Home Pengetahuan Menjawab Anggapan Santri Mengkultuskan Kiai

Menjawab Anggapan Santri Mengkultuskan Kiai

96
0
SHARE

Suara NU – Dalam praktek beragama, baik tata ritual maupun laku sosial, santri tidak hanya menyandarkannya kepada dalil yang ia kaji dari kutubussalaf, tetapi juga kepada uswah yang bisa ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan nurnya secara langsung, yakni tingkah polah para kiai.

Kiai yang dimaksud di sini tidak bisa dibatasi dengan pengertian muballigh,atau penceramah. Kiai yang kumaksud adalah mereka yang muallim (mapan keilmuannya) dan murobbi’ (setia membimbing secara tulus), sehingga betul-betul berperan sebagai muaddib (pendidik sejati).

Kami ngaji qira-atul Qur’an, kami menyimak beliau-beliau membaca Alquran. Kami ngaji ikromud dhuyuf, kami melihat beliau-beliau ngajeni dayoh (memuliakan tamu). Kami ngaji shalat, zakat, puasa, haji, kami saksikan uswah pada diri beliau-beliau.

Kami ngaji sabar dan syukur, kami rasakan itu dalam problematika yang beliau-beliau hadapi sehari-hari. Bahkan tak sedikit para kiai yang tak perlu banyak berceramah, karena perilakunya setiap hari sudah jadi kitab yang bisa diapsahi (dimaknai) para santri.

Kultus? Bukan. Cobalah baca kitab-kitab siroh nabawiyyah itu, tentang bagaimana para sahabat memperlakukan guru mereka: Baginda Muhammad ‘alaihi shalatu wa salam. Namun bukan berarti santri memposisikan guru-guru mereka setara nabi. Tidak begitu.

Betapa banyak kisah para santri salaf maupun khalaf yang berbeda pendapat dengan kiainya, namun tetap tak kehilangan takzim dan khidmat mereka. Tak perlulah kiranya kusebut satu-satu di sini.

Tentu saja para kiai kami juga mengambil qudwah (teladan) dalam hal ilmu dan amal dari guru-gurunya, terus ke atas hingga para sahabat, sampai Rasulullah. Dan ada hal lain selain ketersambungan sanad yang membuat kami mantap.

Hali lain itu adalah bukti riil tentang apa yang mereka capai melalui jalan ini: banyak diantara kami-para santri-yang melihat (dalam makna harfiah) para kiai kami begitu istikamah dalam ibadah mahdhah, begitu mengayomi masyarakat dengan segala macam masalah yang kadang aneh-aneh, begitu berbinar-binar cahaya wajah yang tak bisa kuungkapkan dengan tulisan, begitu adem kalimat-kalimat sederhana yang mungkin kelihatannya biasa saja bila dibandingkan orasi para motivator.

Banyak dari kami yang juga menyaksikan hal-hal yang sulit dinalar pada kiai-kiai kami, seiring dengan haliyyah manusiawi pada umumnya, hingga akhir kehidupan beliau-beliau yang begitu indah dengan kalimah thayyibah.

Mereka mengamalkan syariat dengan ketat, mengajak masyarakat secara bertahap, tidak terburu-buru. Mereka pengamal tasawuf dengan berbagai jenis tarekat masing-masing, dengan disiplin ritual yang beraneka rupa. Mereka menghormati ahlul bayt, serta bertawasul dengan jah (para sahabat yang mulia. Mereka mengajak kami mengaji karya-karya para pendahulu, sekaligus tak kurang-kurangnya mengirim al-fatihah kepada para auliya’.

Maka wajar bila kami tidak goyah dengan tuduhan-tuduhan dangkal bid’ah dan semacamnya. Sebab, selain kami punya dalil nash yang bisa dipertanggungjawabkan, baik yang ‘am maupun khash, kami juga punya qudwah, pembuktian nyata berupa perikehidupan kiai-kiai kami yang begitu indah.

Seperti kata Imam al-Ghazali, bahwa ilmu tasawwuf juga termasuk sains, karena di situ ada unsur eksperimen atau pembuktian, dan banyak orang yang ternyata berhasil mencapai hasilnya dengan jalan ini. Dan kiai-kiai kami, kami saksikan, termasuk di dalamnya.

Hal ini perlu kuungkapkan, sebagai santri, karena mulai banyak tuduhan subyektif bahwa kiai-kiai tidaklah sesuci yang dianggap. Belum lagi ada kecenderungan pembanding-bandingan antara kiai dengan habib, Jawa dengan Arab, dan semacamnya. Wal ‘iyadzu billah.

Mungkin ada orang-orang semacam yang dituduhkan itu. Tapi entah kenapa, kami memiliki intuisi tersendiri untuk memilahnya. Jangan suruh kami menjelaskannya secara deskriptif analitis. Ini lebih kepada rasa yang intuitif, spontanitas. Nyantri-lah dulu kalau mau memahami itu. Tentang siapa yang bisa kami ngaji ilmunya saja, siapa yang musti kami hormati, serta siapa saja yang bisa jadi qudwah dan harus kami patuhi komandonya. Mana yang untuk ta’allum, mana yang untuk tabarruk, dan mana yang harus tahkim.

Urusan qudwah inilah yang mungkin hanya ada dalam budaya nyantri. Sangat berbeda dengan model ngaji selainnya. Orang-orang hanya hadir majlis pengajian, ta’lim, tabligh, tapi tak punya ikatan batin dan intensitas interaksi yang cukup dengan guru-gurunya. Padahal hal terpenting dalam sinau hidup ini, seperti kata Gus Miek, adalah keteladanan. Di situlah bedanya nyantri dengan ngaji. WaAllahu a’lam.[]

Penulis, Abdul Basith, santri asal Jember, kelas III Tsanawiyah Pon Pes Lirboyo

Sumber : Lirboyo.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here