Home Pengetahuan Puisi Gus Mus: Selamat Tahun Baru Kawan

Puisi Gus Mus: Selamat Tahun Baru Kawan

110
0
SHARE

Selamat Tahun Baru KawanKawan, sudah tahun baru lagiBelum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiriBercermin firman Tuhan, sebelum kita dihisab-NyaKawan siapakah kita ini sebenarnya?Muslimkah, mukminin, muttaqin,kholifah Allah, umat Muhammadkah kita?Khoirul ummatinkah kita?Atau kita sama saja dengan makhluk lain atau bahkan lebih rendah lagiHanya budak perut dan kelaminIman kita kepada Allah dan yang ghaib rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan Lebih pipih dari kain rok perempuanBetapapun tersiksa, kita khusyuk didepan masaDan tiba tiba buas dan binal disaat sendiri bersama-NyaSyahadat kita rasanya lebih buruk dari bunyi bedug,atau pernyataan setia pegawai rendahan saja.Kosong tak berdaya.Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu-ibuLebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai daripada lamunan 1000 anak pemuda.Doa kita sesudahnya justru lebih serius memohon enak hidup di dunia dan bahagia dis urga.Puasa kita rasanya sekadar mengubah jadual makan minum dan saat istirahat, tanpa menggeser acara buat syahwat, ketika datang rasa lapar atau haus.Kita manggut manggut, ooh…beginikah rasanya dan kita sudah merasa memikirkan saudara saudara kita yang melarat.Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilanya untuk kupon undian yang sia-siaKalaupun terkeluarkan, harapan pun tanpa ukuran upaya-upaya Tuhan menggantinya lipat gandaHaji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri, mencari pengalaman spiritual dan material, membuang uang kecil dan dosa besar.Lalu pulang membawa label suci asli made in saudi “HAJI”Kawan, lalu bagaimana dan seberapa lama kita bersama-Nyaatau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya,mensiasati dunia khalifahnya,Kawan, tak terasa kita semakin pintar, mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita paling tidak kita semakin pintar berdalihKita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuanKita berkelahi demi menegakkan kebenaran,mengacau dan menipu demi keselamatanMemukul, mencaci demi pendidikanBerbuat semaunya demi kemerdekaanTidak berbuat apa apa demi ketenteramanMembiarkan kemungkaran demi kedamaian pendek kata demi semua yang baik halallah sampai yang tidak baik.Lalu bagaimana para cendekiawan, seniman, mubaligh dan kiai sebagai penyambung lidah NabiJangan ganggu merekaPara cendekiawan sedang memikirkan segalanyaPara seniman sedang merenungkan apa sajaPara mubaligh sedang sibuk berteriak kemana-manaPara kiai sibuk berfatwa dan berdoaPara pemimpin sedang mengatur semuanyaBiarkan mereka di atas sanaMenikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiriKH Ahmad Mustofa BisriPuisi ini terdapat dalam buku Antologi Puisi Tadarus karya Gus Mus, terbitan Adicita Karya Nusa Yogyakarta, 2003.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here