Home Pengetahuan Nabiku Rahmatan Lil ‘Alamin, Tidak Hanya Shaleh untuk Keluarganya Saja

Nabiku Rahmatan Lil ‘Alamin, Tidak Hanya Shaleh untuk Keluarganya Saja

81
0
SHARE

Suara NU – Seorang santri bertanya; benarkah Nabi itu “rahmatan lil alamin Kiyai..?”

Saya balik bertanya; apa yg membuatmu ragu..?

Santri jawab: Nabi itu saleh hanya untuk dirinya dan keluarganya saja..? Beliau juga hidup dalam tekanan sehingga dak mampu menjadikan dirinya sebagai rahmatan lil alamin. Setelah di masa kholifah, rahmatan lil alamin baru bisa dirialisasikan..

Anakku.! Nabi itu orang saleh (baik), tapi juga menebarkan kesalehan (kebaikan) itu kepada umat manusia. Nabi itu adil, tapi juga menebarkan keadilan itu di tengah umat manusia.

Anakku..! Nabi itu seorang reformis (muslih) untuk seluruh umat manusia. Sekiranya kesalehan nabi itu hanya untuk dirinya dan keluarganya, niscaya kamu akan tetap hidup dalam kejahiliyaan. Ibu dan saudara perempuanmu akan kamu zinahi sendiri, layaknya hidup di zaman Jahiliyah.

Anakku,,! Kalo ada orang yang bicara bahwa nabi itu saleh hanya untuk dirinya sendiri dan keluarganya, maka yang dibicarakan itu pasti bukan nabi Muhammad bin Abdillah saw, tapi orang lain.

Anakku..! Lihat sejarah kehidupan para nabi..! Tidak satupun mereka hidup tanpa tekanan. Kenapa..? Karena mereka berjuang menyebarkan kesalehan, mengajari manusia untuk saling menghormati dan menyayangi, mengajari manusia memakmurkan bumi agar kedamaian dunia tercapai. Semakin gigih berjuang, semakin dahsyat tekanan yang mereka hadapi. Nabi berkata: 

ما أوذي نبي مثل ما أوذيت

“Tidak ada nabi yang disakiti (diganggu), seperti halnya aku disakiti (diganggu)”

Sekiranya nabi Muhammad saw hanya duduk dimasjid, pegang tasbih tanpa peduli lingkungan dan masyarakat, niscaya tidak ada tekanan dari siapa pun dan tidak disakiti oleh siapa pun.

Anakku..! Apa yang kamu maksud; Nabi tidak mampu menjadikan dirinya sebagai “rahmatan lil alamin itu..?”

Apakah karena nabi dalam tekanan dan perang terus terjadi, sehingga kedamaian di zaman itu tidak terwujud..?

Anakku..Apakah zaman khulafa Arrasyidin tidak ada tekanan dan tidak ada peperangan?

Coba baca lagi sejarah para kholifah, terutama dinasti umaiyah, Abbasiyah dan ustmaniah. Apa sebenarnya yang telah terjadi, bahkan di antara para kholifah sendiri….

Anakku..nabi berperang bukan karena kejam, tapi justru karena ingin menyebarkan kedamaian dan menerapkan keadilan dunia. Maka dari itu, perang yang dilakukan nabi sifatnya defansif bukan agresif, apa lagi menjajah negara lain.

Anakku..Nabi itu diutus untuk menyebar kasih sayang dan kedamaian dunia (rahmat lil alamin). Pribadinya sendiri rahmat dan ajarannya juga rahmat.

Nabi berkata:

انا رحمة مهداة

“Aku adalah rahmat yg dihadiahkan untuk umat”.

Alquran juga berkata:

وتواصوا بالحق وتواصوا بالمرحمة

“Berlombalah dg kebenaran dan berlombalah untuk saling menyayangi”.

Dalam perang nabi pernah berkata:

بعثت رحمة ولم ابعث لعانا

“Aku diutus untuk menebar kasih, bukan diutus untuk mengutuk (melaknat)”

Dalam fathu makkah, bisa saja nabi membunuh semua tawanan yg memerangi dirinya, tapi tidak dilakukannya. Beliau malah berkata:

اليوم يوم المرحمة اذهبوا انتم طلقاء

“Hari ini adalah hari kasih sayang, pergilah kalian bebas.

Sebab perilakunya yang penuh kasih dan penuh damai itu, nabi dapat predikat dari Allah sebuah sifat yang sama dengan sifat diri-Nya.

…..بالمؤمنين رؤوف رحيم

Anankku…sekiranya nabi tidak mampu mengimplementasikan diri sebagai rahmatan lil alamin sejak awal diutus, maka para sahabat dan para kholifah tidak akan ada yang punya peradaban selain jahiliyah.

Anakku… kalo ada orang yang berpendapat seperti yang kamu katakan di atas, “nabi itu saleh hanya untuk dirinya sendiri” atau “nabi belum mampu menjadi rahmatan lil alamin kecuali setelah zaman kholifa”, suruh saja belajar denganmu dan katakan kepadanya; “NABIKU RAHMATAN LIL ‘ALAMIN, NABIMU…?”

[GMNU]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here