Home Pengetahuan Nahdliyin Bukan Peledak, tapi Penjinak

Nahdliyin Bukan Peledak, tapi Penjinak

75
0
SHARE

Oleh Aru Elgete

Suara NU – Tak terasa, Januari 2018 sudah berjalan hampir dua pekan. Di akhir bulan, berdasarkan kalender Masehi, organisasi Islam terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama (NU), akan merayakan hari lahir (harlah). Saya bersyukur, karena tahun lalu berkesempatan hadir, mendengarkan nasihat Rais Aam KH Maruf Amin dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Saya masih ingat betul, beberapa poin penting yang disampaikan kedua ulama santun itu. Sejarah perjuangan ulama di Indonesia dibahas; mulai kisah heroik Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, hingga KH Abdurrahman Wahid yang membuka kran demokrasi.

Perayaan harlah tahun lalu, saya seperti merasakan ada sebuah kesepakatan bahwa NU berkomitmen untuk terus menjaga dan merawat Ibu Pertiwi. Menjadi pelindung dari marabahaya. Tidak ekstrem kiri dan kanan. Tetap berada di tengah. Meskipun gelombang kian menghantam, NU tetap berdiri di atas prinsipnya: laa syarqiyyah wa laa gharbiyyah. Tidak condong ke timur dan ke barat.

Kala itu, 31 Januari 2017, KH Maruf Amin memberikan taushiyah. Ia katakan, NU wajib untuk senantiasa menjadi ruang moderasi pemikiran kebangsaan dan keagamaan. Bergerak pun, sama. Soal pelayanan keumatan, jangan ditanya.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu mengungkapkan bahwa NU tidak jumud dalam membaca teks keagamaan, tapi juga tidak terlalu longgar dalam memahaminya. Artinya, tidak kaku dalam hal ritual, juga tidak terlalu fokus pada kehidupan sosial. Tegasnya, NU menolak liberalisasi dan radikalisasi Islam.

NU berkewajiban menjaga nilai-nilai tradisi, melestarikan dan mengupayakan agar tetap mengenal masa lalu, tetapi jangan sampai lupa untuk terus melakukan inovasi. Organisasi yang didirikan oleh para ulama pendiri bangsa itu harus menjadi benteng dari segala ancaman yang datang saat ini; yang berpotensi merusak bangunan sejarah berupa kebudayaan.

Sementara itu, KH Said Aqil Siroj menyampaikan pidato kebudayaan. Di hadapan ribuan Nahdliyin yang memadati halaman kantornya itu, ada banyak hal yang diungkapkan. Warga NU, dari yang muda hingga tua, saksama mendengarnya. Bahkan, ada beberapa pejabat dan petinggi negara. Dari menteri hingga tukang becak, hadir dan turut berbahagia merayakan harlah NU ke-91.

Kiai asal Cirebon itu bertutur bahwa di Timur Tengah tidak ada ulama yang nasionalis. Pun sebaliknya. Orang yang nasionalis pasti bukan ulama. Setelah memberi contoh dan perbandingan, seperti Hasan Al-Banna dan Saddam Hussein; ia kemudian menyebut nama KH Hasyim Asy’ari dengan rasa bangga.

“Pendiri NU itulah ulama nasionalis, nasionalis yang ulama,” ucap Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan itu.

Dalam perjalanannya, NU selalu tegas terhadap Islam dan negara. Tidak ada pertentangan antara nasionalisme dan agama. Begitu kata pendiri NU. Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945, tak bisa lagi ditawar-tawar. Harga mati. Siapa yang merusak, berhadapan dengan NU.

Soal membela kehormatan ulama, Nahdliyin punya cara tersendiri. Tak perlu diragukan lagi. Umat Islam yang tergabung dalam Jam’iyyah Islamiyyah Ijtima’iyyah bi thoriqoh nahdlotul ulama itu selalu memelihara adab kepada orang-orang berilmu. 

Bagi warga NU, takzim kepada ulama merupakan cara menghargai ilmu. Melalui itu pula, Nahdliyin merasa dekat dengan Allah dan Rasul-Nya. Bahkan, memandang wajah ulama diyakini sebagai keberkahan. Bukan berlebihan, memang begitulah adab kepada ulama.

Tanpa diminta dan dikomando, warga NU akan dengan sendirinya membela ulama yang dicinta. Namun, ketika dianjurkan untuk menahan diri, Nahdliyin tidak akan terprovokasi. Sebagian besar dari mereka adalah santri, pasti pernah belajar kitab ternama; Ta’lim al-muta’alim. 

Ulama-ulama NU juga tidak pernah berlebihan. Mereka tidak mengandalkan kekuatan massa saat sedang dalam masalah. Pemecahan solusi dilakukan. Ide-ide cemerlang selalu lahir seketika. Kuncinya; santun dan cinta kasih.

Semasa di pesantren, warga NU pasti belajar soal prinsip ke-NU-an. Tasamuh, tawassuth, i’tidal, dan tawazzun. Kesemuanya menjadi pedoman hidup; bermasyarakat, beragama, dan bernegara. 

Terakhir, ciri-ciri Nahdliyin adalah santun, tidak kagetan dan latahan, serta pemaaf. Warga NU selalu menerapkan ilmu padi; semakin berisi kian merunduk. Tan Malaka bilang, “Padi tumbuh tak berisik.”

Nahdliyin tidak pernah seperti balon yang isinya kosong, mudah meninggi. Digesek sedikit, meledak-ledak. Kalau pun ada yang seperti itu dengan mengaku-aku sebagai bagian dari NU, percayalah dia belum menjadi Nahdliyin yang kaffah.

Nahdliyin menjadi penengah dari kesemrawutan persoalan kemasyarakatan. Menjadi penjernih, bukan malah menjadikan persoalan kian rumit nan keruh.

Umat Islam yang berada di lingkungan NU selalu menghargai perbedaan. Saat melihat kebaruan fenomena tidak pernah kaget dan layanan. Tetap santai. Tidak terburu-buru, tapi tetap menjunjung kebebasan berpendapat, sebab menurut mereka perbedaan adalah niscaya.

Yang terpenting, bukan seorang Nahdliyin kalau dalam berdiskusi gemar membenci, kalau berdakwah suka mengumbar amarah. Bukanlah Nahdliyin yang selalu merasa diri paling benar, hingga kemudian terprovokasi untuk berbuat onar.

Ya, karena Nahdliyin bukan peledak, tetapi penjinak.

Wallahu A’lam

* Source: NU Online

Penulis adalah Wakil Ketua Lembaga Pers dan Penerbitan PC IPNU Kota Bekasi, dan kontributor NU Online.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here