Home Umum Presiden Jokowi Pertimbangkan Penetapan “Menteri Pondok Pesantren”

Presiden Jokowi Pertimbangkan Penetapan “Menteri Pondok Pesantren”

93
0
SHARE

[GP-Ansor.org] –  Presiden Joko Widodo mengatakan bakal memperhitungkan masukan mengenai menteri yang fokus mengurus pondok pesantren di Indonesia.

“Itu menjadi masukan bagi saya. Dihitung-hitung. Memang semuanya harus dikalkulasi,” ujar Jokowi di Ponpes Al-Makarimiyyah, Sumenep, Jawa Tengah, Minggu (8/10).

Jokowi memastikan segala masukan akan selalu dia tampung untuk dipertimbangkan.

Ia lantas mencontohkan penetapan Hari Santri Nasional. Hari Santri awalnya hanya berupa usulan kiai dan ulama beberapa waktu lalu.

Perhitungan dan pembahasan banyak dilakukan dengan sejumlah pihak seperti ulama dan kiai hingga akhirnya resmi ditetapkan pada 22 Oktober.

Kiai Abuya Busyro Karim sebelumnya mengusulkan kepada Jokowi ada menteri dalam kabinet yang fokus mengurus pondok pesantren.

Menurutnya, pondok pesantren adalah urusan peningkatan sumber daya manusia, keahlian, dan keutuhan bangsa dan negara.

“Kami usulkan saja dari desa kecil ini, seandainya ada menteri pondok pesantren itu akan lebih baik. Berbicara ponpes pasti bicara peningkatan SDM, bicara ponpes pasti bicara peningkatan skill, pasti bicara keutuhan bangsa dan negara,” kata Busyro.

“Jadi wajar kalau misalnya ada menteri yang khusus mengurus ponpes,” tutur Busyro dan disambut tawa para santri di sana.

Mendengar hal itu, Jokowi mengatakan memang santri di Indonesia harus diurus dengan baik sebab saat ini berjumlah hingga 9 juta orang.

“Tapi, apakah perlu menteri ponpes atau tidak ya dihitung dulu,” tuturnya.

Jokowi terbang ke Sumenep, Jawa Tengah untuk bertemu dengan jajaran ulama dalam sejumlah acara.

Kunjungan itu diawali dengan menghadiri peringatan Hari Perdamaian Internasional di Intitut Ilmu Keislaman Pondok Pesantren Annuqayyah.

Dalam rangkaian kunjungannya, Jokowi juga menjanjikan pemerintah bakal memberikan beasiswa kepada siswa berprestasi di pondok pesantren Sumenep, Jawa Timur.

Beasiswa menurutnya diperlukan untuk membangun Sumber Daya Manusia (SDM), terutama generasi muda Indonesia, supaya mampu bersaing dalam 15-20 tahun mendatang. 

Terlebih, persaingan global sudah di depan mata. Persaiangan bebas di ASEAN sendiri, kata Jokowi, terutama dalam hal lapangan pekerjaan sudah mulai terjadi sejak tahun lalu.

Sumber: [cnnindonesia.com].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here