NU dan gaya santri tradisional. Gaya ceramahnya juga blak-blakan, ceplas-ceplos, tas-tes, to the point. Jadi enak dan semangat dengarnya.


Bukan hanya pandai ceramah, Kang Said juga pintar menulis. Beliau termasuk kiai-akademisi yang sangat produktif yang sudah melahirkan banyak karya akademik tentang keislaman sehingga sangat layak kalau mendapat gelar “guru besar”. Tulisan-tulisan beliau juga sangat bernas dan mudah dicerna, tidak muter-muter alias mbulet seperti kecoa bunting kejebak macet di pasar Tanah Abang.


Itulah yang membuat saya dulu (sampai sekarang) kesengsem dan sangat ngefans dengan beliau. Dulu, berbagai karya dan pendapat beliau yang bernas dan “reformis” dijadikan sebagai rujukan di kalangan generasi muda NU/santri progresif untuk mereformasi kejumudan dan kebekuan berpikir di kalangan tradisional NU khususnya dan Muslim pada umumnya.


Dulu, tahun 1990an, saya melihat kehadiran Kang Said sebagai cendekiawan muda NU yahud bin hebring yang bisa meneruskan spirit intelektualisme dan aktivisme Gus Dur. Hingga kini pun saya masih menganggap Kang Said sebagai kiai NU top generasi 1950-an.


Melihat latar belakang pendidikan keislaman Kang Said yang sangat panjang sehingga mumpuni dalam kajian-kajian keislaman, maka sangat tidak “lepel” dan tidak pantas kalau beliau disandingkan atau dibandingkan dengan para “ustad karbitan”, “dai seleb”, “mubaligh mualaf”, atau “penceramah abal-abal” yang hanya bermodal lawakan dan tampang lucu kayak badut pengkolan.


Tapi lucunya, sebagian umat Islam jaman now malah menghujat kiai beneran dan mumpuni kayak Kang Said dan memuja-muji barisan “ustad odong-odong” kayak Si Otong. Ya Mark Zuckerberg, apa salah bunda mengandung atau salah bapake yang menaruh burung.


Dishare dari Prof. Sumanto al-Qurtuby

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here